Masa
lalu adalah sebuah cermin. Diri kita saat ini adalah refleksi dari bayangan di
cermin tersebut. Jangan pernah pecahkan cermin itu setidaksuka apa pun kita
pada refleksi di cermin itu. Tangan kita bisa terluka. Berdarah. Bahkan
infeksi. Cukup pandangi saja cermin itu. Karena pasti ada banyak detail yang
kita lewatkan, yang membuat kita tersadar akan indahnya diri kita. Akan
banyaknya noda yang terlihat jelas. Selalu ada sisi buruk disamping sisi baik.
Begitupula sebaliknya.
Akhir
bulan september hujan semakin sering jatuh membasahi kota Semarang. Beberapa
tempat pun dilanda kebanjiran. Udara dingin pun membawa banyak penyakit
musiman. Salah satunya aku yang menderita demam parah. Bahkan sudah 3 hari aku
tidak berangkat sekolah.
Dirumah
keadaan ku belum membaik. Tidak pernah sebelumnya aku izin sakit selama ini.
Mungkin cuaca akhir-akhir ini ditambah daya imunku yang kurang baik menjadi
penyebabnya. Sore ini pun badanku masih terbaring lemah di tempat tidur. Sesekali
ibu ku masuk ke dalam kamarku untuk memeriksa keadaanku. Belum ada tanda-tanda
kesembuhan dari badanku.
Sore
ini udara masih sangat dingin. Badanku yang sudah tertutup selimut tebal masih
merasakan hawa dingin yang masuk dari sela-sela jendela kamar. Hujan tidak
turun sore ini, tetapi awan tebal memenuhi langit. Tinggal menunggu waktu saja
kapan air akan berhamburan dari awan tersebut.
Samar
ku dengar suara beberapa motor dari depan rumahku. Tidak banyak motor yang
lewat depan rumahku karena ukuran jalannya yang sempit. Jadi jelas ada beberapa
motor yang secara sengaja berhenti di depan rumahku.
Aku
mendengar suara kawan-kawanku dari kejauhan. Dimana pun tampaknya mereka selalu
bisa menimbulkan suara gaduh. Ibu membuka pintu kamarku perlahan, “Ada kawan-kawan
mu datang menjenguk.” Ujarnya kemudian pergi menghilang dibalik daun pintu yang
ternganga.
“Sam,
gimana kondisi mu?” Frankie masuk terlebih dahulu ke dalam kamarku. Ia pernah
beberapa kali main ke rumah ku. Baik untuk memperbaiki komputerku yang rusak
atau sekedar menghabiskan sore bersama.
Aku
hanya tersenyum simpul. Bisa aku lihat sosok-sosok lain seperti Sarah, Anda dan
Rahmi di belakang Frankie. Mereka berbondong-bondong masuk ke dalam kamarku.
Untung kamarku lebih dari cukup untuk menampung mereka semua. Lagipula ide
siapa ini. Ide menjenguk ku, macam pelajaran PPKN saja.
“Alhamdulillah
sudah membaik. Mungkin senin minggu depan aku sudah bisa ke sekolah.” Aku
berusaha duduk bersandar pada dinding untuk menghormati kedatangan mereka.
“Kamu tertinggal banyak tugas dan PR.” Anda melihatku dengan matanya yang
bulat. Mata yang akan ku ingat sampai kapanpun.
Aku
hanya terkekeh. Bagaimana mungkin orang seperti Anda mementingkan tugas dan PR.
Bahan obrolan macam apa ini. “Ada gosip apa di kelas?” aku mencoba mencari
bahan perbincangan yang sesuai dengan mereka. “Apa ya? Tidak banyak yang
terjadi tiga hari ini. Makanya lekas sembuh biar bisa main bareng lagi.” Sarah
duduk di belakang Frankie. Sedangkan Rahmi terlihat asyik mengamati kamarku
dari ujung sampai ke ujung. Namun aku abaikan hal itu.
“Aku
cuma kurang istirahat. Lagian beberapa hari yang lalu aku selalu saja
kehujanan. Jas hujan tidak begitu berpengaruh.” Aku mencoba mencari alasan
rasional mengapa aku sampai sakit. Alasan yang sebenarnya aku karang. Mungkin
hal itu juga bisa menjadi penyebabnya. Namun sebagian besar bukan karena hal
itu.
“Itu
Ibu siapkan makanan didepan, ayo pada makan dulu.” Ibu tiba-tiba menunjukkan
kepalanya dari pintu kamarku. Itu adalah kebiasaan ibu untuk menjamu setiap
teman yang berkunjung ke rumahku. Tidak boleh ada jawaban tidak dari mereka.
