Wednesday, 19 March 2014

Bertemu dan Berpisah

            “Kemarin kau cerita tentang aplikasi yang kau masukan di beberapa perusahaan?” Dean tiba-tiba membuyarkan ingatanku. Mataku rasanya tidak ingin lepas dari layar ponsel yang terus menunjukkan foto-foto lawas ku. Namun aku tidak begitu egois untuk mengabaikan pertanyaan Dean.
              Aku mengangkat daguku. Ternyata Dean sudah memasukkan laptopnya kembali kedalam tasnya. “Iya, beberapa lamaran.” Aku meletakkan ponsel pintarku ke atas meja di depanku. “Sudah ada yang direspon?” Dean mengambil satu lagi batang rokok berwarna putih dengan filter berwarna cokelat muda. “Belum, lagipula cuaca seperti saat ini tidak terlalu baik untuk berpergian jauh.” Aku mengangkat cangkir kopiku dan meneguknya. “Memang dimana saja?” Dean memperhatikan suasana caffe yang semakin ramai. “Jakarta, Bandung, Bali. Sebaiknya kau segera saja mencari pacar.”
                Dean hanya terkekeh. Kali ini pandangannya terarah ke meja disamping kami yang ditempati 4 orang wanita berpakaian minim. “Aku serius. Atau kamu mau menikmati malam minggu hanya sendirian? Jangan bertingkah seperti seseorang yang patut dikasihani begitu.” Aku menyandarkan mengambil tasku dan memasukkan ponsel ku kedalamnya. Hujan sudah mereda. Biasanya setelah menghabiskan rokok yang sedang dihisapnya Dean akan mengajak pulang.
                “Paling kan hanya setahun. Setahun itu 365 hari,dibagi 7 berarti...” Dean membuka aplikasi kalkulator di ponselnya. “Hanya sekitar 52 malam minggu. Aku bisa mengatasinya.” Lanjut Dean bangga akan penghitungan ponselnya. Aku mengerutkan dahiku. Bagaimana Dean bisa sangat percaya diri mengenai lamanya kepergianku dari Semarang.
                  Cuaca malam yang sangat dingin menemani perjalananku menuju rumah. Aku tidak ingat ada berapa malam minggu yang aku habiskan bersama Dean. Pilihan hanya dua, menghabiskan waktu sendiri dirumah atau pergi keluar bersama Dean untuk sekedar mengobrol atau mencari keramaian disudut kota. Sesuatu yang unik tapi akan sangat kurindukan jika aku benar-benar akan meninggalkan kota Semarang. Namun itulah hidup, ada pertemuan dan ada perpisahan. Fase berulang dalam kehidupanku yang mengajarkanku bahwa tidak ada yang kekal abadi di dunia ini.
                    Jika aku bisa meninggalkan Semarang setidaknya aku bisa mencari kehidupan yang baru di luar Semarang. Mencari pengharapan baru. Impian yang baru. Hingga bisa lari dari kenyataan. Kenyataan yang sedikit membuatku terkekeh jika menyadarinya. Aku hanya berlari dari bayang-bayang Anda. Aku belum bisa menghadapinya. Anda dan kekasihnya dan rencana pernikahannya. Hal-hal yang sedikit menggangguku.
Jangan menyalahartikan hal ini sebagai ketidaksukaanku pada kebahagiaan Anda. Bukan itu. Lagipula aku tidak memiliki wewenang untuk berpendapat mengenai hubungan mereka. Namun berada jauh dari jangkauan Anda mungkin dapat membuatku lebih tenang. Setidaknya itulah sebuah kemungkinan yang bisa aku ambil.


Pada akhirnya semua keputusan yang tidak dipikirkan secara matang akan membuahkan penyesalan. dan penyesalan bukanlah jalan satu-satunya yang bisa kita ambil. Karena diluar lubang penyesalan ada banyak sekali hal-hal baik yang menunggu untuk kita nikmati. Menunggu untuk menemani setiap langkah dalam hidup kita. Keluarlah dari lubang itu dan rasakan kehidupan yang benar-benar hidup. Kemudian jangan melakukan kesalahan yang sama lagi untuk memutuskan sesuatu. Karena hidup terlalu pendek bagi kita untuk mengulangi kesalahan yang sama.

Wednesday, 12 March 2014

Aku dan Anda

Sepiring nasi goreng sudah amblas masuk kedalam perutku. Aku ini tipe orang yang haus mata. Aku sering tidak tahan untuk membeli sesuatu yang menarik. Jika saja di dompetku ada lebih banyak uang pasti aku sudah memesan lebih banyak snack.
Aku terpaku melihat kembali foto jaman kuliah yang tersimpan di ponselku. Terkadang aku memposting beberapa foto di akun instagram ku untuk sekedar mengenang kebersamaanku dengan teman-teman kuliahku, atau teman-teman SMA ku. Ya pada akhirnya semua perjumpaan akan berakhir dengan perpisahan. Aku sudah sangat terbiasa dengan perpisahan. Bahkan dulu aku tidak mau berteman dengan siapapun karena aku sudah bosan memperkenalkan diriku dengan orang-orang baru. Memilih teman yang berkualitas dan semacamnya. Ayahku yang seorang pegawai BUMN tidak pernah setia pada satu kota. Beliau selalu berpindah-pindah dari satu kota ke kota lain nya. Tentu saja dengan membawa serta anak istrinya. Termasuk aku di dalamnya.
          Dean tengah asyik dengan laptopnya. Ini bukan sesuatu yang menyebalkan. Mungkin sedikit menyebalkan namun aku sudah terbiasa. Masih bagus aku membawa ponsel pintarku untuk ikut larut dalam kesenangan pribadi. Suatu waktu aku pernah hanya terdiam menemani Dean bergelut dengan laptopnya. Berselancar di dunia maya. Merasa bosan dan tidak betah namun tidak enak untuk mengajak pulang terlebih dahulu.
          Sepertinya aku bisa merasakan apa yang dulu dirasakan Anda terhadapku. Aku adalah seseorang yang kecanduan bermain di media sosial dulunya. Beberapa tahun lalu ketika aku menjalin hubungan spesial dengan Anda. Satu tahun setelah Anda putus dengan Frankie. Dan beberapa bulan sebelum aku menenggelamkan diriku dirumah Dean.
          Semasa kuliah aku sangat dekat dengan Anda. Hampir setiap hari aku menghabiskan waktu dengannya. Aku lebih banyak mengenal mahasiswa di fakultasnya daripada di jurusanku sendiri. Aku juga berkawan baik dengan teman-teman kuliahnya. Aku tidak pernah berpikir bahwa hubungan aku dan kawan-kawan Anda hanya sebatas formalitas karena aku dekat dengan Anda.
          Semua hubungan yang terasa canggung pada akhirnya harus diputuskan. Diputuskan untuk melangkah ke hubungan yang lebih nyaman, baik itu berpacaran atau memutus hubungan pertemanan. Sebuah pilihan yang menyesakkan. Namun untuk aku dan Anda sangat menyenangkan. Akan sangat sakit ketika perasaanku hanya bertepuk sebelah tangan. Lain ceritanya jika ternyata Anda menyukai pria lain. Dan aku bukanlah tipe laki-laki yang bisa dekat dengan beberapa wanita sekaligus.
          Begitulah aku dan Anda yang merasa nyaman dengan pribadi masing-masing. Kami akhirnya menjalin hubungan yang lebih serius. Ini hal baru bagiku untuk memiliki hubungan spesial dengan seseorang. Sebelumnya aku hanyalah sebuah sak tinju yang dijadikan pelarian seseorang yang sudah memiliki pacar. Setidaknya aku bisa belajar membina hubungan spesial dengan seseorang yang spesial.

