Saturday, 8 March 2014

Anda

Jadwal ujian nasional sudah dibagikan. Aku agak khawatir dengan kesan menakutkan yang digadang-gadangkan mengenai ujian nasional. Sebenarnya aku bukannya tidak percaya diri, namun pihak sekolah dan media seolah membuat ujian nasional seperti jembatan shirotolmustaqim. Jembatan di akhirat sana yang hanya bisa dilalui oleh orang-orang beriman dan bertaqwa. Jika gagal melewatinya. Kau akan terjatuh dan disiksa di neraka. Seperti itulah kesan yang dibawa ujian nasional.
Siang ini aku masih belum beranjak dari sekolah. Semua kelas sudah sepi kecuali beberapa sudut yang menyisakan pasangan muda mudi. Aku duduk di depan kelas di temani Anda, Frankie, dan Rahmi. Akhir-akhir ini kami sering menghabiskan waktu berempat. Selain Anda dan Frankie sekarang sudah resmi berpacaran. Ini juga masa-masa terakhir kami menikmati status pelajar SMA. Seminggu kedepan tidak mungkin kami bisa bermain.
“Kalian mau ngapain setelah lulus sekolah?” Frankie duduk tepat disebelah Anda. Sudah beberapa bulan ini mereka berpacaran. Tepatnya beberapa minggu setelah mereka menjenguk ku. “Kuliah.” Jawabku mantap. Aku senang karena aku merasa sudah mendapatkan universitas dan jurusan yang sesuai dengan minatku. Hebatnya lagi orang tua ku mendukung keinginanku ini.
“Anda?” Frankie melirik kekasih disampingnya itu. “Kuliah juga, semoga diterima di universitas negeri.” Anda menengadahkan telapak tangannya seolah berdoa. “Amien. Rahmi?” Frankie menoleh ka arah Rahmi yang berdiri tak jauh dari kami. Bersender pada sebuah pohon sambil menatap paving halaman sekolah. “Semoga bisa kuliah. Atau kalau tidak diterima di universitas negeri mungkin akan kerja dulu setahun.” Ia tersenyum kecil. Seolah berusaha menghibur hatinya sendiri. Dan tentu saja berkata pada kami bahwa dia baik-baik saja.
“Kau sendiri Frankie?” aku langsung mengalihkan perhatian. Tidak ingin terjebak dalam rasa simpati pada Rahmi. “Entahlah. Aku ingin menyusul kedua orang tua ku dulu di kalimantan.” Ucapnya dengan malu-malu. Frankie harus tinggal sendiri setahun terakhir ini karena ayahnya dipindahtugaskan ke kalimantan. Pulau yang jauh dari tempat kami sekarang.
“Aku tidak bisa membayangkan kita akan segera jadi anak kuliahan. Setidaknya aku bisa pulang kapanpun aku mau.” Anda menunjukkan senyum terbaiknya. Seolah hidup hanya persoalan lulus tidaknya kita dari sekolah menengah atas. Frankie meliriknya galak. Aku hanya tersenyum melihat reaksi Frankie. Mana mungkin bisa pulang seenaknya. Frankie kan tipe cowok posesif. Yang baru aku ketahui setelah Anda bercerita tentang masalah mereka berdua.
“Jadi tidak ada yang mengantarkan aku pulang ke rumah. Padahal aku belum bisa mengendarai sepeda motor.” Rahmi memandangku sedikit mengiba. Aku hanya mengerutkan dahiku. Sementara Anda dan Frankie malah batuk-batuk tidak jelas. Aku pun bingung. Aku tidak mau disangka menikmati perjalanan dari sekolah ke rumah Rahmi yang bisa dibilang jauh. Atau tidak mau disangka suka pada Rahmi. Dan tidak mau Rahmi menyalahartikan kebaikanku.
“Aku cuma kasihan jika kau pulang malam-malam sendirian. Selain angkutan sudah jarang, anak-anak juga selalu menyuruhku mengantarkanmu.” Kata-kata itu pun keluar begitu saja. Tapi begitulah aku, aku bisa melakukan apa saja demi nama persahabatan. Aku pernah memberikan buku cerita karanganku agar Dean punya bahan karya sastra di kelas. Aku juga pernah menerobos hujan deras hanya untuk mengambil kue ulang tahun untuk Frankie. Jadi kebiasaan mengantar Rahmi ke rumah bukanlah sebuah hal yang spesial bagiku.
“Iya, aku juga tahu, itu hanya bercanda.” Rahmi kembali menatap paving dibawahnya. Aku sedikit lega bisa menghalau kesalahpahamannya. Karena saat itu aku sudah terlanjur menyukai seseorang. Namun apa mau dikata, aku terlambat menyadarinya. Aku sadar ketika dia telah berada di sisi orang lain.
Di depanku sekarang. Persis berdampingan dengan Frankie si manusia culun yang mengucapkan huruf S dengan lidah yang digigit diantara giginya. Anda. Sesosok manusia yang ternyata selalu ada di sisi ku. Sesosok manusia yang tidak tampak walaupun dia berdiri diantara kedua alisku.
Anda banyak memberikan ku harapan. Aku merasa nyaman berada di sampingnya. Dan dia membuatku menjadi diriku. Namun begitulah manusia. Tidak akan pernah puas akan sesuatu. Begitu pula Anda yang tidak puas dengan hubungan pertemanan kami. Dia membutuhkan seseorang yang lebih dari teman. Aku tidak bisa memberikan itu. Karena aku sendiri malah terlena dengan kisah cinta sepihak ku dengan Gigi. Kisah itu membutakan ku dari kehadiran Anda.
Bagaimana seringnya aku dan Rahmi berboncengan, tidak bisa dibandingkan saat dengan Anda. Mulutnya yang banyak bicara. Melontarkan pertanyaan dan bergurau. Membuatku tidak sadar akan lamanya waktu berjalan. Dia yang membawaku keluar dari dunia keseriusan yang tinggi. Dia menanggalkan kelakuan manusia culun ku di sekolah. Dia mengantarkanku kepada dunia.
Anda lah orang nya. Yang membuat aku tertarik. Mengenal satu persatu anggota keluarganya. Merelakan ban motorku bocor hanya untuk memenuhi undangan main kerumahnya. Itu semua karena aku suka padanya. Selama ini aku tinggal dibelahan bumi lain. terkungkung dalam kesepian dan kisah sedih. Mengasihani diriku sendiri yang tidak beruntung di dunia ini. Yang gagal mendapatkan cinta pertamanya. Dan melihatnya bahagia dengan orang lain.
Hal itu membuatku sadar akan kehadiran Anda. Teman wanita nomer satu dihatiku. Dan kini sudah dimiliki oleh mantan teman sebangku ku. Pahit memang. Namun ini lah hidup. Jika manis maka disebut permen. Jika indah maka akan disebut pelangi.

Satu pertanyaanku mengenai Anda. Pertanyaan yang mungkin sedikit kasar. Pertanyaan tidak baik mengenai hubungannya dengan Frankie. Kapankah hubungan itu akan berakhir. Sudah banyak cerita Anda mengenai kejelekan Frankie namun mereka masih terlihat bersama sampai sekarang. Bahkan dihadapanku. Mereka tersenyum bahagia, melihat satu sama lain dengan kegembiraan. Tanpa menghiraukan bahwa aku ada disana. Bahkan Rahmi pun ada di sana. Walau nampaknya ia lebih menikmati paving yang ada di seluruh halaman sekolah ini.

No comments:

Post a Comment