Thursday, 6 March 2014

Masa Lalu

Masa lalu adalah sebuah cermin. Diri kita saat ini adalah refleksi dari bayangan di cermin tersebut. Jangan pernah pecahkan cermin itu setidaksuka apa pun kita pada refleksi di cermin itu. Tangan kita bisa terluka. Berdarah. Bahkan infeksi. Cukup pandangi saja cermin itu. Karena pasti ada banyak detail yang kita lewatkan, yang membuat kita tersadar akan indahnya diri kita. Akan banyaknya noda yang terlihat jelas. Selalu ada sisi buruk disamping sisi baik. Begitupula sebaliknya.


















Akhir bulan september hujan semakin sering jatuh membasahi kota Semarang. Beberapa tempat pun dilanda kebanjiran. Udara dingin pun membawa banyak penyakit musiman. Salah satunya aku yang menderita demam parah. Bahkan sudah 3 hari aku tidak berangkat sekolah.
Dirumah keadaan ku belum membaik. Tidak pernah sebelumnya aku izin sakit selama ini. Mungkin cuaca akhir-akhir ini ditambah daya imunku yang kurang baik menjadi penyebabnya. Sore ini pun badanku masih terbaring lemah di tempat tidur. Sesekali ibu ku masuk ke dalam kamarku untuk memeriksa keadaanku. Belum ada tanda-tanda kesembuhan dari badanku.
Sore ini udara masih sangat dingin. Badanku yang sudah tertutup selimut tebal masih merasakan hawa dingin yang masuk dari sela-sela jendela kamar. Hujan tidak turun sore ini, tetapi awan tebal memenuhi langit. Tinggal menunggu waktu saja kapan air akan berhamburan dari awan tersebut.
Samar ku dengar suara beberapa motor dari depan rumahku. Tidak banyak motor yang lewat depan rumahku karena ukuran jalannya yang sempit. Jadi jelas ada beberapa motor yang secara sengaja berhenti di depan rumahku.
Aku mendengar suara kawan-kawanku dari kejauhan. Dimana pun tampaknya mereka selalu bisa menimbulkan suara gaduh. Ibu membuka pintu kamarku perlahan, “Ada kawan-kawan mu datang menjenguk.” Ujarnya kemudian pergi menghilang dibalik daun pintu yang ternganga.
“Sam, gimana kondisi mu?” Frankie masuk terlebih dahulu ke dalam kamarku. Ia pernah beberapa kali main ke rumah ku. Baik untuk memperbaiki komputerku yang rusak atau sekedar menghabiskan sore bersama.
Aku hanya tersenyum simpul. Bisa aku lihat sosok-sosok lain seperti Sarah, Anda dan Rahmi di belakang Frankie. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam kamarku. Untung kamarku lebih dari cukup untuk menampung mereka semua. Lagipula ide siapa ini. Ide menjenguk ku, macam pelajaran PPKN saja.
“Alhamdulillah sudah membaik. Mungkin senin minggu depan aku sudah bisa ke sekolah.” Aku berusaha duduk bersandar pada dinding untuk menghormati kedatangan mereka. “Kamu tertinggal banyak tugas dan PR.” Anda melihatku dengan matanya yang bulat. Mata yang akan ku ingat sampai kapanpun.
Aku hanya terkekeh. Bagaimana mungkin orang seperti Anda mementingkan tugas dan PR. Bahan obrolan macam apa ini. “Ada gosip apa di kelas?” aku mencoba mencari bahan perbincangan yang sesuai dengan mereka. “Apa ya? Tidak banyak yang terjadi tiga hari ini. Makanya lekas sembuh biar bisa main bareng lagi.” Sarah duduk di belakang Frankie. Sedangkan Rahmi terlihat asyik mengamati kamarku dari ujung sampai ke ujung. Namun aku abaikan hal itu.
“Aku cuma kurang istirahat. Lagian beberapa hari yang lalu aku selalu saja kehujanan. Jas hujan tidak begitu berpengaruh.” Aku mencoba mencari alasan rasional mengapa aku sampai sakit. Alasan yang sebenarnya aku karang. Mungkin hal itu juga bisa menjadi penyebabnya. Namun sebagian besar bukan karena hal itu.
“Itu Ibu siapkan makanan didepan, ayo pada makan dulu.” Ibu tiba-tiba menunjukkan kepalanya dari pintu kamarku. Itu adalah kebiasaan ibu untuk menjamu setiap teman yang berkunjung ke rumahku. Tidak boleh ada jawaban tidak dari mereka.
