Pagi
ini aku berangkat lebih pagi. Kali ini tidak dengan seragam putih abu-abu,
melainkan dengan celana jeans sepatu berwarna dan kemeja lengan pendek yang
lapisi dengan cardigan berwarna biru muda. Langit yang begitu cerah
mengantarkan aku pada keceriaan. Setiap pagi tanpa terkecuali aku selalu
mengarahkan stang motorku ke rumah Dean. Entah suatu kebetulan atau memang
takdir aku, Dean, dan Fendy masuk di universitas yang sama. Ternyata 3 tahun
belum cukup untuk kami. Namun kali ini ditambah dengan kehadiran Sarah dan
Anda.
Matrikulasi
dilaksanakan pada awal kuliah. Sebelum ospek berlangsung. Bahkan sebelum hasil
tes ujian mandiri di universitas negeri diumumkan. Memang terlalu dini. Maklum
Universitas yang kami masuki adalah universitas swasta.
Kami
selalu berangkat bersama ke kampus atau lebih tepatnya calon kampus kami. Jadi
kami akan berkumpul di rumah Dean untuk selanjutnya berangkat bersama. Mengapa
rumah Dean? Karena Dean paling susah bangun pagi. Kami harus sampai dirumahnya
terlebih dahulu baru Dean akan bangun, berkemas, dan berangkat. Mandi adalah
hal tabu baginya. Apalagi di pagi hari.
Aku
mengendarai motorku dengan kecepatan maksimum. Pagi ini kami agak terlambat.
Sarah terlambat bangun dan kami harus menunggu beberapa menit. Sarah tidak akan
berangkat kemanapun sebelum ia selesai berdandan. Walau gempa bumi sekalipun
dia akan mementingkan penampilannya sebelum akhirnya berlari menyelamatkan
diri. Itulah wanita.
Sesampainya
di kelas aku langsung menyalakan komputer di depan ku. Dosen berbadan kurus
kering sudah berdiri di depan kelas. Ia menggunakan seragam dosen, atasan
kemeja putih dan bawahan celana biru tua. Beruntungnya aku karena ia belum
mulai mengabsen kami.
Fendy
mengambil jurusan yang sama dengan Sarah. Ekonomi. Jurusan yang aku inginkan
juga tapi tentu saja tidak disini. Melainkan di universitas negeri.
Satu-satunya alasan ku masuk ke universitas ini adalah karena jurusan yang
kuambil tidak ada di tempat lain. Jadi aku merasa mantap menghabiskan 4 tahun
ku nanti di kampus dengan atap biru ini. Sedangkan setauku Fendy, Dean, Sarah,
dan Anda sedang menunggu pengumuman ujian mandiri universitas negeri. Jadi bisa
dipastikan kalau mereka semua diterima disana, aku akan sendirian di kampus
ini.
Dunia
universitas sungguh berbeda dengan yang aku bayangkan. Aku belajar untuk
menjadi manusia sosial yang baik dan benar semasa sekolah. Aku pun berusaha
mencari teman di universitas. Namun usaha ku itu gagal. Setiap orang baru yang
aku ajak kenalan hanya berakhir pada pertanyaan dulu sekolah dimana. Setelah
itu senyap. Dan mereka seolah tidak mengenalku. Ironis sekali memang.
Setelah
kelas berakhir aku buru-buru mengambil tas ku. Kelas di jurusan ku selalu
berlangsung lebih lama. Mungkin ini adalah pengaruh dari dosenku yang senang
memberikan ujian kejutan. Hampir setiap hari aku mengerjakan ujian dadakan.
Sedangkan ke empat kawanku itu tidak pernah sama sekali.
Biasanya
Fendy, Dean, Sarah, dan Anda menungguku di tangga buntu dekat kantin. Dikatakan
tangga buntu karena tangga itu tidak menuju kemana-mana. Tembok yang mungkin
dulu ada pintunya kini telah berganti dengan lift. Aku tidak mau membuat mereka
menunggu lebih lama karena kami sudah merencanakan akan makan bersama siang
ini.
