Wednesday, 5 March 2014

Sahabat Sejati 1

Sahabat sejati adalah orang yang setia pada kesenanganmu saja. Kemudian kemana mereka saat kau sedang dalam kesusahan? Sebenarnya sahabat sejati tidak pernah ada ketika kau sedang dalam kesusahan. Karena mereka, sahabat sejati, selalu bisa membuat kesusahanmu menjadi kesenangan. Sehingga tidak sedetikpun dalam hidupmu kau akan merasa kesusahan.



















“Kau tidak tahu ada hal menarik yang terjadi kemarin di Bali.” Frankie asyik membolik-balik novel teenlit yang baru saja ia pinjam. “Memang ada apa?” aku pun asyik membolak-balik lembar LKS ekonomi di depanku. “Anda jadian sama Fendy. Kamu ketinggalan kabar penting.” Aku menghentikan aktivitasku. Kemudian aku membalikkan badanku melihat ke belakang. Fendy memang terlihat sedang bercengkrama dengan Anda di bangku paling belakang.
Fendy adalah salah satu siswa yang duduk di deretku. Ia adalah teman sebangku Dean di kelas 2. Ia juga teman kami dari kelas 1 SMA. Badannya tinggi tegap. Kulitnya putih bersih dan memang secara fisik ia lebih oke daripada aku apalagi Frankie.
“Serius? Kenapa bisa?” Aku memutar badanku menghadap Frankie. Saat ini jam kosong. Guru Ekonomi kami tidak bisa mengajar karena ada kepentingan lain. Tentunya lebih penting daripada kami sehingga ia meninggalkan tugas seabrek untuk dikerjakan. Frankie meletakkan novel yang daritadi ia bolak-balik. “Kenapa nggak bisa?” ucapnya sembari menatapku sedikit mengejek.
“Maksudnya dulu mereka tidak tampak seperti sedang PDKT.” Kali ini aku benar-benar melupakan tugas ekonomi yang seabrek tadi. “Makanya kamu kemarin harusnya ikut ke Bali. Bukannya memilih untuk memperbaiki komputer lawas kakak mu.” Frankie tau sedikit banyak tentang aku. Seiring berjalannya waktu aku jadi kompak dengannya. Bahkan aku mewarisi sifat pemberontaknya.
Aku memang tidak ikut dalam study tour sekolah ke Bali. Frankie maupun wali kelasku tahu betul sebabnya. Aku lebih memilih mengalokasikan dana ke Bali untuk memperbaiki komputer. Realitanya adalah, komputer itu lebih penting apalagi untuk mendukung proses belajar daripada perjalanan hura-hura ke Bali berkedok study tour. Seserius itu lah aku dalam hidupku.
Aku kembali menoleh melihat wajah Anda yang dibingkai poni sampingnya yang baru dipotong. Mereka terlihat sangat serasi dan saling melengkapi. Menurut ku. Anda adalah orang yang bisa dibilang banyak bicara sedangkan Fendy sebaliknya. Bahkan sebagai ketua kelas ia bisa dikategorikan pemalu. Dia akan berkeringat deras dan terbata apabila harus memimpin rapat di depan kelas. Maka bisa dibayangkaan bagaimana gugupnya dia jika sampai ada guru yang menunjuknya maju ke depan.
“Kamu gimana Sam? Mana cewek kamu? Kamu belum pernah pacaran kan?” Frankie mengalihkan perhatianku pada pasangan baru tersebut. “Belum ada, naksir sih sama temennya Anda dulu kelas 1. Tapi orangnya masih punya pacar.” Aku mengambil ponsel yang kutaruh di laci meja. Tidak ada sms balasan dari orang yang kumaksud.
“Masih banyak cewek lain kali Sam.” Frankie kembali berkutat pada novelnya. Sedangkan aku membuka pesan masuk dengan iseng. Membaca satu persatu pesan yang sempat dikirimkan cewek pujaanku. Menyimpannya. Tidak berniat sedikitpun untuk menghapusnya.
Hubungan Fendy dan Anda ternyata tidak berjalan dengan baik. Aku tidak paham apa penyebabnya. Namun mereka akhirnya putus. Anda kehilangan sesosok pria maskulin secara fisik dan lembut secara mental. Ya Fendy memang dikenal sebagai yesman. Ia jarang bahkan hampir tidak pernah membantah. Ia selalu menyetujui apa saja usulan kami, siswa dikelas, tanpa memiliki kemampuan untuk mengintimidasi yang lain. Contoh pemimpin super demokrat yang pernah ada.