Frankie, Sarah, dan Rahmi menuruti perintah Ibu ku dengan sungkan. Mereka berjalan keluar dari kamarku. Namun Anda masih duduk ditempatnya. Bisa ku lihat wajah Frankie yang tampak gelisah mengetahui Anda tidak ikut bersama mereka. “Kau tidak makan?” aku memandang Anda dan sesekali melihat Frankie yang menuju ruang tengah. “Aku sudah makan tadi di kantin. Mereka belum. Nih kami bawakan puding.” Anda menyodorkan puding susu kegemaranku.
Aku melihat puding yang biasanya sangat menggiurkan. Namun sekarang tidak ada sedikitpun syaraf motorik ku yang terangsang untuk bergerak mengambilnya. Anda terdiam. Ia tampak sedang berpikir. “Jadi bagaimana? Ulang tahun Gigi?” aku memejamkan mataku sejenak. Antara amarah dan kesedihan berkumpul jadi satu setelah mendengar pertanyaan Anda itu.
“Maaf, tapi jangan terlarut dalam kesedihan Sam.” Anda duduk mendekat. Kami terpaut jarak 100 cm satu sama lain. aku membuka mataku. Mencoba menghalau kesedihanku. “Ulang tahunnya ya begitu. Aku belum berani mengatakan apa-apa pada Gigi. Namun seharusnya dia tahu apa yang aku rasakan. Kura-kura dan boneka lebah itu mewakili segalanya.” Aku menggertakkan gigiku mengingat kejadian beberapa hari yang lalu.
“Sampai aku sadar bahwa Gigi mulai menjauh dan pertandingan bola basket minggu lalu...” aku tercekat. Bibirku berhenti pada bentuk u. Tidak sanggup aku menceritakannya pada Anda. Seseorang yang sangat mendukungku untuk mendekati Gigi. Bahkan mungkin dia satu-satunya orang yang mendukungku langsung. Tidak hanya ucapan namun juga perbuatan.
Anda yang menemaniku menembus panasnya pasar hewan untuk seekor kura-kura betina. Bergumul dengan aroma kurang sedap dan asap knalpot di berbagai sudut pasar. Ia juga yang menemaniku membeli boneka lebah. Yang secara tidak sengaja kami temukan di pusat perbelanjaan di simpang lima. Begitu besar jasanya agar cintaku tersampaikan pada Gigi.
“Aku tahu masalah pertandingan bola basket itu. Ku dengar juga Gigi dan salah satu pemain bola basket punya hubungan spesial.” Anda membenarkan poni sampingnya yang sudah agak panjang. Aku sedikit patah hati saat ini. Ini pengalaman pertama bagiku. Pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan maksudku. Karena aku kira selama ini Gigi juga tertarik padaku. Namun ternyata aku belum bisa membedakan antara harapan, kemungkinan, dan kenyataan.
“Tapi terimakasih sudah banyak membantu.” Aku menjulurkan tangan kananku ke arah Anda. Anda pun menjabat tanganku dengan senyuman malu-malu. Pasti dia pikir aku terlalu berlebihan menanggapi semua ini. Namun karena Anda lah aku jadi punya sedikit keberanian untuk mendekati seseorang. Tidak hanya terdiam. Membatin. Dan mengagumi dalam hati. Karena yakinlah orang yang kita suka bukanlah peramal. Mereka tidak bisa membaca pikiran kita. Kecuali jika kau memang suka pada peramal.
Anda melepaskan jabatan tangan kami. Ia terdiam untuk beberapa saat. Aku tahu dia sedang memikirkan sesuatu karena dia tidak biasanya seperti ini. Karena misi Anda membantu perjuangan cintaku akhirnya aku dan Anda sering menghabiskan waktu bersama. Tidak jarang hanya aku dan dia. Tanpa adanya Frankie, Sarah, Rahmi, Dean, atau yang lain.

“Lalu bagaimana perjuanganmu? Sudah berakhir?” Anda akhirnya berhasil melontarkan sebuah pertanyaan dari mulutnya. Aku cukup banyak berpikir akhir-akhir ini. Kepalaku pun sering pusing dibuatnya. Sehingga tanpa berpikir panjang aku pun menjawab, “Aku tidak semudah itu berputus asa. Selama mereka belum resmi jadian, masih ada jalan kan untuk ku?” Anda hanya tersenyum sambil menganggukkan kepalanya beberapa kali.

No comments:

Post a Comment