Sunday, 9 March 2014

Anda 2

Pagi ini aku berangkat lebih pagi. Kali ini tidak dengan seragam putih abu-abu, melainkan dengan celana jeans sepatu berwarna dan kemeja lengan pendek yang lapisi dengan cardigan berwarna biru muda. Langit yang begitu cerah mengantarkan aku pada keceriaan. Setiap pagi tanpa terkecuali aku selalu mengarahkan stang motorku ke rumah Dean. Entah suatu kebetulan atau memang takdir aku, Dean, dan Fendy masuk di universitas yang sama. Ternyata 3 tahun belum cukup untuk kami. Namun kali ini ditambah dengan kehadiran Sarah dan Anda.
Matrikulasi dilaksanakan pada awal kuliah. Sebelum ospek berlangsung. Bahkan sebelum hasil tes ujian mandiri di universitas negeri diumumkan. Memang terlalu dini. Maklum Universitas yang kami masuki adalah universitas swasta.
Kami selalu berangkat bersama ke kampus atau lebih tepatnya calon kampus kami. Jadi kami akan berkumpul di rumah Dean untuk selanjutnya berangkat bersama. Mengapa rumah Dean? Karena Dean paling susah bangun pagi. Kami harus sampai dirumahnya terlebih dahulu baru Dean akan bangun, berkemas, dan berangkat. Mandi adalah hal tabu baginya. Apalagi di pagi hari.
Aku mengendarai motorku dengan kecepatan maksimum. Pagi ini kami agak terlambat. Sarah terlambat bangun dan kami harus menunggu beberapa menit. Sarah tidak akan berangkat kemanapun sebelum ia selesai berdandan. Walau gempa bumi sekalipun dia akan mementingkan penampilannya sebelum akhirnya berlari menyelamatkan diri. Itulah wanita.
Sesampainya di kelas aku langsung menyalakan komputer di depan ku. Dosen berbadan kurus kering sudah berdiri di depan kelas. Ia menggunakan seragam dosen, atasan kemeja putih dan bawahan celana biru tua. Beruntungnya aku karena ia belum mulai mengabsen kami.
Fendy mengambil jurusan yang sama dengan Sarah. Ekonomi. Jurusan yang aku inginkan juga tapi tentu saja tidak disini. Melainkan di universitas negeri. Satu-satunya alasan ku masuk ke universitas ini adalah karena jurusan yang kuambil tidak ada di tempat lain. Jadi aku merasa mantap menghabiskan 4 tahun ku nanti di kampus dengan atap biru ini. Sedangkan setauku Fendy, Dean, Sarah, dan Anda sedang menunggu pengumuman ujian mandiri universitas negeri. Jadi bisa dipastikan kalau mereka semua diterima disana, aku akan sendirian di kampus ini.
Dunia universitas sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan. Aku belajar untuk menjadi manusia sosial yang baik dan benar semasa sekolah. Aku pun berusaha mencari teman di universitas. Namun usaha ku itu gagal. Setiap orang baru yang aku ajak kenalan hanya berakhir pada pertanyaan dulu sekolah dimana. Setelah itu senyap. Dan mereka seolah tidak mengenalku. Ironis sekali memang.
Setelah kelas berakhir aku buru-buru mengambil tas ku. Kelas di jurusan ku selalu berlangsung lebih lama. Mungkin ini adalah pengaruh dari dosenku yang senang memberikan ujian kejutan. Hampir setiap hari aku mengerjakan ujian dadakan. Sedangkan ke empat kawanku itu tidak pernah sama sekali.
Biasanya Fendy, Dean, Sarah, dan Anda menungguku di tangga buntu dekat kantin. Dikatakan tangga buntu karena tangga itu tidak menuju kemana-mana. Tembok yang mungkin dulu ada pintunya kini telah berganti dengan lift. Aku tidak mau membuat mereka menunggu lebih lama karena kami sudah merencanakan akan makan bersama siang ini.
Aku melesat menuruni anak tangga menuju kantin. Tidak susah bagiku untuk pergi dengan cepat dari kelas karena aku tidak kenal siapa-siapa. Jadi tidak ada orang yang mengajak ku mengobrol setelah kelas usai.
Sedikit ngos-ngos an aku sampai juga di tangga buntu. Dean dan Fendy sudah asyik menghisap rokok sembari menungguku. Posisi mereka seperti dua karakter di komik-komik jepang. Dean duduk di anak tangga dan Fendy berdiri disampingnya menyender pada pegangan tangga yang terbuat dari besi.
“Anda dan Sarah?” aku mendekati mereka. Kedua orang yang sampai saat ini mau berkawan denganku. “Mereka beli minum di kantin. Kita mau makan dimana?” Fendy menarik sebatang rokok berwarna putih dari bibirnya. Asap putih mengepul dari dalam mulutnya. “Terserah.” Aku duduk di anak tangga dibawah Dean. “Pengumuman ujian mandiri itu hari ini kan?” aku menoleh ke belakang melihat Dean dari sudut 45 derajat dibawahnya.