10 hal tentang Anda yang membuatnya spesial:
1  . Anda bisa merubah harimu yang buruk menjadi asyik karena ia punya seribu satu ide untuk menghabiskan     waktu bersama.
2  . Anda selalu siap sedia menemani ngobrol lewat sms ketika kau sedang begadang mengerjakan tugas.
3  .Anda selalu mengingatkan untuk tidak melawan orang tua atau keluargamu. Ia membuatmu menjadi              seorang family-man.
4  . Anda punya bahasa yang unik saat berkirim pesan melalui ponsel dan tidak segan-segan menegurmu jika      pesan nya belum dibalas namun kau sudah update di media sosial.
5  .Anda punya caranya tersendiri untuk mendekatkan diri dengan keluargamu.
6  .Anda memiliki keluarga yang hebat yang membuatmu betah untuk menghabiskan waktu dirumahnya.
7  .Anda bisa meledak-ledak suatu waktu dan di waktu yang lain dia akan memasang wajah sendu yang            membuat kau ingin melindunginya.
8  .Anda bisa tenang dengan cepat setelah ia marah-marah meski ia tidak akan pernah melupakan                      kesalahanmu.
9  .Anda secara rutin memeriksa ponselmu dari kotak masuk, kotak keluar, daftar kontak, home facebook        maupun timeline twitter tanpa menanyakan apa-apa kepadamu sesudahnya.
10.Anda bisa membuatmu jatuh hati padanya jika ia menginginkannya.

           Mungkin terdengar sedikit aneh ketika aku mengingat siapa saja orang yang pernah menjadi pacar Anda. Namun kemudian tidak terdengar aneh lagi ketika aku sendiri yang menjalaninya. Aku mengalami berbagai moment tak terlupakan dengan Anda. Mungkin dia memang tipe orang yang spontan. Dia bisa tertawa, kemudian tiba-tiba marah, kemudian tiba-tiba bersedih, kemudian tiba-tiba muncul di depan rumahmu dengan keadaan basah kuyup. Satu hal yang sangat aku syukuri dari diriku. Aku bisa bersabar. Namun manusia pun bisa hilang kesabaran kemudian melakukan kesalahan.
            Seperti fase dalam kehidupan setiap manusia yang terus berulang. Pertemuan dan perpisahan. Begitulah aku mengakhiri hubungan spesial ku dengan Anda. Dan dunia setelah itu hanyalah tempatku bersembunyi dari perasaan yang aneh namun tidak ingin disalahkan. Saat itu umurku baru belasan, aku masih memiliki ego yang besar untuk mengakui sebuah kesalahan. Yang justru saat ini aku sesali.
            Aku menyesal bukan karena mengakhiri hubungan dengannya. Aku menyesal karena aku terlalu dini memulai sebuah hubungan serius dengan Anda. Jika saja aku lebih bersabar dan tidak termakan oleh perasaan masa mudaku. Pasti saat ini aku tidak akan menghabiskan malam yang dingin ini bersama Dean di sebuah caffe. Mungkin juga aku tidak akan duduk terdiam memandangi kehidupanku yang tidak semenyenangkan cerita teenlit.
            Setelah hubungan ku dengan Anda mulai meregang Dean adalah teman terbaik ku saat itu. Dean tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan aku dan Anda. Aku jarang membicarakan hubungan asmara ku dengan Anda pada Dean. Aku merasa masih canggung untuk menceritakan kisahku blak-blakan pada Dean.
Suatu hari Dean pernah menanyakan sejarah ku jadian dengan Anda. Waktu itu ia main kerumahku dengan membawa sebotol besar softdrink dan martabak. Ia minta dibuatkan tugas kuliah. Hari itu adalah seminggu pasca aku dan Anda jadian. Sebenarnya aku juga sanksi akan tujuannya main kerumahku. Pasalnya tugas kuliahnya tidak begitu susah, namun ia terus menanyakan ini itu kepadaku.
             Aku masih belum terbiasa bertukar cerita dengan Dean waktu itu. Jadilah aku malu-malu menjawabnya. Aku bercerita tidak begitu detail tentang bagaimana aku bisa menjalin hubungan yang spesial dengan Anda. Walau Dean tampak tidak begitu puas dengan jawabanku tapi menurut Dean, aku dan Anda sangat serasi bersama. Ia juga bilang bahwa hal ini bisa ditebaknya. Ya dia bisa menebak bahwa aku dan Anda akhirnya akan pacaran. Entah karena feeling nya kuat atau itu hanya aksi sok tahu nya saja.
             Dari Dean aku kembali ke Dean. Jika awal pacaran dengan Anda aku masih sangat tertutup pada Dean, lain halnya ketika hubungan spesialku itu berakhir. Dean memberikan dukungan penuh atas apapun keputusan ku saat itu. Sebenarnya Dean menyuruhku untuk lebih memikirkan keputusan ku lagi, namun aku sudah menyerah. Menyerah pada amarahku yang sepertinya tidak bisa mereda jika bertemu dengan Anda. Menyerah pada keegoisanku yang rela membuang jauh-jauh cinta dan persahabatan demi kemarahan sesaat.
Setelah hubunganku dan Anda benar-benar berakhir aku pun benar-benar menghindar dari Anda. Sesuatu yang tidak pernah ku akui. Hal yang membuatku seperti orang jahat dalam drama ini. Namun sebenarnya aku memiliki alasan kuat untuk melakukan itu. Aku sudah berikrar pada diriku sendiri bahwa aku tidak akan menjilat kembali air ludahku sendiri. Sekali hubugan itu berakhir maka pantang bagiku untuk kembali ke pelukan Anda lagi.
             Bisa disimpulkan bahwa, jika saat itu aku tidak menghindari Anda sudah pasti aku akan menjilat ludahku sendiri. Ya seperti yang hampir saja ku lakukan akhir-akhir ini. Jika saja status Anda bukanlah milik orang lain.
            Pada saat itu, aku berpikir putus adalah hal sakral yang merupakan jurus terakhir yang harus diambil. Jika sebuah hubungan sampai pada taraf putus hal itu berarti ada sesuatu hal yang tidak bisa diselesaikan oleh kedua belah pihak. Dan jika sudah ada kata putus maka aku tidak mengenal ada kata balikan. Karena apa? Pasti suatu saat akan putus lagi jika menemui masalah yang sama. Karena jika masalah itu dapat diatasi pasti tidak akan pernah ada kata putus diantara kami.
            Pemikiran itulah yang membuatku terjebak saat ini. Terjebak pada perasaan yang masih ada namun karena gengsi, perasaan itu harus aku tutupi rapat-rapat. Karena itu jugalah aku memilih menghabiskan waktuku untuk selalu berkarya. Menyibukan diri dengan jadwal foto dengan Dean, dan tenggelam dalam proses belajar Dean. Tujuannya agar aku bisa melupakan Anda dengan cepat.
             Aku yakin jika waktu itu aku masih setia bertemu dengan Anda setiap hari. Atau sekedar berbalas pesan dengannya. Pasti aku sudah kembali kedalam pelukannya. Karena Anda memiliki sepuluh hal yang membuatnya spesial dimataku.

Dan sepuluh hal itu tidak akan terhapus dengan cepat. Dan aku yakin Anda juga punya sepuluh hal tentang diriku yang membuatnya tidak pernah bisa melupakanku:
1  .Aku adalah pria yang dibesarkan dengan baik.
2  .Aku tidak pernah memeriksa ponselnya dari kotak masuk, kotak keluar, panggilan keluar, panggilan              masuk, daftar kontak, hingga update an media sosial.
3  .Aku bisa diandalkan dalam hal menjemput dan mengantarkan.
4  .Aku bisa memasak.
5  .Aku pintar menulis pesan yang kocak.
6  .Aku peredam api yang baik, terutama api amarah yang dikirimkan Anda lewat SMS.
7  .Aku tidak pernah minta macam-macam secara fisik padanya.
8  .Aku bukan tipe orang yang suka mengeluh, apalagi masalah hubungan.
9  .Aku bisa membantunya membuat tugas kuliahnya.
10.Aku suka membawakan makanan kesukaan keluarganya saat berkunjung kerumahnya.


          Aku sempat hanyut dalam kehidupanku sendiri selama setahun lebih. Menolak semua ajakan yang bisa mempertemukanku dengan Anda. Hingga suatu waktu aku memberanikan diriku. Karena aku tidak bisa terus mengisolasi diriku.