Hubungan Fendy dan Anda bisa dikatakan baru seumur jagung. Mungkin itulah yang membuat Anda terpukul hingga ia sering membolos sekolah. Frankie adalah partner nomer satu Anda dalam hal membolos. Karena walaupun Anda tidak mengajaknya, Frankie memang sudah hobi membolos.
Anda terlihat sangat sedih akan berakhirnya hubungannya dengan Fendy. Namun sejauh pengamatanku Fendy tidak sedikitpun terlihat menyesal. Ia tampak biasa saja. Entah karena memang ia tidak merasakan apa-apa, atau memang Fendy pintar menyembunyikan emosi. Hanya Fendy yang tahu bagaimana perasaannya. Mungkin Dean juga tahu, mengingat kedekatan mereka berdua sebagai teman sebangku.
“Anda, kamu oke?” sudah agak lama aku tidak mengobrol atau bercanda dengan Anda. Sejak Anda jadian kemudian putus dengan Fendy kalau tidak salah. “Pertanyaan macam apa itu?” Anda tengah asyik bermain HP. Namun aku yakin perasaannya masih belum membaik. “Ya cuma tanya aja. Soalnya aku denger dari Frankie kamu tertekan banget.” Aku menggeser badanku kesamping hingga lenganku bertemu dengan lengan Anda.
Aku bisa melihat wajahku dari pantulan kaca helm yang diletakkan Anda di atas mejanya. Aku pun duduk di kursi tepat disebelah Anda untuk mendengar kisah versi Anda sendiri. Karena selama ini aku hanya mendengar dari Frankie. Dan aku tidak dekat dengan Fendy sehingga aku tidak bisa menanyakan hal semacam ini padanya.
“Buruk. Tapi semua akan membaik. Ya kan?” Anda tidak melepaskan perhatiannya dari ponsel di tangannya. Aku mengangguk. “Kata Frankie kamu mulai mencoba merokok?” tanyaku penuh keingintahuan. Anda hanya terdiam mendengar pertanyaanku itu. Ia tampak lebih tertutup terhadapku dibanding terhadap Frankie. Partner membolosnya.
“Janganlah. Kamu kan cewek, nggak baik buat kamu. Lagipula untuk apa, itu bukan sarana pelampiasan amarah yang baik.” Aku mulai berceramah. Seperti biasa. Ketika ada kawan wanita ku yang bercerita tentang masalah mereka padaku, aku pasti akan berceramah seperti ini. Mencoba memberikan solusi pada permasalahan mereka. Entah itu didengarkan atau tidak, tapi setidaknya itulah bentuk keperdulianku terhadap mereka.
Anda hanya mengangguk. Seolah pura-pura mengiyakan perkataanku agar aku segera pergi dari bangkunya. Aku pun menepuk bahu Anda sebelum pergi meninggalkannya. Aku harap kata-kata ku tadi didengar oleh Anda. Sangat disayangkan apabila manusia seceria dia harus jadi pendiam gara-gara kisah cintanya tak seindah novel teenlit favoritnya.
Setelah waktu berlalu, semua kembali seperti sedia kala. Anda kembali ceria seperti biasa. Bahkan di hadapan Fendy. Diantara mereka seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Jika aku jadi Fendy mungkin aku akan menyesali keputusanku. Aku hanya heran pada Anda. Bagaimana dia bisa menjalani hidupnya seceria itu. Penuh semangat. Seolah tidak ada kesedihan apa pun yang bisa menimpanya.
Keceriaan itu terus dibawanya hingga kami naik ke kelas 3. Sebenarnya aku sudah memiliki kawan-kawan dekat di kelas 2 sehingga kami tidak ingin dipisahkan di kelas 3. Namun guru BK berkata lain. Kami harus rela dipecah belah ke tiga kelas yang berbeda. Dan entah mengapa aku masih setia satu kelas dengan Dean dan juga Fendy. Tanpa disadari kami adalah teman sekelas selama 3 tahun di SMA.
Anda dan Sarah menjadi teman sekelas kami di kelas 3. Aku banyak menghabiskan waktu ku sepulang sekolah di rumah Sarah. Akhirnya sifat individual ku luluh juga. Aku berkawan dekat dengan Anda, Sarah, Rahmi, dan 2 teman mereka lainnya. Yah mencari teman wanita adalah keahlianku. Tapi dalam pertemanan dengan pria aku payah. Masih bagus aku bisa berteman akrab dengan Frankie walau dia lebih senang berteman dengan wanita dibanding aku. Aku dan Frankie akhirnya berpisah. Ia ditempatkan dikelas lain.