“Iya. Makanya aku tidak sabar pulang ke rumah untuk mengeceknya.” Jawab Dean membuang rokok kreteknya. Sebenarnya walaupun aku tidak ikut ujian apa pun untuk masuk universitas negeri, aku ikut penasaran melihat pengumumannya. Pasalnya pengumuman itu akan menentukan nasibku di kampus ini. Nasib menjadi orang tak berkawan seperti dulu lagi atau menghabiskan 4 tahun ke depan dengan kedua laki-laki de belakangku dan kedua wanita yang tengah membeli minuman di kantin.
Aku belajar bahwa hidup bukan sekedar lulus SMA. Kenyataan nya aku harus bekerja sembari kuliah untuk memenuhi kebutuhanku. Lulus SMA adalah euforia sesaat. Setelah itu kita sebagai remaja dewasa akan diberikan berbagai pilihan.
Ada yang karena keinginan orang tua harus meninggalkan cita-cita nya dan kuliah di jurusan yang baik menurut orang tua nya. Ada yang harus menggantungkan hidup di universitas dari bea siswa. Atau bekerja paruh waktu seperti yang aku lakukan. Dan ada juga karena kondisi keuangan keluarga harus rela mengakhiri pendidikannya sampai SMA saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
Aku termasuk orang yang beruntung karena aku memiliki kesadaran penuh akan potensi ku. Maksudnya aku bisa meyakinkan orang tua ku bahwa jurusan yang aku inginkan nantinya bisa membuat mereka bangga. Setidaknya itulah yang aku gadang-gadang kan ketika aku mengajukan proposal untuk berkuliah.
Sebenarnya keputusan untuk mencari kerja paruh waktu adalah inisiatifku. Aku merasa sudah saatnya aku meninggalkan posisi nyamanku di ketiak orang tua. Mungkin mereka bisa mendukung biaya kuliahku saja. Tapi aku harap biaya hidupku bisa aku tanggung sendiri. Pikiran yang terlalu lugu untuk pemuda berumur 18 tahun sepertiku.
Keceriaan di kampus kemudian berakhir saat matahari turun dari peraduannya. Aku sudah ada di tempat bekerja saat itu. kembali serius dan melayani setiap pembeli dengan ramah. Aku bekerja sebagai kasir di salah satu pusat perbelanjaan. “Selamat malam.” Sapaku terhadap setiap pembeli yang menyodorkan keranjang belanjaan nya padaku. Aku belum terlalu lama bekerja disini namun aku merasa betah. Aku bekerja setiap tidak ada kuliah. Supervisor memberikan kelonggaran khusus buat ku yang bekerja sambil kuliah.
Bekerja menjadi kasir bukanlah hal yang mudah. Setidaknya aku harus berdiri terus selama jam kerja. Kecuali istirahat makan selama 1 jam, dan istirahat sholat. Selebihnya aku harus menjaga senyum ku tetap konsisten. Aku sangat tidak diperbolehkan salah menghitung uang kembalian. Dan satu lagi, aku harus hafal semua promo dan diskon yang berubah setiap hari.
Malam itu pembeli tidak sebanyak biasanya. Hari ini adalah hari senin dan berada dipertengahan bulan. Jadwal sepi pengunjung dan berarti jadwal kami sebagai kasir bisa bersantai sejenak. Biasanya waktu seperti itu aku habiskan untuk menghitung voucher dan struk ATM agar nanti aku bisa pulang cepat.
Sekeranjang penuh buah-buahan datang ke mejaku. Aku langsung menyimpan semua voucher dan struk ATM di bawah mesin kasir. “Selamat malam.” Aku menyapa sang pembeli dengan senyum tersungging di pipiku. “Malam Sam.” Sebuah suara wanita yang sangat familiar terdengar agak parau. Aku mengangkat daguku dan mendapati Anda berdiri di depan meja kasir dengan hanya menggunakan daster tidur semata kaki dilapisi cardigan wol tebal berwarna krem. Matanya sembab, rambutnya pun tidak teratur rapi.
“Kau darimana?” tanganku tidak berhenti mengeluarkan buah-buahan dari keranjang Anda dan menggesek barcodenya ke scanner yang ada di sampingku. “Rumah. Aku tidak diterima di universitas negeri.” Ucapnya kemudian. Suaranya sedikit mengganggu. Ia tidak seceria biasanya. Mungkinkah hasil pengumuman ujian itu telah membuatnya begitu sedih.
“Aku ingin cerita banyak.” Ucapnya lagi sembari membuka dompet berwarna pink yang ia genggam di depan dada nya. “Aku akan selesai 1 jam lagi. Kau tunggu aku di coffe shop atas saja. Aku akan segera  menyusul.” Aku memasukkan semua barang yang dibeli Anda ke dalam plastik dan membacakan total harganya. Anda mengangguk dan mengeluarkan selembar uang seratus ribu dari dalam dompetnya. Aku sudah begitu tidak sabar mendengarkan ceritanya.
1 jam yang terasa begitu lambat akhirnya berlalu. Aku segera memberikan setumpuk uang dan lembar rekap kepada kepala kasir. Tanpa banyak bicara aku langsung mengambil tasku dan tergesa menuju coffe shop yang letaknya berada di atas swalayan tempatku bekerja.