Sunday, 9 March 2014

Anda 2

Pagi ini aku berangkat lebih pagi. Kali ini tidak dengan seragam putih abu-abu, melainkan dengan celana jeans sepatu berwarna dan kemeja lengan pendek yang lapisi dengan cardigan berwarna biru muda. Langit yang begitu cerah mengantarkan aku pada keceriaan. Setiap pagi tanpa terkecuali aku selalu mengarahkan stang motorku ke rumah Dean. Entah suatu kebetulan atau memang takdir aku, Dean, dan Fendy masuk di universitas yang sama. Ternyata 3 tahun belum cukup untuk kami. Namun kali ini ditambah dengan kehadiran Sarah dan Anda.
Matrikulasi dilaksanakan pada awal kuliah. Sebelum ospek berlangsung. Bahkan sebelum hasil tes ujian mandiri di universitas negeri diumumkan. Memang terlalu dini. Maklum Universitas yang kami masuki adalah universitas swasta.
Kami selalu berangkat bersama ke kampus atau lebih tepatnya calon kampus kami. Jadi kami akan berkumpul di rumah Dean untuk selanjutnya berangkat bersama. Mengapa rumah Dean? Karena Dean paling susah bangun pagi. Kami harus sampai dirumahnya terlebih dahulu baru Dean akan bangun, berkemas, dan berangkat. Mandi adalah hal tabu baginya. Apalagi di pagi hari.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan maksimum. Pagi ini kami agak terlambat. Sarah terlambat bangun dan kami harus menunggu beberapa menit. Sarah tidak akan berangkat kemanapun sebelum ia selesai berdandan. Walau gempa bumi sekalipun dia akan mementingkan penampilannya sebelum akhirnya berlari menyelamatkan diri. Itulah wanita.
Sesampainya di kelas aku langsung menyalakan komputer di depan ku. Dosen berbadan kurus kering sudah berdiri di depan kelas. Ia menggunakan seragam dosen, atasan kemeja putih dan bawahan celana biru tua. Beruntungnya aku karena ia belum mulai mengabsen kami.
Fendy mengambil jurusan yang sama dengan Sarah. Ekonomi. Jurusan yang aku inginkan juga tapi tentu saja tidak disini. Melainkan di universitas negeri. Satu-satunya alasan ku masuk ke universitas ini adalah karena jurusan yang kuambil tidak ada di tempat lain. Jadi aku merasa mantap menghabiskan 4 tahun ku nanti di kampus dengan atap biru ini. Sedangkan setauku Fendy, Dean, Sarah, dan Anda sedang menunggu pengumuman ujian mandiri universitas negeri. Jadi bisa dipastikan kalau mereka semua diterima disana, aku akan sendirian di kampus ini.
Dunia universitas sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan. Aku belajar untuk menjadi manusia sosial yang baik dan benar semasa sekolah. Aku pun berusaha mencari teman di universitas. Namun usaha ku itu gagal. Setiap orang baru yang aku ajak kenalan hanya berakhir pada pertanyaan dulu sekolah dimana. Setelah itu senyap. Dan mereka seolah tidak mengenalku. Ironis sekali memang.
Setelah kelas berakhir aku buru-buru mengambil tas ku. Kelas di jurusan ku selalu berlangsung lebih lama. Mungkin ini adalah pengaruh dari dosenku yang senang memberikan ujian kejutan. Hampir setiap hari aku mengerjakan ujian dadakan. Sedangkan ke empat kawanku itu tidak pernah sama sekali.
Biasanya Fendy, Dean, Sarah, dan Anda menungguku di tangga buntu dekat kantin. Dikatakan tangga buntu karena tangga itu tidak menuju kemana-mana. Tembok yang mungkin dulu ada pintunya kini telah berganti dengan lift. Aku tidak mau membuat mereka menunggu lebih lama karena kami sudah merencanakan akan makan bersama siang ini.
Aku melesat menuruni anak tangga menuju kantin. Tidak susah bagiku untuk pergi dengan cepat dari kelas karena aku tidak kenal siapa-siapa. Jadi tidak ada orang yang mengajak ku mengobrol setelah kelas usai.
Sedikit ngos-ngos an aku sampai juga di tangga buntu. Dean dan Fendy sudah asyik menghisap rokok sembari menungguku. Posisi mereka seperti dua karakter di komik-komik jepang. Dean duduk di anak tangga dan Fendy berdiri disampingnya menyender pada pegangan tangga yang terbuat dari besi.
“Anda dan Sarah?” aku mendekati mereka. Kedua orang yang sampai saat ini mau berkawan denganku. “Mereka beli minum di kantin. Kita mau makan dimana?” Fendy menarik sebatang rokok berwarna putih dari bibirnya. Asap putih mengepul dari dalam mulutnya. “Terserah.” Aku duduk di anak tangga dibawah Dean. “Pengumuman ujian mandiri itu hari ini kan?” aku menoleh ke belakang melihat Dean dari sudut 45 derajat dibawahnya.
“Iya. Makanya aku tidak sabar pulang ke rumah untuk mengeceknya.” Jawab Dean membuang rokok kreteknya. Sebenarnya walaupun aku tidak ikut ujian apa pun untuk masuk universitas negeri, aku ikut penasaran melihat pengumumannya. Pasalnya pengumuman itu akan menentukan nasibku di kampus ini. Nasib menjadi orang tak berkawan seperti dulu lagi atau menghabiskan 4 tahun ke depan dengan kedua laki-laki de belakangku dan kedua wanita yang tengah membeli minuman di kantin.
Aku belajar bahwa hidup bukan sekedar lulus SMA. Kenyataan nya aku harus bekerja sembari kuliah untuk memenuhi kebutuhanku. Lulus SMA adalah euforia sesaat. Setelah itu kita sebagai remaja dewasa akan diberikan berbagai pilihan.
Ada yang karena keinginan orang tua harus meninggalkan cita-cita nya dan kuliah di jurusan yang baik menurut orang tua nya. Ada yang harus menggantungkan hidup di universitas dari bea siswa. Atau bekerja paruh waktu seperti yang aku lakukan. Dan ada juga karena kondisi keuangan keluarga harus rela mengakhiri pendidikannya sampai SMA saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
Aku termasuk orang yang beruntung karena aku memiliki kesadaran penuh akan potensi ku. Maksudnya aku bisa meyakinkan orang tua ku bahwa jurusan yang aku inginkan nantinya bisa membuat mereka bangga. Setidaknya itulah yang aku gadang-gadang kan ketika aku mengajukan proposal untuk berkuliah.
Sebenarnya keputusan untuk mencari kerja paruh waktu adalah inisiatifku. Aku merasa sudah saatnya aku meninggalkan posisi nyamanku di ketiak orang tua. Mungkin mereka bisa mendukung biaya kuliahku saja. Tapi aku harap biaya hidupku bisa aku tanggung sendiri. Pikiran yang terlalu lugu untuk pemuda berumur 18 tahun sepertiku.
