Sahabat
sejati adalah orang yang setia pada kesenanganmu saja. Kemudian kemana mereka
saat kau sedang dalam kesusahan? Sebenarnya sahabat sejati tidak pernah ada
ketika kau sedang dalam kesusahan. Karena mereka, sahabat sejati, selalu bisa
membuat kesusahanmu menjadi kesenangan. Sehingga tidak sedetikpun dalam hidupmu
kau akan merasa kesusahan.
“Kau
tidak tahu ada hal menarik yang terjadi kemarin di Bali.” Frankie asyik
membolik-balik novel teenlit yang baru saja ia pinjam. “Memang ada apa?” aku
pun asyik membolak-balik lembar LKS ekonomi di depanku. “Anda jadian sama
Fendy. Kamu ketinggalan kabar penting.” Aku menghentikan aktivitasku. Kemudian
aku membalikkan badanku melihat ke belakang. Fendy memang terlihat sedang
bercengkrama dengan Anda di bangku paling belakang.
Fendy
adalah salah satu siswa yang duduk di deretku. Ia adalah teman sebangku Dean di
kelas 2. Ia juga teman kami dari kelas 1 SMA. Badannya tinggi tegap. Kulitnya
putih bersih dan memang secara fisik ia lebih oke daripada aku apalagi Frankie.
“Serius?
Kenapa bisa?” Aku memutar badanku menghadap Frankie. Saat ini jam kosong. Guru
Ekonomi kami tidak bisa mengajar karena ada kepentingan lain. Tentunya lebih
penting daripada kami sehingga ia meninggalkan tugas seabrek untuk dikerjakan.
Frankie meletakkan novel yang daritadi ia bolak-balik. “Kenapa nggak bisa?”
ucapnya sembari menatapku sedikit mengejek.
“Maksudnya
dulu mereka tidak tampak seperti sedang PDKT.” Kali ini aku benar-benar
melupakan tugas ekonomi yang seabrek tadi. “Makanya kamu kemarin harusnya ikut
ke Bali. Bukannya memilih untuk memperbaiki komputer lawas kakak mu.” Frankie
tau sedikit banyak tentang aku. Seiring berjalannya waktu aku jadi kompak
dengannya. Bahkan aku mewarisi sifat pemberontaknya.
Aku
memang tidak ikut dalam study tour sekolah ke Bali. Frankie maupun wali kelasku
tahu betul sebabnya. Aku lebih memilih mengalokasikan dana ke Bali untuk
memperbaiki komputer. Realitanya adalah, komputer itu lebih penting apalagi
untuk mendukung proses belajar daripada perjalanan hura-hura ke Bali berkedok
study tour. Seserius itu lah aku dalam hidupku.
Aku
kembali menoleh melihat wajah Anda yang dibingkai poni sampingnya yang baru
dipotong. Mereka terlihat sangat serasi dan saling melengkapi. Menurut ku. Anda
adalah orang yang bisa dibilang banyak bicara sedangkan Fendy sebaliknya.
Bahkan sebagai ketua kelas ia bisa dikategorikan pemalu. Dia akan berkeringat
deras dan terbata apabila harus memimpin rapat di depan kelas. Maka bisa
dibayangkaan bagaimana gugupnya dia jika sampai ada guru yang menunjuknya maju
ke depan.
“Kamu
gimana Sam? Mana cewek kamu? Kamu belum pernah pacaran kan?” Frankie
mengalihkan perhatianku pada pasangan baru tersebut. “Belum ada, naksir sih
sama temennya Anda dulu kelas 1. Tapi orangnya masih punya pacar.” Aku
mengambil ponsel yang kutaruh di laci meja. Tidak ada sms balasan dari orang
yang kumaksud.
“Masih
banyak cewek lain kali Sam.” Frankie kembali berkutat pada novelnya. Sedangkan
aku membuka pesan masuk dengan iseng. Membaca satu persatu pesan yang sempat
dikirimkan cewek pujaanku. Menyimpannya. Tidak berniat sedikitpun untuk
menghapusnya.
Hubungan
Fendy dan Anda ternyata tidak berjalan dengan baik. Aku tidak paham apa
penyebabnya. Namun mereka akhirnya putus. Anda kehilangan sesosok pria maskulin
secara fisik dan lembut secara mental. Ya Fendy memang dikenal sebagai yesman.
Ia jarang bahkan hampir tidak pernah membantah. Ia selalu menyetujui apa saja
usulan kami, siswa dikelas, tanpa memiliki kemampuan untuk mengintimidasi yang
lain. Contoh pemimpin super demokrat yang pernah ada.