Aku
melesat menuruni anak tangga menuju kantin. Tidak susah bagiku untuk pergi
dengan cepat dari kelas karena aku tidak kenal siapa-siapa. Jadi tidak ada
orang yang mengajak ku mengobrol setelah kelas usai.
Sedikit
ngos-ngos an aku sampai juga di tangga buntu. Dean dan Fendy sudah asyik
menghisap rokok sembari menungguku. Posisi mereka seperti dua karakter di
komik-komik jepang. Dean duduk di anak tangga dan Fendy berdiri disampingnya
menyender pada pegangan tangga yang terbuat dari besi.
“Anda
dan Sarah?” aku mendekati mereka. Kedua orang yang sampai saat ini mau berkawan
denganku. “Mereka beli minum di kantin. Kita mau makan dimana?” Fendy menarik
sebatang rokok berwarna putih dari bibirnya. Asap putih mengepul dari dalam
mulutnya. “Terserah.” Aku duduk di anak tangga dibawah Dean. “Pengumuman ujian
mandiri itu hari ini kan?” aku menoleh ke belakang melihat Dean dari sudut 45
derajat dibawahnya.
“Iya.
Makanya aku tidak sabar pulang ke rumah untuk mengeceknya.” Jawab Dean membuang
rokok kreteknya. Sebenarnya walaupun aku tidak ikut ujian apa pun untuk masuk
universitas negeri, aku ikut penasaran melihat pengumumannya. Pasalnya
pengumuman itu akan menentukan nasibku di kampus ini. Nasib menjadi orang tak
berkawan seperti dulu lagi atau menghabiskan 4 tahun ke depan dengan kedua
laki-laki de belakangku dan kedua wanita yang tengah membeli minuman di kantin.
Aku
belajar bahwa hidup bukan sekedar lulus SMA. Kenyataan nya aku harus bekerja
sembari kuliah untuk memenuhi kebutuhanku. Lulus SMA adalah euforia sesaat.
Setelah itu kita sebagai remaja dewasa akan diberikan berbagai pilihan.
Ada
yang karena keinginan orang tua harus meninggalkan cita-cita nya dan kuliah di
jurusan yang baik menurut orang tua nya. Ada yang harus menggantungkan hidup di
universitas dari bea siswa. Atau bekerja paruh waktu seperti yang aku lakukan.
Dan ada juga karena kondisi keuangan keluarga harus rela mengakhiri
pendidikannya sampai SMA saja. Tidak kurang dan tidak lebih.
Aku
termasuk orang yang beruntung karena aku memiliki kesadaran penuh akan potensi
ku. Maksudnya aku bisa meyakinkan orang tua ku bahwa jurusan yang aku inginkan
nantinya bisa membuat mereka bangga. Setidaknya itulah yang aku gadang-gadang
kan ketika aku mengajukan proposal untuk berkuliah.
Sebenarnya
keputusan untuk mencari kerja paruh waktu adalah inisiatifku. Aku merasa sudah
saatnya aku meninggalkan posisi nyamanku di ketiak orang tua. Mungkin mereka
bisa mendukung biaya kuliahku saja. Tapi aku harap biaya hidupku bisa aku
tanggung sendiri. Pikiran yang terlalu lugu untuk pemuda berumur 18 tahun
sepertiku.
Keceriaan
di kampus kemudian berakhir saat matahari turun dari peraduannya. Aku sudah ada
di tempat bekerja saat itu. kembali serius dan melayani setiap pembeli dengan
ramah. Aku bekerja sebagai kasir di salah satu pusat perbelanjaan. “Selamat
malam.” Sapaku terhadap setiap pembeli yang menyodorkan keranjang belanjaan nya
padaku. Aku belum terlalu lama bekerja disini namun aku merasa betah. Aku
bekerja setiap tidak ada kuliah. Supervisor memberikan kelonggaran khusus buat
ku yang bekerja sambil kuliah.