Keceriaan di kampus kemudian berakhir saat matahari turun dari peraduannya. Aku sudah ada di tempat bekerja saat itu. kembali serius dan melayani setiap pembeli dengan ramah. Aku bekerja sebagai kasir di salah satu pusat perbelanjaan. “Selamat malam.” Sapaku terhadap setiap pembeli yang menyodorkan keranjang belanjaan nya padaku. Aku belum terlalu lama bekerja disini namun aku merasa betah. Aku bekerja setiap tidak ada kuliah. Supervisor memberikan kelonggaran khusus buat ku yang bekerja sambil kuliah.
Bekerja menjadi kasir bukanlah hal yang mudah. Setidaknya aku harus berdiri terus selama jam kerja. Kecuali istirahat makan selama 1 jam, dan istirahat sholat. Selebihnya aku harus menjaga senyum ku tetap konsisten. Aku sangat tidak diperbolehkan salah menghitung uang kembalian. Dan satu lagi, aku harus hafal semua promo dan diskon yang berubah setiap hari.
Malam itu pembeli tidak sebanyak biasanya. Hari ini adalah hari senin dan berada dipertengahan bulan. Jadwal sepi pengunjung dan berarti jadwal kami sebagai kasir bisa bersantai sejenak. Biasanya waktu seperti itu aku habiskan untuk menghitung voucher dan struk ATM agar nanti aku bisa pulang cepat.
Sekeranjang penuh buah-buahan datang ke mejaku. Aku langsung menyimpan semua voucher dan struk ATM di bawah mesin kasir. “Selamat malam.” Aku menyapa sang pembeli dengan senyum tersungging di pipiku. “Malam Sam.” Sebuah suara wanita yang sangat familiar terdengar agak parau. Aku mengangkat daguku dan mendapati Anda berdiri di depan meja kasir dengan hanya menggunakan daster tidur semata kaki dilapisi cardigan wol tebal berwarna krem. Matanya sembab, rambutnya pun tidak teratur rapi.
“Kau darimana?” tanganku tidak berhenti mengeluarkan buah-buahan dari keranjang Anda dan menggesek barcodenya ke scanner yang ada di sampingku. “Rumah. Aku tidak diterima di universitas negeri.” Ucapnya kemudian. Suaranya sedikit mengganggu. Ia tidak seceria biasanya. Mungkinkah hasil pengumuman ujian itu telah membuatnya begitu sedih.
“Aku ingin cerita banyak.” Ucapnya lagi sembari membuka dompet berwarna pink yang ia genggam di depan dada nya. “Aku akan selesai 1 jam lagi. Kau tunggu aku di coffe shop atas saja. Aku akan segera  menyusul.” Aku memasukkan semua barang yang dibeli Anda ke dalam plastik dan membacakan total harganya. Anda mengangguk dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya. Aku sudah begitu tidak sabar mendengarkan ceritanya.
1 jam yang terasa begitu lambat akhirnya berlalu. Aku segera memberikan setumpuk uang dan lembar rekap kepada kepala kasir. Tanpa banyak bicara aku langsung mengambil tasku dan tergesa menuju coffe shop yang letaknya berada di atas swalayan tempatku bekerja.
Anda duduk di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan jalan raya di depan gedung pusat perbelanjaan itu. coffe shop ini buka selama 24 jam, jadi Anda bisa cerita banyak tentang kegundahannya. Aku menghampirinya. Music jazz terdengar lirih menemani langkahku menuju meja Anda.
Di depannya terdapat cangkir putih dan sebuah vas bunga. Anda memandang lurus keluar jendela. Mengawasi mobil dan motor yang lalu lalang di depan pusat perbelanjaan itu. “Anda, kau baik-baik saja?” aku menggeser kursi di depan Anda ke belakang. Anda mengalihkan perhatiannya dari hiruk pikuk jalanan diluar sana. Ia memandang ku yang sedikit berkeringat akibat habis berlari dari swalayan di bawah. Seorang waiter segera mendatangiku. Sebelum ia sempat menyodorkan buku menu aku langsung memesan secangkir cokelat. Sang waiterpun menarik kembali buku menu yang hendak ia berikan dan pergi menjauh ke arah bar.
“Ini gara-gara kamu gagal masuk ujian mandiri itu?” aku mendekatkan badanku ke arah Anda. Sambil terus mengatur pernafasanku yang belum begitu normal. Anda meletakkan kedua telapak tangannya ke cangkir dihadapannya. Matanya yang sembab kembali berkaca. Ini adalah salah satu hal yang kubenci ketika mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka. Terkadang mereka bercerita sambil menangis. Hal itu sangatlah menarik perhatian orang banyak, sehingga dikira orang-orang akulah si jahat dalam drama itu.
“Hubunganku dengan Frankie tidak berjalan dengan baik.” Anda memberi pembukaan yang sedikit mengagetkanku. Aku pikir kekacauannya malam ini disebabkan oleh kegagalannya masuk universitas negeri. “Dia meminta hal yang tidak bisa aku berikan. Aku takut hubungan kami akan berakhir.” Anda melanjutkan kata-katanya lagi. Kedua telapak tangannya masih menempel pada cangkir di depannya.
“Hal yang tidak bisa kau berikan? Terus Frankie tetap memaksa?” Aku jadi penasaran akan cerita Anda yang sedikit misterius. Anda mengangkat cangkirnya dan meneguk cokelat didalamnya perlahan. Aku menunggu kelanjutan cerita Anda sambil berpikir yang macam-macam. Apa yang mungkin diinginkan Frankie tetapi tidak bisa diberikan Anda.
“Menikah.” Anda mengucapkannya dengan lirih. Sekarang keluar air dari mata Anda yang berkaca-kaca. Aku terdiam sejenak. Aku sendiri bingung respon bagaimana yang harus aku berikan. Seorang waiter datang ke meja kami dengan secangkir cokelat panas dengan asap yang mengepul. Aku masih terdiam tanpa menghiraukan ucapan sang waiter. Mataku tertuju pada wajah bulat Anda yang tidak terlihat seperti biasanya.
“Aku tahu pasti kau berpikir kalau itu gila, tapi putus dengan Frankie akan membuatku semakin gila.” Anda menyeka air matanya yang sebenarnya sudah menetes membasahi cardigannya. “Iya. Maksudku untuk remaja belasan tahun di kota besar seperti ini itu terdengar gila. Lalu setelah kau menolaknya?”Anda menoleh pada jendela kaca di sebelah
kirinya. Embun malam yang turun membuat pemandangan keluar jendela menjadi buram. “Dia belum menghubungiku lagi. Firasatku kami akan putus.” Anda menatap lurus keluar jendela. Entah apa yang sedang ia lihat. Pohon beringin diseberang jalan ku rasa. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi kayu yang aku duduki. Tanpa sadar aku menghembuskan nafas dengan berat. Yang membuat Anda menoleh padaku.
“Bagaimana menurutmu?” mendengar pertanyaan Anda itu aku langsung berpikir dengan cepat. Aku tidak punya jawaban bijak atas cerita Anda yang satu ini. Lagipula selama ini Anda tidak pernah bercerita apapun padaku. Bagaimana dia dan Frankie jadian pun aku tidak tahu. Kemudian sekarang ia memberikan aku pertanyaan seberat ini. Namun tidak mungkin juga aku mengabaikannya. Aku terlalu baik untuk melakukannya.