Frankie,
Sarah, dan Rahmi menuruti perintah Ibu ku dengan sungkan. Mereka berjalan
keluar dari kamarku. Namun Anda masih duduk ditempatnya. Bisa ku lihat wajah
Frankie yang tampak gelisah mengetahui Anda tidak ikut bersama mereka. “Kau
tidak makan?” aku memandang Anda dan sesekali melihat Frankie yang menuju ruang
tengah. “Aku sudah makan tadi di kantin. Mereka belum. Nih kami bawakan
puding.” Anda menyodorkan puding susu kegemaranku.
Aku
melihat puding yang biasanya sangat menggiurkan. Namun sekarang tidak ada
sedikitpun syaraf motorik ku yang terangsang untuk bergerak mengambilnya. Anda
terdiam. Ia tampak sedang berpikir. “Jadi bagaimana? Ulang tahun Gigi?” aku
memejamkan mataku sejenak. Antara amarah dan kesedihan berkumpul jadi satu
setelah mendengar pertanyaan Anda itu.
“Maaf,
tapi jangan terlarut dalam kesedihan Sam.” Anda duduk mendekat. Kami terpaut
jarak 100 cm satu sama lain. aku membuka mataku. Mencoba menghalau kesedihanku.
“Ulang tahunnya ya begitu. Aku belum berani mengatakan apa-apa pada Gigi. Namun
seharusnya dia tahu apa yang aku rasakan. Kura-kura dan boneka lebah itu
mewakili segalanya.” Aku menggertakkan gigiku mengingat kejadian beberapa hari
yang lalu.
“Sampai
aku sadar bahwa Gigi mulai menjauh dan pertandingan bola basket minggu lalu...”
aku tercekat. Bibirku berhenti pada bentuk u. Tidak sanggup aku menceritakannya
pada Anda. Seseorang yang sangat mendukungku untuk mendekati Gigi. Bahkan
mungkin dia satu-satunya orang yang mendukungku langsung. Tidak hanya ucapan
namun juga perbuatan.
Anda
yang menemaniku menembus panasnya pasar hewan untuk seekor kura-kura betina.
Bergumul dengan aroma kurang sedap dan asap knalpot di berbagai sudut pasar. Ia
juga yang menemaniku membeli boneka lebah. Yang secara tidak sengaja kami
temukan di pusat perbelanjaan di simpang lima. Begitu besar jasanya agar
cintaku tersampaikan pada Gigi.
“Aku
tahu masalah pertandingan bola basket itu. Ku dengar juga Gigi dan salah satu
pemain bola basket punya hubungan spesial.” Anda membenarkan poni sampingnya
yang sudah agak panjang. Aku sedikit patah hati saat ini. Ini pengalaman
pertama bagiku. Pengalaman cinta bertepuk sebelah tangan maksudku. Karena aku
kira selama ini Gigi juga tertarik padaku. Namun ternyata aku belum bisa
membedakan antara harapan, kemungkinan, dan kenyataan.
“Tapi
terimakasih sudah banyak membantu.” Aku menjulurkan tangan kananku ke arah
Anda. Anda pun menjabat tanganku dengan senyuman malu-malu. Pasti dia pikir aku
terlalu berlebihan menanggapi semua ini. Namun karena Anda lah aku jadi punya
sedikit keberanian untuk mendekati seseorang. Tidak hanya terdiam. Membatin.
Dan mengagumi dalam hati. Karena yakinlah orang yang kita suka bukanlah
peramal. Mereka tidak bisa membaca pikiran kita. Kecuali jika kau memang suka
pada peramal.
Anda
melepaskan jabatan tangan kami. Ia terdiam untuk beberapa saat. Aku tahu dia
sedang memikirkan sesuatu karena dia tidak biasanya seperti ini. Karena misi
Anda membantu perjuangan cintaku akhirnya aku dan Anda sering menghabiskan
waktu bersama. Tidak jarang hanya aku dan dia. Tanpa adanya Frankie, Sarah,
Rahmi, Dean, atau yang lain.
“Lalu
bagaimana perjuanganmu? Sudah berakhir?” Anda akhirnya berhasil melontarkan
sebuah pertanyaan dari mulutnya. Aku cukup banyak berpikir akhir-akhir ini.
Kepalaku pun sering pusing dibuatnya. Sehingga tanpa berpikir panjang aku pun
menjawab, “Aku tidak semudah itu berputus asa. Selama mereka belum resmi
jadian, masih ada jalan kan untuk ku?” Anda hanya tersenyum sambil
menganggukkan kepalanya beberapa kali.
No comments:
Post a Comment