Bekerja
menjadi kasir bukanlah hal yang mudah. Setidaknya aku harus berdiri terus
selama jam kerja. Kecuali istirahat makan selama 1 jam, dan istirahat sholat.
Selebihnya aku harus menjaga senyum ku tetap konsisten. Aku sangat tidak
diperbolehkan salah menghitung uang kembalian. Dan satu lagi, aku harus hafal
semua promo dan diskon yang berubah setiap hari.
Malam
itu pembeli tidak sebanyak biasanya. Hari ini adalah hari senin dan berada
dipertengahan bulan. Jadwal sepi pengunjung dan berarti jadwal kami sebagai
kasir bisa bersantai sejenak. Biasanya waktu seperti itu aku habiskan untuk
menghitung voucher dan struk ATM agar nanti aku bisa pulang cepat.
Sekeranjang
penuh buah-buahan datang ke mejaku. Aku langsung menyimpan semua voucher dan
struk ATM di bawah mesin kasir. “Selamat malam.” Aku menyapa sang pembeli
dengan senyum tersungging di pipiku. “Malam Sam.” Sebuah suara wanita yang sangat
familiar terdengar agak parau. Aku mengangkat daguku dan mendapati Anda berdiri
di depan meja kasir dengan hanya menggunakan daster tidur semata kaki dilapisi
cardigan wol tebal berwarna krem. Matanya sembab, rambutnya pun tidak teratur
rapi.
“Kau
darimana?” tanganku tidak berhenti mengeluarkan buah-buahan dari keranjang Anda
dan menggesek barcodenya ke scanner yang ada di sampingku. “Rumah. Aku tidak
diterima di universitas negeri.” Ucapnya kemudian. Suaranya sedikit mengganggu.
Ia tidak seceria biasanya. Mungkinkah hasil pengumuman ujian itu telah
membuatnya begitu sedih.
“Aku
ingin cerita banyak.” Ucapnya lagi sembari membuka dompet berwarna pink yang ia
genggam di depan dada nya. “Aku akan selesai 1 jam lagi. Kau tunggu aku di
coffe shop atas saja. Aku akan segera
menyusul.” Aku memasukkan semua barang yang dibeli Anda ke dalam plastik
dan membacakan total harganya. Anda mengangguk dan mengeluarkan selembar uang
seratus ribu dari dalam dompetnya. Aku sudah begitu tidak sabar mendengarkan
ceritanya.
1
jam yang terasa begitu lambat akhirnya berlalu. Aku segera memberikan setumpuk
uang dan lembar rekap kepada kepala kasir. Tanpa banyak bicara aku langsung
mengambil tasku dan tergesa menuju coffe shop yang letaknya berada di atas
swalayan tempatku bekerja.
Anda
duduk di dekat jendela kaca besar yang memperlihatkan jalan raya di depan
gedung pusat perbelanjaan itu. coffe shop ini buka selama 24 jam, jadi Anda
bisa cerita banyak tentang kegundahannya. Aku menghampirinya. Music jazz
terdengar lirih menemani langkahku menuju meja Anda.
Di
depannya terdapat cangkir putih dan sebuah vas bunga. Anda memandang lurus
keluar jendela. Mengawasi mobil dan motor yang lalu lalang di depan pusat
perbelanjaan itu. “Anda, kau baik-baik saja?” aku menggeser kursi di depan Anda
ke belakang. Anda mengalihkan perhatiannya dari hiruk pikuk jalanan diluar
sana. Ia memandang ku yang sedikit berkeringat akibat habis berlari dari
swalayan di bawah. Seorang waiter segera mendatangiku. Sebelum ia sempat
menyodorkan buku menu aku langsung memesan secangkir cokelat. Sang waiterpun
menarik kembali buku menu yang hendak ia berikan dan pergi menjauh ke arah bar.