“Ya kalau Frankie masih memaksakannya, lebih baik kau mengorbankan hubungan kalian saja.” Aku memberikan jawaban seadanya. Ekspresi Anda tiba-tiba berubah. Ia mengerutkan dahinya. Mungkin kata-kataku agak sulit dicerna. Atau mungkin juga dia akan marah setelah mendengar jawabanku. Namun itu adalah jalan satu-satunya. Lagipula Anda bisa mendapatkan seseorang yang bisa menggantikan posisi Frankie nantinya. Aku yakin Anda pasti bisa cepat melupakan Frankie karena aku sudah mengenalnya dari SMA. Setelah Fendy, kemudian Frankie, setelah itu mungkin teman kuliahnya yang mungkin akan menarik hati Anda.

Saturday, 8 March 2014

Anda

Jadwal ujian nasional sudah dibagikan. Aku agak khawatir dengan kesan menakutkan yang digadang-gadangkan mengenai ujian nasional. Sebenarnya aku bukannya tidak percaya diri, namun pihak sekolah dan media seolah membuat ujian nasional seperti jembatan shirotolmustaqim. Jembatan di akhirat sana yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang beriman dan bertaqwa. Jika gagal melewatinya. Kau akan terjatuh dan disiksa di neraka. Seperti itulah kesan yang dibawa ujian nasional.
Siang ini aku masih belum beranjak dari sekolah. Semua kelas sudah sepi kecuali beberapa sudut yang menyisakan pasangan muda mudi. Aku duduk di depan kelas di temani Anda, Frankie, dan Rahmi. Akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu berempat. Selain Anda dan Frankie sekarang sudah resmi berpacaran. Ini juga masa-masa terakhir kami menikmati status pelajar SMA. Seminggu kedepan tidak mungkin kami bisa bermain.
“Kalian mau ngapain setelah lulus sekolah?” Frankie duduk tepat disebelah Anda. Sudah beberapa bulan ini mereka berpacaran. Tepatnya beberapa minggu setelah mereka menjenguk ku. “Kuliah.” Jawabku mantap. Aku senang karena aku merasa sudah mendapatkan universitas dan jurusan yang sesuai dengan minatku. Hebatnya lagi orang tua ku mendukung keinginanku ini.
“Anda?” Frankie melirik kekasih disampingnya itu. “Kuliah juga, semoga diterima di universitas negeri.” Anda menengadahkan telapak tangannya seolah berdoa. “Amien. Rahmi?” Frankie menoleh ka arah Rahmi yang berdiri tak jauh dari kami. Bersender pada sebuah pohon sambil menatap paving halaman sekolah. “Semoga bisa kuliah. Atau kalau tidak diterima di universitas negeri mungkin akan kerja dulu setahun.” Ia tersenyum kecil. Seolah berusaha menghibur hatinya sendiri. Dan tentu saja berkata pada kami bahwa dia baik-baik saja.
“Kau sendiri Frankie?” aku langsung mengalihkan perhatian. Tidak ingin terjebak dalam rasa simpati pada Rahmi. “Entahlah. Aku ingin menyusul kedua orang tua ku dulu di kalimantan.” Ucapnya dengan malu-malu. Frankie harus tinggal sendiri setahun terakhir ini karena ayahnya dipindahtugaskan ke kalimantan. Pulau yang jauh dari tempat kami sekarang.
“Aku tidak bisa membayangkan kita akan segera jadi anak kuliahan. Setidaknya aku bisa pulang kapanpun aku mau.” Anda menunjukkan senyum terbaiknya. Seolah hidup hanya persoalan lulus tidaknya kita dari sekolah menengah atas. Frankie meliriknya galak. Aku hanya tersenyum melihat reaksi Frankie. Mana mungkin bisa pulang seenaknya. Frankie kan tipe cowok posesif. Yang baru aku ketahui setelah Anda bercerita tentang masalah mereka berdua.
“Jadi tidak ada yang mengantarkan aku pulang ke rumah. Padahal aku belum bisa mengendarai sepeda motor.” Rahmi memandangku sedikit mengiba. Aku hanya mengerutkan dahiku. Sementara Anda dan Frankie malah batuk-batuk tidak jelas. Aku pun bingung. Aku tidak mau disangka menikmati perjalanan dari sekolah ke rumah Rahmi yang bisa dibilang jauh. Atau tidak mau disangka suka pada Rahmi. Dan tidak mau Rahmi menyalahartikan kebaikanku.
“Aku cuma kasihan jika kau pulang malam-malam sendirian. Selain angkutan sudah jarang, anak-anak juga selalu menyuruhku mengantarkanmu.” Kata-kata itu pun keluar begitu saja. Tapi begitulah aku, aku bisa melakukan apa saja demi nama persahabatan. Aku pernah memberikan buku cerita karanganku agar Dean punya bahan karya sastra di kelas. Aku juga pernah menerobos hujan deras hanya untuk mengambil kue ulang tahun untuk Frankie. Jadi kebiasaan mengantar Rahmi ke rumah bukanlah sebuah hal yang spesial bagiku.
“Iya, aku juga tahu, itu hanya bercanda.” Rahmi kembali menatap paving dibawahnya. Aku sedikit lega bisa menghalau kesalahpahamannya. Karena saat itu aku sudah terlanjur menyukai seseorang. Namun apa mau dikata, aku terlambat menyadarinya. Aku sadar ketika dia telah berada di sisi orang lain.
Di depanku sekarang. Persis berdampingan dengan Frankie si manusia culun yang mengucapkan huruf S dengan lidah yang digigit diantara giginya. Anda. Sesosok manusia yang ternyata selalu ada di sisi ku. Sesosok manusia yang tidak tampak walaupun dia berdiri diantara kedua alisku.
Anda banyak memberikan ku harapan. Aku merasa nyaman berada di sampingnya. Dan dia membuatku menjadi diriku. Namun begitulah manusia. Tidak akan pernah puas akan sesuatu. Begitu pula Anda yang tidak puas dengan hubungan pertemanan kami. Dia membutuhkan seseorang yang lebih dari teman. Aku tidak bisa memberikan itu. Karena aku sendiri malah terlena dengan kisah cinta sepihak ku dengan Gigi. Kisah itu membutakan ku dari kehadiran Anda.
Bagaimana seringnya aku dan Rahmi berboncengan, tidak bisa dibandingkan saat dengan Anda. Mulutnya yang banyak bicara. Melontarkan pertanyaan dan bergurau. Membuatku tidak sadar akan lamanya waktu berjalan. Dia yang membawaku keluar dari dunia keseriusan yang tinggi. Dia menanggalkan kelakuan manusia culun ku di sekolah. Dia mengantarkanku kepada dunia.
Anda lah orang nya. Yang membuat aku tertarik. Mengenal satu persatu anggota keluarganya. Merelakan ban motorku bocor hanya untuk memenuhi undangan main kerumahnya. Itu semua karena aku suka padanya. Selama ini aku tinggal dibelahan bumi lain. terkungkung dalam kesepian dan kisah sedih. Mengasihani diriku sendiri yang tidak beruntung di dunia ini. Yang gagal mendapatkan cinta pertamanya. Dan melihatnya bahagia dengan orang lain.
Hal itu membuatku sadar akan kehadiran Anda. Teman wanita nomer satu dihatiku. Dan kini sudah dimiliki oleh mantan teman sebangku ku. Pahit memang. Namun ini lah hidup. Jika manis maka disebut permen. Jika indah maka akan disebut pelangi.

Satu pertanyaanku mengenai Anda. Pertanyaan yang mungkin sedikit kasar. Pertanyaan tidak baik mengenai hubungannya dengan Frankie. Kapankah hubungan itu akan berakhir. Sudah banyak cerita Anda mengenai kejelekan Frankie namun mereka masih terlihat bersama sampai sekarang. Bahkan dihadapanku. Mereka tersenyum bahagia, melihat satu sama lain dengan kegembiraan. Tanpa menghiraukan bahwa aku ada disana. Bahkan Rahmi pun ada di sana. Walau nampaknya ia lebih menikmati paving yang ada di seluruh halaman sekolah ini.