Hubungan
Fendy dan Anda bisa dikatakan baru seumur jagung. Mungkin itulah yang membuat
Anda terpukul hingga ia sering membolos sekolah. Frankie adalah partner nomer
satu Anda dalam hal membolos. Karena walaupun Anda tidak mengajaknya, Frankie
memang sudah hobi membolos.
Anda
terlihat sangat sedih akan berakhirnya hubungannya dengan Fendy. Namun sejauh
pengamatanku Fendy tidak sedikitpun terlihat menyesal. Ia tampak biasa saja.
Entah karena memang ia tidak merasakan apa-apa, atau memang Fendy pintar
menyembunyikan emosi. Hanya Fendy yang tahu bagaimana perasaannya. Mungkin Dean
juga tahu, mengingat kedekatan mereka berdua sebagai teman sebangku.
“Anda,
kamu oke?” sudah agak lama aku tidak mengobrol atau bercanda dengan Anda. Sejak
Anda jadian kemudian putus dengan Fendy kalau tidak salah. “Pertanyaan macam
apa itu?” Anda tengah asyik bermain HP. Namun aku yakin perasaannya masih belum
membaik. “Ya cuma tanya aja. Soalnya aku denger dari Frankie kamu tertekan
banget.” Aku menggeser badanku kesamping hingga lenganku bertemu dengan lengan
Anda.
Aku
bisa melihat wajahku dari pantulan kaca helm yang diletakkan Anda di atas
mejanya. Aku pun duduk di kursi tepat disebelah Anda untuk mendengar kisah
versi Anda sendiri. Karena selama ini aku hanya mendengar dari Frankie. Dan aku
tidak dekat dengan Fendy sehingga aku tidak bisa menanyakan hal semacam ini
padanya.
“Buruk.
Tapi semua akan membaik. Ya kan?” Anda tidak melepaskan perhatiannya dari
ponsel di tangannya. Aku mengangguk. “Kata Frankie kamu mulai mencoba merokok?”
tanyaku penuh keingintahuan. Anda hanya terdiam mendengar pertanyaanku itu. Ia
tampak lebih tertutup terhadapku dibanding terhadap Frankie. Partner
membolosnya.
“Janganlah.
Kamu kan cewek, nggak baik buat kamu. Lagipula untuk apa, itu bukan sarana
pelampiasan amarah yang baik.” Aku mulai berceramah. Seperti biasa. Ketika ada
kawan wanita ku yang bercerita tentang masalah mereka padaku, aku pasti akan
berceramah seperti ini. Mencoba memberikan solusi pada permasalahan mereka.
Entah itu didengarkan atau tidak, tapi setidaknya itulah bentuk keperdulianku
terhadap mereka.
Anda
hanya mengangguk. Seolah pura-pura mengiyakan perkataanku agar aku segera pergi
dari bangkunya. Aku pun menepuk bahu Anda sebelum pergi meninggalkannya. Aku
harap kata-kata ku tadi didengar oleh Anda. Sangat disayangkan apabila manusia
seceria dia harus jadi pendiam gara-gara kisah cintanya tak seindah novel
teenlit favoritnya.
Setelah
waktu berlalu, semua kembali seperti sedia kala. Anda kembali ceria seperti
biasa. Bahkan di hadapan Fendy. Diantara mereka seperti tidak pernah terjadi
apa-apa. Jika aku jadi Fendy mungkin aku akan menyesali keputusanku. Aku hanya
heran pada Anda. Bagaimana dia bisa menjalani hidupnya seceria itu. Penuh
semangat. Seolah tidak ada kesedihan apa pun yang bisa menimpanya.
Keceriaan
itu terus dibawanya hingga kami naik ke kelas 3. Sebenarnya aku sudah memiliki
kawan-kawan dekat di kelas 2 sehingga kami tidak ingin dipisahkan di kelas 3.
Namun guru BK berkata lain. Kami harus rela dipecah belah ke tiga kelas yang
berbeda. Dan entah mengapa aku masih setia satu kelas dengan Dean dan juga
Fendy. Tanpa disadari kami adalah teman sekelas selama 3 tahun di SMA.
Anda
dan Sarah menjadi teman sekelas kami di kelas 3. Aku banyak menghabiskan waktu
ku sepulang sekolah di rumah Sarah. Akhirnya sifat individual ku luluh juga.
Aku berkawan dekat dengan Anda, Sarah, Rahmi, dan 2 teman mereka lainnya. Yah
mencari teman wanita adalah keahlianku. Tapi dalam pertemanan dengan pria aku
payah. Masih bagus aku bisa berteman akrab dengan Frankie walau dia lebih
senang berteman dengan wanita dibanding aku. Aku dan Frankie akhirnya berpisah.
