Jadwal
ujian nasional sudah dibagikan. Aku agak khawatir dengan kesan menakutkan yang
digadang-gadangkan mengenai ujian nasional. Sebenarnya aku bukannya tidak
percaya diri, namun pihak sekolah dan media seolah membuat ujian nasional
seperti jembatan shirotolmustaqim. Jembatan di akhirat sana yang hanya bisa
dilalui oleh orang-orang beriman dan bertaqwa. Jika gagal melewatinya. Kau akan
terjatuh dan disiksa di neraka. Seperti itulah kesan yang dibawa ujian
nasional.
Siang
ini aku masih belum beranjak dari sekolah. Semua kelas sudah sepi kecuali
beberapa sudut yang menyisakan pasangan muda mudi. Aku duduk di depan kelas di
temani Anda, Frankie, dan Rahmi. Akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu
berempat. Selain Anda dan Frankie sekarang sudah resmi berpacaran. Ini juga
masa-masa terakhir kami menikmati status pelajar SMA. Seminggu kedepan tidak
mungkin kami bisa bermain.
“Kalian
mau ngapain setelah lulus sekolah?” Frankie duduk tepat disebelah Anda. Sudah
beberapa bulan ini mereka berpacaran. Tepatnya beberapa minggu setelah mereka
menjenguk ku. “Kuliah.” Jawabku mantap. Aku senang karena aku merasa sudah
mendapatkan universitas dan jurusan yang sesuai dengan minatku. Hebatnya lagi
orang tua ku mendukung keinginanku ini.
“Anda?”
Frankie melirik kekasih disampingnya itu. “Kuliah juga, semoga diterima di
universitas negeri.” Anda menengadahkan telapak tangannya seolah berdoa.
“Amien. Rahmi?” Frankie menoleh ka arah Rahmi yang berdiri tak jauh dari kami.
Bersender pada sebuah pohon sambil menatap paving halaman sekolah. “Semoga bisa
kuliah. Atau kalau tidak diterima di universitas negeri mungkin akan kerja dulu
setahun.” Ia tersenyum kecil. Seolah berusaha menghibur hatinya sendiri. Dan
tentu saja berkata pada kami bahwa dia baik-baik saja.
“Kau
sendiri Frankie?” aku langsung mengalihkan perhatian. Tidak ingin terjebak
dalam rasa simpati pada Rahmi. “Entahlah. Aku ingin menyusul kedua orang tua ku
dulu di kalimantan.” Ucapnya dengan malu-malu. Frankie harus tinggal sendiri
setahun terakhir ini karena ayahnya dipindahtugaskan ke kalimantan. Pulau yang
jauh dari tempat kami sekarang.
“Aku
tidak bisa membayangkan kita akan segera jadi anak kuliahan. Setidaknya aku
bisa pulang kapanpun aku mau.” Anda menunjukkan senyum terbaiknya. Seolah hidup
hanya persoalan lulus tidaknya kita dari sekolah menengah atas. Frankie
meliriknya galak. Aku hanya tersenyum melihat reaksi Frankie. Mana mungkin bisa
pulang seenaknya. Frankie kan tipe cowok posesif. Yang baru aku ketahui setelah
Anda bercerita tentang masalah mereka berdua.
“Jadi
tidak ada yang mengantarkan aku pulang ke rumah. Padahal aku belum bisa
mengendarai sepeda motor.” Rahmi memandangku sedikit mengiba. Aku hanya
mengerutkan dahiku. Sementara Anda dan Frankie malah batuk-batuk tidak jelas.
Aku pun bingung. Aku tidak mau disangka menikmati perjalanan dari sekolah ke
rumah Rahmi yang bisa dibilang jauh. Atau tidak mau disangka suka pada Rahmi.
Dan tidak mau Rahmi menyalahartikan kebaikanku.
“Aku
cuma kasihan jika kau pulang malam-malam sendirian. Selain angkutan sudah
jarang, anak-anak juga selalu menyuruhku mengantarkanmu.” Kata-kata itu pun
keluar begitu saja. Tapi begitulah aku, aku bisa melakukan apa saja demi nama
persahabatan. Aku pernah memberikan buku cerita karanganku agar Dean punya
bahan karya sastra di kelas. Aku juga pernah menerobos hujan deras hanya untuk
mengambil kue ulang tahun untuk Frankie. Jadi kebiasaan mengantar Rahmi ke
rumah bukanlah sebuah hal yang spesial bagiku.
“Iya,
aku juga tahu, itu hanya bercanda.” Rahmi kembali menatap paving dibawahnya.
Aku sedikit lega bisa menghalau kesalahpahamannya. Karena saat itu aku sudah
terlanjur menyukai seseorang. Namun apa mau dikata, aku terlambat menyadarinya.
Aku sadar ketika dia telah berada di sisi orang lain.
Di
depanku sekarang. Persis berdampingan dengan Frankie si manusia culun yang
mengucapkan huruf S dengan lidah yang digigit diantara giginya. Anda. Sesosok
manusia yang ternyata selalu ada di sisi ku. Sesosok manusia yang tidak tampak
walaupun dia berdiri diantara kedua alisku.
Anda
banyak memberikan ku harapan. Aku merasa nyaman berada di sampingnya. Dan dia
membuatku menjadi diriku. Namun begitulah manusia. Tidak akan pernah puas akan
sesuatu. Begitu pula Anda yang tidak puas dengan hubungan pertemanan kami. Dia
membutuhkan seseorang yang lebih dari teman. Aku tidak bisa memberikan itu.
Karena aku sendiri malah terlena dengan kisah cinta sepihak ku dengan Gigi.
Kisah itu membutakan ku dari kehadiran Anda.
Bagaimana
seringnya aku dan Rahmi berboncengan, tidak bisa dibandingkan saat dengan Anda.
Mulutnya yang banyak bicara. Melontarkan pertanyaan dan bergurau. Membuatku
tidak sadar akan lamanya waktu berjalan. Dia yang membawaku keluar dari dunia
keseriusan yang tinggi. Dia menanggalkan kelakuan manusia culun ku di sekolah.
Dia mengantarkanku kepada dunia.
Anda
lah orang nya. Yang membuat aku tertarik. Mengenal satu persatu anggota
keluarganya. Merelakan ban motorku bocor hanya untuk memenuhi undangan main
kerumahnya. Itu semua karena aku suka padanya. Selama ini aku tinggal dibelahan
bumi lain. terkungkung dalam kesepian dan kisah sedih. Mengasihani diriku
sendiri yang tidak beruntung di dunia ini. Yang gagal mendapatkan cinta
pertamanya. Dan melihatnya bahagia dengan orang lain.
Hal
itu membuatku sadar akan kehadiran Anda. Teman wanita nomer satu dihatiku. Dan
kini sudah dimiliki oleh mantan teman sebangku ku. Pahit memang. Namun ini lah
hidup. Jika manis maka disebut permen. Jika indah maka akan disebut pelangi.
Satu
pertanyaanku mengenai Anda. Pertanyaan yang mungkin sedikit kasar. Pertanyaan
tidak baik mengenai hubungannya dengan Frankie. Kapankah hubungan itu akan
berakhir. Sudah banyak cerita Anda mengenai kejelekan Frankie namun mereka
masih terlihat bersama sampai sekarang. Bahkan dihadapanku. Mereka tersenyum
bahagia, melihat satu sama lain dengan kegembiraan. Tanpa menghiraukan bahwa
aku ada disana. Bahkan Rahmi pun ada di sana. Walau nampaknya ia lebih
menikmati paving yang ada di seluruh halaman sekolah ini.
No comments:
Post a Comment