Dean

Hujan tiba-tiba mengguyur kota Semarang. Aku dan Dean masih setia menghabiskan minuman pesanan kami masing-masing. “Hujannya deras sekali. Aku jadi ingin memesan makanan.” Aku mengambil buku menu yang tergeletak di depanku. Tertindih 2 ponselku yang kuletakkan sejajar. “Kau mau pesan makan juga?” aku membolak balik buku menu ditanganku.
Dean mengamati layar laptop dengan serius. Tangan kanan nya menggerakkan mouse yang baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Aku mengabaikannya. Kupanggil pelayan yang masih berdiri di dekat tangga masuk. Dengan segera ia menghampiri meja kami sembari merogoh sesuatu di kantong clemek nya.
“Aku pesan nasi goreng ya, tidak pedas. Kau Dean?” aku melayangkan pandanganku pada Dean. Ia masih terdiam seperti tidak mendengarku. “Itu dulu aja mas. Sama segelas air putih ya.” Aku menaruh kembali buku menu ke atas meja. “Eh, aku mau onion ring mas.” Dean berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
Setelah si pelayan pergi aku memajukan badanku ke meja. “Kau sedang apa?” ku intip layar laptop Dean dari atas. “Oh. Hanya memperbaiki beberapa foto nikahan kemarin.” Dean masih fokus pada layar di depannya. Nampaknya kali ini bukan aku saja yang merasa tidak nyaman. Dean pun merasakan hal yang sama. Sehingga dia lebih memilih berkutat dengan laptopnya daripada mendengarkan keluh kesahku.
Sudah 3 tahun terakhir ini aku dan Dean menjalin hubungan baik. Tidak ada hal yang tidak kami ketahui satu sama lain. Kecuali hal-hal pribadi seperti seberapa sering kami melakukan onani. Seberapa besar ukuran kelamin kami. Atau hal-hal semacam itu.
Jika masalah dengan wanita. Kami selalu antusias membicarakannya. Seperti dulu. 2 tahun yang lalu. Ketika Dean datang ke rumahku malam-malam dengan alasan ingin diajari cara mengedit foto. Padahal aku tahu sebenarnya ada yang ingin dia bicarakan. Tidak lebih dan tidak kurang mengenai seorang wanita.
Saat itu Dean punya pacar yang lumayan cantik. Ia datang kerumahku dan menunjukkan foto pacarnya. Seorang wanita berambut panjang dan tinggi kurang lebih Dean. Ia memintaku mengajarinya untuk mengedit foto tersebut dengan software komputer. Dengan senang hati aku kabulkan permintaan Dean itu.
Selagi aku sedang asyik mengedit foto tersebut tiba-tiba Dean bercerita. Ia menceritakan awal mula bertemu pacarnya. Sesuatu yang sesungguhnya tidak aku ketahui. Walaupun kami sudah berkawan cukup lama, namun Dean dan aku selalu memiliki batasan. Dia sudah memiliki terlalu banyak teman untuk diajak sharing. Dan aku bukan salah seorang diantaranya.
Tapi malam itu semua batasan yang menjulang diantara kami menghilang. Runtuh begitu saja. Entah karena ia sudah tidak memiliki teman yang bisa diajak sharing atau ia baru menyadari bahwa aku juga temannya. Namun itu semua bukanlah alasan bagiku untuk mengabaikan setiap detail ceritanya.
Tidak cukup satu malam ia bercerita. Ternyata ia memiliki banyak cerita yang aku tidak tahu. Begitu pun aku yang memiliki banyak gurauan yang membuatnya terpingkal. Hingga suatu hari saat aku sedang main kerumahnya. Cara bicaranya terdengar lain dari biasanya. Akhir-akhir ini Dean memang sering mengeluhkan atas kisah cintanya. Tentang sang pacar yang mempermasalahkan hubungan jarak jauh antara mereka.
Aku sempat menanyakan pada Dean akan kelangsungan hubungan mereka. Namun Dean tampak tidak semangat membahas masalah itu. Seperti ketika aku sedang bermain laptop dikamarnya. Ia terus memegangi ponselnya. Mengetik pesan kemudian terdiam lama menunggu balasan dari pesannya. Begitu terus selama berulang-ulang. Hingga akhirnya ia beranjak mengambil telepon rumahnya.
Aku tahu sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada Dean. Pada kawan ku yang duduk beberapa meter di belakangku. Aku mencoba mengabaikannya dan terus melihat layar laptop. Namun mata dan telinga tidak mungkin bertemu. Aku menguping pembicaraan Dean dan pacarnya. Dean mengambil telepon rumah untuk menghubungi sang pacar. Sesuatu yang gawat sedang terjadi sehingga Dean merasa perlu untuk berbicara langsung dengan pacarnya.
Aku tidak menyangka sebelumnya kalau ternyata Dean adalah orang yang lembut. Dia bisa kasar pada aku atau teman-teman kami yang lain, tapi ternyata tidak dengan pacarnya. Walaupun dalam keadaan darurat sekali pun. Ia berbicara dengan lembut dan suara yang terdengar berbeda. Baru sekali itu aku mendengar sisi lain Dean.
Beberapa kata seperti kenapa, kemudian, oke, maaf, pikirkan sekali lagi terdengar beberapa kali dari pembicaraan mereka. Aku yakin itu adalah akhir dari cerita cinta Dean dengan pacarnya. Aku berhenti menggerakkan scroll pada mouse. Aku beranjak dari tempat duduk ku dan mendekat pada Dean. Jika kami berdua adalah wanita sudah pasti kami akan berpelukan.aku sudah pasti akan menenangkan nya yang menangis tersedu-sedu.
Namun kami laki-laki. Dean punya cara sendiri untuk menunjukkan kekecewaannya dan aku punya cara sendiri untuk menghiburnya. Aku tahu bagaimana perasaan Dean saat itu. Mengingat aku juga baru saja mengakhiri hubungan cintaku dengan Anda beberapa bulan yang lalu. Disitulah kami, dua pemuda patah hati yang sedang menjalani kehidupan cinta yang kurang menguntungkan.
“Apa sedikit pun kau tidak tertarik untuk mendekati Bella? Kalian terlihat sangat cocok.” Aku membuka pembicaraan baru berusaha mengembalikan mood Dean untuk mengobrol. “Aku tidak memiliki rasa apa-apa Sam.” Dean selalu merasa terganggu jika aku menjodohkannya dengan Bella. Tidak hanya aku, kawan-kawan yang lain pun setuju jika mereka bersama. Dean dan Bella maksudku.
“Tapi kalau kalian sedang bersama kau terlihat menikmatinya.” Aku menyeruput kopi dari dalam cangkirku. Kopi itu sudah dingin. Namun itulah kopi, tidak mengurangi sedikitpun kenikmatan ketika meneguknya. “Seperti nya aku biasa saja. Kau saja yang melebih-lebihkan.” Nada suara Dean terdengar kesal. Tampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan Bella. Salah seorang teman kami dari SMA yang selalu jadi korban penyiksaan Dean, Fendy, dan aku tentu saja.
“Fitri? Bagaimana dengan Fitri. Dulu kalian sudah sangat dekat.” Aku mencari sosok wanita yang lain yang kuanggap bisa mengembalikan mood Dean. “Tidak, Fitri memilih bersama pacarnya yang sekarang. Ia menolak ku Sam, kamu tidak ingat?” Dean mengambil lagi sebatang rokoknya. Akhirnya ia bisa meninggalkan keseriusannya dengan laptopnya.
“Kamu juga aneh Dean. Di usia seperti sekarang masih saja menyatakan cinta lewat telepon.” Aku ingat cerita Dean tentang usahanya menjadikan Fitri pacarnya. Fitri itu teman kami di SMA juga, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Berbeda dengan Dean yang memiliki teman banyak di SMA.
Dean hanya terkekeh mengingat kekonyolan aksinya waktu itu. aku juga tidak begitu tahu mengenai kebenaran cerita Dean. Apakah ia telah benar-benar menembak Fitri atau itu hanya cara Dean menutup mulutku. Karena memang dulu aku sering sekali menggoda Dean dengan menyuruhnya menembak Fitri. Lagipula Fitri terlihat sebagai wanita yang baik. Dari cerita Dean juga mereka tampaknya saling menyukai. Tapi ternyata niat baik Dean tidak di indahkan oleh Fitri.
Mungkin Fitri merasa Dean memiliki hati dari baja. Berulang kali Fitri memberi sinyal positif kepada Dean namun Dean mengabaikannya. Hingga sampai akhirnya Dean baru menyadari bahwa ada sesuatu diantara mereka. Namun segala sesuatu yang indah pasti terlambat kita sadari. Fitri tampaknya sudah memilih lelaki lain. Lelaki yang menjadi pacarnya beberapa minggu setelah Dean menyatakan cintanya.

Ironis memang. Namun begitulah Dean. Dengan segala kemampuan dan daya tariknya memikat wanita. Ia masih betah tinggal di liang kesepian hanya berkawankan karier, keluarga, dan teman baiknya. Aku. Mungkin hidupnya tidak sepi secara harfiah. Namun sepi dalam segi cinta. Bukan kita yang memilih cinta itu ada atau tidak. Melainkan cinta itu sendiri yang akan memilih siapa orang yang beruntung mendapatkannya. Jika kau yang beruntung, jangan pernah lepaskan. Karena cinta tidak hanya untuk dirimu. Dia bisa dengan mudah terbang, pergi, dan hinggap pada orang lain.

Thursday, 6 March 2014

Masa Lalu

Masa lalu adalah sebuah cermin. Diri kita saat ini adalah refleksi dari bayangan di cermin tersebut. Jangan pernah pecahkan cermin itu setidaksuka apa pun kita pada refleksi di cermin itu. Tangan kita bisa terluka. Berdarah. Bahkan infeksi. Cukup pandangi saja cermin itu. Karena pasti ada banyak detail yang kita lewatkan, yang membuat kita tersadar akan indahnya diri kita. Akan banyaknya noda yang terlihat jelas. Selalu ada sisi buruk disamping sisi baik. Begitupula sebaliknya.


