Ia ditempatkan dikelas lain.
Akhirnya
aku memutuskan untuk duduk dengan Sarah. Cewek dengan badan isi dan kulit sawo
matang. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk sibuk dengan ponselnya
daripada membaca buku pelajaran. Tapi sejauh ini, dia adalah teman yang asyik.
Sedangkan
Anda duduk bersama Dean di belakang. Kami masih berada di satu deret untuk
memastikan bahwa kami adalah satu komplotan. Fendy terpaksa mengungsi ke bangku
lain karena konspirasiku dengan Anda dan Sarah. Ia sengaja kami pisahkan dengan
Dean karena melindungi aku. Aku tidak mau duduk didepan sendiri sehingga Fendy
yang kami korbankan. Mengingat sifat dasar Fendy yang penurut. Jadi konspirasi
ku itu pun berjalan mulus.
“Sam,
nanti pulang sekolah kamu ikut aja.” Sarah membenarkan rambutnya yang panjang
sepunggung di depan kaca helm nya. Aku yang sedang asyik menggambar hanya
mengangguk setuju. “Nanti aku sama anak-anak mau beli bando kembaran gitu. Frankie
juga ikut kok.” Sarah masih berkutat dengan sisir dan rambutnya.
“Kemarin
kan udah beli yang warna-warni itu.” Tanganku masih asyik menebali gambarku
berkali-kali. “Yang kemarin kan polos biasa. Yang ini model baru, ada hiasan
bentuk strawberry nya gitu. Lucu deh pokoknya.” Aku hanya bisa terdiam
mendengar jawaban Sarah itu. Aku sudah hapal betul bagaimana kelakuan Sarah Cs.
Tidak
cukup kembaran bando, mereka juga membeli cardigan yang sama. Hanya berbeda
warna saja. Pink untuk Anda, merah untuk Sarah, hijau untuk Rahmi, dan warna
lain untuk dua anggota yang lain. Dan pagi ini, sebelum kelas dimulai, Sarah
sudah mengajak ku pergi bermain sepulang sekolah. Inilah realita dunia
pendidikan tanpa embel-embel pencitraan.
“Hai
kalian berdua. Nanti jadi ikut kan?” Anda muncul mengagetkan kami berdua. Ia
baru datang ke kelas. Tumben sekali rasanya melihat Sarah lebih dahulu datang
dibanding Anda. “Sam setuju ikut, nanti biar dia membonceng si Rahmi.” Sarah
menunjukkan wajah puas. Seakan telah berhasil mendamaikan negara-negara timur
tengah. Anda tersenyum simpul, “Oh ya sudah kalau begitu.” Kemudian ia beranjak
menuju bangkunya. Aku hanya sempat melihat tas berwarna pink nya secara
sekilas.
“Aku
setuju ikut tapi kau tidak bilang apa-apa tentang membonceng Rahmi.” Aku
menghentikan kegiatan menggambar abstrak ku. Sarah mengambil helm nya dari atas
meja dan menaruhnya di kolong meja. “Terus si Rahmi mau dibonceng siapa lagi?
Lagipula kau kan juga sudah sering memboncengnya.” Aku menutup buku tugas yang
tadi kugambari. Aku sebenarnya tidak keberatan membonceng Rahmi. Tetapi ia
terlalu kekanakan untuk sosok seorang Rahmi. Cewek yang didera banyak masalah
seperti dia harusnya lebih mandiri dan tegas. Bukan malah sebaliknya. Memohon
dan merengek seperti anak kecil dibawa ke pasar malam. Semua ingin dimiliki.
Bel
sekolah berbunyi dan semua siswa langsung masuk ke dalam kelas. Dean datang
bersama Fendy. Tampaknya mereka sudah datang daritadi namun tidak langsung
masuk ke kelas. Walau pun kami selalu berada di kelas yang sama tapi aku
seperti tidak punya daya untuk masuk ke lingkaran mereka. Aku berani taruhan,
obrolan kami tidak akan seperti gayung bersambut. Memang nampaknya aku tidaklah
ditakdirkan memiliki kawan baik laki-laki.
Tempat
duduk Fendy tepat di depanku. Aku selalu disuguhkan dengan bentuk punggung
Fendy yang lebar. Kadang aku harus menegurnya apabila posisi duduknya
menghalangi pandanganku ke papan tulis. Tapi sebagai seorang yang penurut, dia
tidak pernah melawanku. Aku suruh kekiri dia kekiri, aku suruh kekanan ia pun
kekanan. Seperti itulah gambaran sifatnya.
No comments:
Post a Comment