Anda duduk di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan jalan raya di depan gedung pusat perbelanjaan itu. coffe shop ini buka selama 24 jam, jadi Anda bisa cerita banyak tentang kegundahannya. Aku menghampirinya. Music jazz terdengar lirih menemani langkahku menuju meja Anda.
Di depannya terdapat cangkir putih dan sebuah vas bunga. Anda memandang lurus keluar jendela. Mengawasi mobil dan motor yang lalu lalang di depan pusat perbelanjaan itu. “Anda, kau baik-baik saja?” aku menggeser kursi di depan Anda ke belakang. Anda mengalihkan perhatiannya dari hiruk pikuk jalanan diluar sana. Ia memandang ku yang sedikit berkeringat akibat habis berlari dari swalayan di bawah. Seorang waiter segera mendatangiku. Sebelum ia sempat menyodorkan buku menu aku langsung memesan secangkir cokelat. Sang waiterpun menarik kembali buku menu yang hendak ia berikan dan pergi menjauh ke arah bar.
“Ini gara-gara kamu gagal masuk ujian mandiri itu?” aku mendekatkan badanku ke arah Anda. Sambil terus mengatur pernafasanku yang belum begitu normal. Anda meletakkan kedua telapak tangannya ke cangkir dihadapannya. Matanya yang sembab kembali berkaca. Ini adalah salah satu hal yang kubenci ketika mendengarkan orang lain bercerita tentang hidup mereka. Terkadang mereka bercerita sambil menangis. Hal itu sangatlah menarik perhatian orang banyak, sehingga dikira orang-orang akulah si jahat dalam drama itu.
“Hubunganku dengan Frankie tidak berjalan dengan baik.” Anda memberi pembukaan yang sedikit mengagetkanku. Aku pikir kekacauannya malam ini disebabkan oleh kegagalannya masuk universitas negeri. “Dia meminta hal yang tidak bisa aku berikan. Aku takut hubungan kami akan berakhir.” Anda melanjutkan kata-katanya lagi. Kedua telapak tangannya masih menempel pada cangkir di depannya.
“Hal yang tidak bisa kau berikan? Terus Frankie tetap memaksa?” Aku jadi penasaran akan cerita Anda yang sedikit misterius. Anda mengangkat cangkirnya dan meneguk cokelat didalamnya perlahan. Aku menunggu kelanjutan cerita Anda sambil berpikir yang macam-macam. Apa yang mungkin diinginkan Frankie tetapi tidak bisa diberikan Anda.
“Menikah.” Anda mengucapkannya dengan lirih. Sekarang keluar air dari mata Anda yang berkaca-kaca. Aku terdiam sejenak. Aku sendiri bingung respon bagaimana yang harus aku berikan. Seorang waiter datang ke meja kami dengan secangkir cokelat panas dengan asap yang mengepul. Aku masih terdiam tanpa menghiraukan ucapan sang waiter. Mataku tertuju pada wajah bulat Anda yang tidak terlihat seperti biasanya.
“Aku tahu pasti kau berpikir kalau itu gila, tapi putus dengan Frankie akan membuatku semakin gila.” Anda menyeka air matanya yang sebenarnya sudah menetes membasahi cardigannya. “Iya. Maksudku untuk remaja belasan tahun di kota besar seperti ini itu terdengar gila. Lalu setelah kau menolaknya?”Anda menoleh pada jendela kaca di sebelah
kirinya. Embun malam yang turun membuat pemandangan keluar jendela menjadi buram. “Dia belum menghubungiku lagi. Firasatku kami akan putus.” Anda menatap lurus keluar jendela. Entah apa yang sedang ia lihat. Pohon beringin diseberang jalan ku rasa. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi kayu yang aku duduki. Tanpa sadar aku menghembuskan nafas dengan berat. Yang membuat Anda menoleh padaku.
“Bagaimana menurutmu?” mendengar pertanyaan Anda itu aku langsung berpikir dengan cepat. Aku tidak punya jawaban bijak atas cerita Anda yang satu ini. Lagipula selama ini Anda tidak pernah bercerita apapun padaku. Bagaimana dia dan Frankie jadian pun aku tidak tahu. Kemudian sekarang ia memberikan aku pertanyaan seberat ini. Namun tidak mungkin juga aku mengabaikannya. Aku terlalu baik untuk melakukannya.

“Ya kalau Frankie masih memaksakannya, lebih baik kau mengorbankan hubungan kalian saja.” Aku memberikan jawaban seadanya. Ekspresi Anda tiba-tiba berubah. Ia mengerutkan dahinya. Mungkin kata-kataku agak sulit dicerna. Atau mungkin juga dia akan marah setelah mendengar jawabanku. Namun itu adalah jalan satu-satunya. Lagipula Anda bisa mendapatkan seseorang yang bisa menggantikan posisi Frankie nantinya. Aku yakin Anda pasti bisa cepat melupakan Frankie karena aku sudah mengenalnya dari SMA. Setelah Fendy, kemudian Frankie, setelah itu mungkin teman kuliahnya yang mungkin akan menarik hati Anda.

No comments:

Post a Comment