Akhir bulan september hujan semakin sering jatuh membasahi kota Semarang. Beberapa tempat pun dilanda kebanjiran. Udara dingin pun membawa banyak penyakit musiman. Salah satunya aku yang menderita demam parah. Bahkan sudah 3 hari aku tidak berangkat sekolah.
Dirumah keadaan ku belum membaik. Tidak pernah sebelumnya aku izin sakit selama ini. Mungkin cuaca akhir-akhir ini ditambah daya imunku yang kurang baik menjadi penyebabnya. Sore ini pun badanku masih terbaring lemah di tempat tidur. Sesekali ibu ku masuk ke dalam kamarku untuk memeriksa keadaanku. Belum ada tanda-tanda kesembuhan dari badanku.
Sore ini udara masih sangat dingin. Badanku yang sudah tertutup selimut tebal masih merasakan hawa dingin yang masuk dari sela-sela jendela kamar. Hujan tidak turun sore ini, tetapi awan tebal memenuhi langit. Tinggal menunggu waktu saja kapan air akan berhamburan dari awan tersebut.
Samar ku dengar suara beberapa motor dari depan rumahku. Tidak banyak motor yang lewat depan rumahku karena ukuran jalannya yang sempit. Jadi jelas ada beberapa motor yang secara sengaja berhenti di depan rumahku.
Aku mendengar suara kawan-kawanku dari kejauhan. Dimana pun tampaknya mereka selalu bisa menimbulkan suara gaduh. Ibu membuka pintu kamarku perlahan, “Ada kawan-kawan mu datang menjenguk.” Ujarnya kemudian pergi menghilang dibalik daun pintu yang ternganga.
“Sam, gimana kondisi mu?” Frankie masuk terlebih dahulu ke dalam kamarku. Ia pernah beberapa kali main ke rumah ku. Baik untuk memperbaiki komputerku yang rusak atau sekedar menghabiskan sore bersama.
Aku hanya tersenyum simpul. Bisa aku lihat sosok-sosok lain seperti Sarah, Anda dan Rahmi di belakang Frankie. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam kamarku. Untung kamarku lebih dari cukup untuk menampung mereka semua. Lagipula ide siapa ini. Ide menjenguk ku, macam pelajaran PPKN saja.
“Alhamdulillah sudah membaik. Mungkin senin minggu depan aku sudah bisa ke sekolah.” Aku berusaha duduk bersandar pada dinding untuk menghormati kedatangan mereka. “Kamu tertinggal banyak tugas dan PR.” Anda melihatku dengan matanya yang bulat. Mata yang akan ku ingat sampai kapanpun.
Aku hanya terkekeh. Bagaimana mungkin orang seperti Anda mementingkan tugas dan PR. Bahan obrolan macam apa ini. “Ada gosip apa di kelas?” aku mencoba mencari bahan perbincangan yang sesuai dengan mereka. “Apa ya? Tidak banyak yang terjadi tiga hari ini. Makanya lekas sembuh biar bisa main bareng lagi.” Sarah duduk di belakang Frankie. Sedangkan Rahmi terlihat asyik mengamati kamarku dari ujung sampai ke ujung. Namun aku abaikan hal itu.
“Aku cuma kurang istirahat. Lagian beberapa hari yang lalu aku selalu saja kehujanan. Jas hujan tidak begitu berpengaruh.” Aku mencoba mencari alasan rasional mengapa aku sampai sakit. Alasan yang sebenarnya aku karang. Mungkin hal itu juga bisa menjadi penyebabnya. Namun sebagian besar bukan karena hal itu.
“Itu Ibu siapkan makanan didepan, ayo pada makan dulu.” Ibu tiba-tiba menunjukkan kepalanya dari pintu kamarku. Itu adalah kebiasaan ibu untuk menjamu setiap teman yang berkunjung ke rumahku. Tidak boleh ada jawaban tidak dari mereka.
Frankie, Sarah, dan Rahmi menuruti perintah Ibu ku dengan sungkan. Mereka berjalan keluar dari kamarku. Namun Anda masih duduk ditempatnya. Bisa ku lihat wajah Frankie yang tampak gelisah mengetahui Anda tidak ikut bersama mereka. “Kau tidak makan?” aku memandang Anda dan sesekali melihat Frankie yang menuju ruang tengah. “Aku sudah makan tadi di kantin. Mereka belum. Nih kami bawakan puding.” Anda menyodorkan puding susu kegemaranku.
Aku melihat puding yang biasanya sangat menggiurkan. Namun sekarang tidak ada sedikitpun syaraf motorik ku yang terangsang untuk bergerak mengambilnya. Anda terdiam. Ia tampak sedang berpikir. “Jadi bagaimana? Ulang tahun Gigi?” aku memejamkan mataku sejenak. Antara amarah dan kesedihan berkumpul jadi satu setelah mendengar pertanyaan Anda itu.
“Maaf, tapi jangan terlarut dalam kesedihan Sam.” Anda duduk mendekat. Kami terpaut jarak 100 cm satu sama lain. aku membuka mataku. Mencoba menghalau kesedihanku. “Ulang tahunnya ya begitu. Aku belum berani mengatakan apa-apa pada Gigi. Namun seharusnya dia tahu apa yang aku rasakan. Kura-kura dan boneka lebah itu mewakili segalanya.” Aku menggertakkan gigiku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
“Sampai aku sadar bahwa Gigi mulai menjauh dan pertandingan bola basket minggu lalu...” aku tercekat. Bibirku berhenti pada bentuk u. Tidak sanggup aku menceritakannya pada Anda. Seseorang yang sangat mendukungku untuk mendekati Gigi. Bahkan mungkin dia satu-satunya orang yang mendukungku langsung. Tidak hanya ucapan namun juga perbuatan.
Anda yang menemaniku menembus panasnya pasar hewan untuk seekor kura-kura betina. Bergumul dengan aroma kurang sedap dan asap knalpot di berbagai sudut pasar. Ia juga yang menemaniku membeli boneka lebah. Yang secara tidak sengaja kami temukan di pusat perbelanjaan di simpang lima. Begitu besar jasanya agar cintaku tersampaikan pada Gigi.
“Aku tahu masalah pertandingan bola basket itu. Ku dengar juga Gigi dan salah satu pemain bola basket punya hubungan spesial.” Anda membenarkan poni sampingnya yang sudah agak panjang. Aku sedikit patah hati saat ini. Ini pengalaman pertama bagiku. Pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan maksudku. Karena aku kira selama ini Gigi juga tertarik padaku. Namun ternyata aku belum bisa membedakan antara harapan, kemungkinan, dan kenyataan.
“Tapi terimakasih sudah banyak membantu.” Aku menjulurkan tangan kananku ke arah Anda. Anda pun menjabat tanganku dengan senyuman malu-malu. Pasti dia pikir aku terlalu berlebihan menanggapi semua ini. Namun karena Anda lah aku jadi punya sedikit keberanian untuk mendekati seseorang. Tidak hanya terdiam. Membatin. Dan mengagumi dalam hati. Karena yakinlah orang yang kita suka bukanlah peramal. Mereka tidak bisa membaca pikiran kita. Kecuali jika kau memang suka pada peramal.
Anda melepaskan jabatan tangan kami. Ia terdiam untuk beberapa saat. Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu karena dia tidak biasanya seperti ini. Karena misi Anda membantu perjuangan cintaku akhirnya aku dan Anda sering menghabiskan waktu bersama. Tidak jarang hanya aku dan dia. Tanpa adanya Frankie, Sarah, Rahmi, Dean, atau yang lain.