“Ini
gara-gara kamu gagal masuk ujian mandiri itu?” aku mendekatkan badanku ke arah
Anda. Sambil terus mengatur pernafasanku yang belum begitu normal. Anda
meletakkan kedua telapak tangannya ke cangkir dihadapannya. Matanya yang sembab
kembali berkaca. Ini adalah salah satu hal yang kubenci ketika mendengarkan
orang lain bercerita tentang hidup mereka. Terkadang mereka bercerita sambil
menangis. Hal itu sangatlah menarik perhatian orang banyak, sehingga dikira
orang-orang akulah si jahat dalam drama itu.
“Hubunganku
dengan Frankie tidak berjalan dengan baik.” Anda memberi pembukaan yang sedikit
mengagetkanku. Aku pikir kekacauannya malam ini disebabkan oleh kegagalannya
masuk universitas negeri. “Dia meminta hal yang tidak bisa aku berikan. Aku
takut hubungan kami akan berakhir.” Anda melanjutkan kata-katanya lagi. Kedua
telapak tangannya masih menempel pada cangkir di depannya.
“Hal
yang tidak bisa kau berikan? Terus Frankie tetap memaksa?” Aku jadi penasaran
akan cerita Anda yang sedikit misterius. Anda mengangkat cangkirnya dan meneguk
cokelat didalamnya perlahan. Aku menunggu kelanjutan cerita Anda sambil
berpikir yang macam-macam. Apa yang mungkin diinginkan Frankie tetapi tidak
bisa diberikan Anda.
“Menikah.”
Anda mengucapkannya dengan lirih. Sekarang keluar air dari mata Anda yang
berkaca-kaca. Aku terdiam sejenak. Aku sendiri bingung respon bagaimana yang
harus aku berikan. Seorang waiter datang ke meja kami dengan secangkir cokelat
panas dengan asap yang mengepul. Aku masih terdiam tanpa menghiraukan ucapan
sang waiter. Mataku tertuju pada wajah bulat Anda yang tidak terlihat seperti
biasanya.
“Aku
tahu pasti kau berpikir kalau itu gila, tapi putus dengan Frankie akan
membuatku semakin gila.” Anda menyeka air matanya yang sebenarnya sudah menetes
membasahi cardigannya. “Iya. Maksudku untuk remaja belasan tahun di kota besar
seperti ini itu terdengar gila. Lalu setelah kau menolaknya?”Anda menoleh pada
jendela kaca di sebelah
kirinya.
Embun malam yang turun membuat pemandangan keluar jendela menjadi buram. “Dia
belum menghubungiku lagi. Firasatku kami akan putus.” Anda menatap lurus keluar
jendela. Entah apa yang sedang ia lihat. Pohon beringin diseberang jalan ku
rasa. Aku menyandarkan punggungku pada sandaran kursi kayu yang aku duduki.
Tanpa sadar aku menghembuskan nafas dengan berat. Yang membuat Anda menoleh
padaku.
“Bagaimana
menurutmu?” mendengar pertanyaan Anda itu aku langsung berpikir dengan cepat.
Aku tidak punya jawaban bijak atas cerita Anda yang satu ini. Lagipula selama
ini Anda tidak pernah bercerita apapun padaku. Bagaimana dia dan Frankie jadian
pun aku tidak tahu. Kemudian sekarang ia memberikan aku pertanyaan seberat ini.
Namun tidak mungkin juga aku mengabaikannya. Aku terlalu baik untuk
melakukannya.
“Ya
kalau Frankie masih memaksakannya, lebih baik kau mengorbankan hubungan kalian
saja.” Aku memberikan jawaban seadanya. Ekspresi Anda tiba-tiba berubah. Ia mengerutkan
dahinya. Mungkin kata-kataku agak sulit dicerna. Atau mungkin juga dia akan
marah setelah mendengar jawabanku. Namun itu adalah jalan satu-satunya.
Lagipula Anda bisa mendapatkan seseorang yang bisa menggantikan posisi Frankie
nantinya. Aku yakin Anda pasti bisa cepat melupakan Frankie karena aku sudah
mengenalnya dari SMA. Setelah Fendy, kemudian Frankie, setelah itu mungkin
teman kuliahnya yang mungkin akan menarik hati Anda.