Akhirnya aku memutuskan untuk duduk dengan Sarah. Cewek dengan badan isi dan kulit sawo matang. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk sibuk dengan ponselnya daripada membaca buku pelajaran. Tapi sejauh ini, dia adalah teman yang asyik.
Sedangkan Anda duduk bersama Dean di belakang. Kami masih berada di satu deret untuk memastikan bahwa kami adalah satu komplotan. Fendy terpaksa mengungsi ke bangku lain karena konspirasiku dengan Anda dan Sarah. Ia sengaja kami pisahkan dengan Dean karena melindungi aku. Aku tidak mau duduk didepan sendiri sehingga Fendy yang kami korbankan. Mengingat sifat dasar Fendy yang penurut. Jadi konspirasi ku itu pun berjalan mulus.
“Sam, nanti pulang sekolah kamu ikut aja.” Sarah membenarkan rambutnya yang panjang sepunggung di depan kaca helm nya. Aku yang sedang asyik menggambar hanya mengangguk setuju. “Nanti aku sama anak-anak mau beli bando kembaran gitu. Frankie juga ikut kok.” Sarah masih berkutat dengan sisir dan rambutnya.
“Kemarin kan udah beli yang warna-warni itu.” Tanganku masih asyik menebali gambarku berkali-kali. “Yang kemarin kan polos biasa. Yang ini model baru, ada hiasan bentuk strawberry nya gitu. Lucu deh pokoknya.” Aku hanya bisa terdiam mendengar jawaban Sarah itu. Aku sudah hapal betul bagaimana kelakuan Sarah Cs.
Tidak cukup kembaran bando, mereka juga membeli cardigan yang sama. Hanya berbeda warna saja. Pink untuk Anda, merah untuk Sarah, hijau untuk Rahmi, dan warna lain untuk dua anggota yang lain. Dan pagi ini, sebelum kelas dimulai, Sarah sudah mengajak ku pergi bermain sepulang sekolah. Inilah realita dunia pendidikan tanpa embel-embel pencitraan.
“Hai kalian berdua. Nanti jadi ikut kan?” Anda muncul mengagetkan kami berdua. Ia baru datang ke kelas. Tumben sekali rasanya melihat Sarah lebih dahulu datang dibanding Anda. “Sam setuju ikut, nanti biar dia membonceng si Rahmi.” Sarah menunjukkan wajah puas. Seakan telah berhasil mendamaikan negara-negara timur tengah. Anda tersenyum simpul, “Oh ya sudah kalau begitu.” Kemudian ia beranjak menuju bangkunya. Aku hanya sempat melihat tas berwarna pink nya secara sekilas.
“Aku setuju ikut tapi kau tidak bilang apa-apa tentang membonceng Rahmi.” Aku menghentikan kegiatan menggambar abstrak ku. Sarah mengambil helm nya dari atas meja dan menaruhnya di kolong meja. “Terus si Rahmi mau dibonceng siapa lagi? Lagipula kau kan juga sudah sering memboncengnya.” Aku menutup buku tugas yang tadi kugambari. Aku sebenarnya tidak keberatan membonceng Rahmi. Tetapi ia terlalu kekanakan untuk sosok seorang Rahmi. Cewek yang didera banyak masalah seperti dia harusnya lebih mandiri dan tegas. Bukan malah sebaliknya. Memohon dan merengek seperti anak kecil dibawa ke pasar malam. Semua ingin dimiliki.
Bel sekolah berbunyi dan semua siswa langsung masuk ke dalam kelas. Dean datang bersama Fendy. Tampaknya mereka sudah datang daritadi namun tidak langsung masuk ke kelas. Walau pun kami selalu berada di kelas yang sama tapi aku seperti tidak punya daya untuk masuk ke lingkaran mereka. Aku berani taruhan, obrolan kami tidak akan seperti gayung bersambut. Memang nampaknya aku tidaklah ditakdirkan memiliki kawan baik laki-laki.
Tempat duduk Fendy tepat di depanku. Aku selalu disuguhkan dengan bentuk punggung Fendy yang lebar. Kadang aku harus menegurnya apabila posisi duduknya menghalangi pandanganku ke papan tulis. Tapi sebagai seorang yang penurut, dia tidak pernah melawanku. Aku suruh kekiri dia kekiri, aku suruh kekanan ia pun kekanan. Seperti itulah gambaran sifatnya.

No comments:

Post a Comment