“Lalu bagaimana perjuanganmu? Sudah berakhir?” Anda akhirnya berhasil melontarkan sebuah pertanyaan dari mulutnya. Aku cukup banyak berpikir akhir-akhir ini. Kepalaku pun sering pusing dibuatnya. Sehingga tanpa berpikir panjang aku pun menjawab, “Aku tidak semudah itu berputus asa. Selama mereka belum resmi jadian, masih ada jalan kan untuk ku?” Anda hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

Sahabat Sejati 2

Cuaca di bulan agustus selalu seperti ini. Tidak ada kejelasan. Tadi pagi sewaktu berangkat sekolah langit begitu cerah. Bahkan aku sampai berkeringat deras begitu sampai di kelas. Namun sekarang, begitu pelajaran ketiga berlangsung tiba-tiba langit menjadi gelap. Awan hitam mengambil alih kuasa atas birunya langit.
Sebentar lagi istirahat dan aku sudah mulai bosan dengan pelajaran sejarah yang sedang berlangsung. Sedikit banyak aku telah mengalami adaptasi dengan lingkungan ku saat ini. Jika dulu di kelas 1 atau awal kelas 2 semua pelajaran tampak menarik, namun sekarang tidak lagi. Hanya beberapa pelajaran saja yang membuatku semangat. Dan sejarah bukan salah satunya.
Sarah ternyata mengalami hal yang sama. Dia, seperti biasa, asyik dengan ponselnya. Ia menaruh ponselnya dibalik buku tulis yang terbuka lebar. Sesekali ia melihat kedepan, tapi kebanyakan dia menunduk sambil senyum-senyum sendiri. Beruntunglah Fendy berada di depan kami, jadi perilaku Sarah tersebut bisa tersamarkan.
Hujan turun begitu derasnya ketika bel istirahat berbunyi. Aku berdiri dari kursiku untuk meregangkan badan sejenak. “Kamu tidak mau keluar?” Aku melihat  Sarah yang sama sekali tidak bergeming. Malah semakin asyik dengan ponselnya. Kemudian aku mengabaikannya dan berjalan ke bangku Anda dan Dean. Mereka berdua tampak gembira. Tawa yang terlihat sedikit jaim menyembul dari mulut Dean. Menyisakan beberapa gigi gingsul yang muncul dari bibirnya.
Aku ikut menyimak cerita Dean. “Ya akhirnya aku minta bantuan temanku untuk mengabadikannya lewat video.” Dean masih terlihat enggan bercerita. Namun Anda tetaplah Anda. Dia tidak akan berhenti sampai ia mendengarkan keseluruhan isi cerita. Suka tidak suka Dean haruslah bercerita.
“Lalu sesampainya di rumah Jenny?” Anda terlihat sangat antusias. Sebenarnya aku ingin bertanya tentang topik yang dibicarakan, namun aku takut hal itu malah membuat Dean enggan meneruskannya. Akhirnya aku dengarkan saja pembicaraan mereka berdua.
“Ya sudah, sampai dirumah Jenny dia langsung aku tembak. Masa sudah jauh-jauh mengayuh sepeda dari rumah sampai ke rumahnya aku tidak mengatakan apa-apa.” Dean menyender pada tembok menghadap Anda dan aku. Tempat duduk Dean mepet dengan tembok sehingga ia suka sekali menyandarkan punggungnya ke tembok tersebut.
“Diterima?” Anda semakin penasaran dengan akhir cerita Dean. Dean hanya menaikturunkan alisnya yang tipis. Anda tertawa menggoda Dean. Aku ikut tersenyum mendengar kabar baik tersebut. “Jenny itu sekolah dimana sih?” Anda mulai mencari informasi lain. “SMA atas, dulu SMP nya sama kayak Sam kok.” Dean melihat ke arahku. Aku tercekat. Jenny siapa yang dimaksud. Aku mulai mengingat nama Jenny dalam hidupku.
“Oh Jenny yang kau maksud adalah Jenny yang badannya kurus tinggi itu?” aku menebak sesuai ingatan spontanku. “Iya, Jenny yang itu. Pokoknya kamu benar, soalnya dia juga kenal kamu.” Dean membenarkan tebakanku. Ternyata dunia sesempit ini. Bagaimana bisa kawan ku ini berpacaran dengan kawan lama ku si Jenny. Dan setahuku tinggi badan mereka terlihat agak kontras. Tapi itulah cinta. Semoga tidak sesaat.
“Kau sendiri bagaimana Sam? Aku dengar kau suka pada Gigi, teman sekelasku dulu.” Anda kemudian berbalik melihat ke arahku. Aku berdiri di sampingnya. Kedua tanganku bertumpu pada meja di depan Anda. Tetap berdiri selama cerita Dean berlangsung. Anda bahkan harus mengangkat dagunya untuk melihat wajahku.
“Oh Gigi, ya gitulah. Aku sempat mengajak untuk nonton film bareng, namun kemudian aku urungkan niatku, setelah dia bertanya dengan siapa saja kami akan menonton.” Aku melihat lurus ke depan. Ke arah korden berwarna hijau yang menutupi jendela kelas kaca kelas kami. “Dia kayaknya mau ulang tahun kan bulan depan. Tembak saja.” Anda memberikan pendapatnya. Yang menurutku tidak masuk akal.
“Iya benar Sam. Bukannya kamu suka sama dia sudah dari kelas 2 SMA?” Dean mendukung usulan Anda. Memang mereka pantas menjadi teman sebangku. “Tidak semudah itu. tapi nantilah aku pikirkan lagi.” Aku sedikit terheran. Heran pada pengetahuan Dean tentang aku. Padahal seingatku kami tidak pernah mengobrol banyak. Karena tidak ada kecocokan topik bila kami mengobrol. Mungkin itulah mengapa aku susah sekali mendapatkan teman pria.
“Sam ke kantin yuk.” Anda memegang pergelangan tanganku. Aku melihat bola matanya sesaat sebelum akhirnya mundur dan memberinya jalan untuk keluar dari bangkunya. Aku dan Anda sering ke kantin bersama. Dia adalah seorang cewek yang sangat ceria, jarang mengeluh, apalagi merengek sehingga aku merasa nyaman menemaninya kemanapun.
Sarah yang daritadi bermain Hp tiba-tiba berdiri dari kursinya. “Mau ke kantin ya? Ikut.” Itulah Sarah. Selain chating hal yang membuatnya antusias adalah kantin. Aku mengerti darimana ia mendapatkan badan yang lebih dari ukuran proporsional itu.
Kami jalan menuju kantin yang letaknya di belakang kelas kami. Hujan masih turun dengan derasnya. Kami pun sempat berlari dari penghujung lorong kelas menuju deretan kantin dengan aroma menggoda. “Anda, punya ide nggak aku harus ngado apa?” Aku berdiri disebelah Anda yang terlihat sangat teliti memilih gorengan. “Hah, Gigi ya, setahuku dia menyukai lebah.” Anda mencomot satu demi satu gorengan dan dimasukkan ke dalam plastik ditangan kirinya.
“Lebah? Aku harus menghadiahi nya lebah?” aku mengatakannya begitu saja. Tanpa ada sedikitpun nada bergurau. “Sam, lebah kan bisa berbentuk apa saja. Boneka misalnya.” Anda mengambil beberapa lembar uang dari sakunya. “Aku pernah lihat dirumahnya ada seekor kura-kura. Katanya sih dikasih sama pacarnya yang dulu.” Aku mengingat-ingat kejadian beberapa minggu lalu. Ketika aku singgah kerumahnya. Ia pernah bercerita bahwa dulu kura-kura itu ada dua, tapi yang satu mati. Aku sempat bersimpati juga pada kesendirian sang kura-kura.
“Ya sudah, beri dia hadiah kura-kura. Siapa tahu kau bisa menggantikan posisi mantan pacarnya.” Anda menoleh kesana kemari mencari seseorang. “Antarkan aku beli kura-kura dan boneka lebah ya.” Aku menunjukkan senyum paling lebar yang aku miliki. Anda hanya mengangguk perlahan. “Sarah dimana ya? Apa dia sudah kembali ke kelas?” daritadi ternyata Anda sedang kebingungan mencari sahabatnya.

Aku ikut menoleh kesana kemari mencari keberadaan Sarah. Kecil kemungkinan Sarah sudah kembali ke kelas mengingat jam istirahat masih belum berakhir. Lagipula seorang Sarah pantang meninggalkan kantin dengan terburu-buru. Bisa jadi ia sedang menikmati mie instan kuah di salah satu sudut deretan kantin ini.