Cuaca
di bulan agustus selalu seperti ini. Tidak ada kejelasan. Tadi pagi sewaktu
berangkat sekolah langit begitu cerah. Bahkan aku sampai berkeringat deras
begitu sampai di kelas. Namun sekarang, begitu pelajaran ketiga berlangsung
tiba-tiba langit menjadi gelap. Awan hitam mengambil alih kuasa atas birunya
langit.
Sebentar
lagi istirahat dan aku sudah mulai bosan dengan pelajaran sejarah yang sedang
berlangsung. Sedikit banyak aku telah mengalami adaptasi dengan lingkungan ku
saat ini. Jika dulu di kelas 1 atau awal kelas 2 semua pelajaran tampak
menarik, namun sekarang tidak lagi. Hanya beberapa pelajaran saja yang
membuatku semangat. Dan sejarah bukan salah satunya.
Sarah
ternyata mengalami hal yang sama. Dia, seperti biasa, asyik dengan ponselnya.
Ia menaruh ponselnya dibalik buku tulis yang terbuka lebar. Sesekali ia melihat
kedepan, tapi kebanyakan dia menunduk sambil senyum-senyum sendiri. Beruntunglah
Fendy berada di depan kami, jadi perilaku Sarah tersebut bisa tersamarkan.
Hujan
turun begitu derasnya ketika bel istirahat berbunyi. Aku berdiri dari kursiku
untuk meregangkan badan sejenak. “Kamu tidak mau keluar?” Aku melihat Sarah yang sama sekali tidak bergeming. Malah
semakin asyik dengan ponselnya. Kemudian aku mengabaikannya dan berjalan ke
bangku Anda dan Dean. Mereka berdua tampak gembira. Tawa yang terlihat sedikit
jaim menyembul dari mulut Dean. Menyisakan beberapa gigi gingsul yang muncul
dari bibirnya.
Aku
ikut menyimak cerita Dean. “Ya akhirnya aku minta bantuan temanku untuk
mengabadikannya lewat video.” Dean masih terlihat enggan bercerita. Namun Anda
tetaplah Anda. Dia tidak akan berhenti sampai ia mendengarkan keseluruhan isi
cerita. Suka tidak suka Dean haruslah bercerita.
“Lalu
sesampainya di rumah Jenny?” Anda terlihat sangat antusias. Sebenarnya aku
ingin bertanya tentang topik yang dibicarakan, namun aku takut hal itu malah
membuat Dean enggan meneruskannya. Akhirnya aku dengarkan saja pembicaraan
mereka berdua.
“Ya
sudah, sampai dirumah Jenny dia langsung aku tembak. Masa sudah jauh-jauh
mengayuh sepeda dari rumah sampai ke rumahnya aku tidak mengatakan apa-apa.”
Dean menyender pada tembok menghadap Anda dan aku. Tempat duduk Dean mepet
dengan tembok sehingga ia suka sekali menyandarkan punggungnya ke tembok
tersebut.
“Diterima?”
Anda semakin penasaran dengan akhir cerita Dean. Dean hanya menaikturunkan
alisnya yang tipis. Anda tertawa menggoda Dean. Aku ikut tersenyum mendengar
kabar baik tersebut. “Jenny itu sekolah dimana sih?” Anda mulai mencari
informasi lain. “SMA atas, dulu SMP nya sama kayak Sam kok.” Dean melihat ke
arahku. Aku tercekat. Jenny siapa yang dimaksud. Aku mulai mengingat nama Jenny
dalam hidupku.
“Oh
Jenny yang kau maksud adalah Jenny yang badannya kurus tinggi itu?” aku menebak
sesuai ingatan spontanku. “Iya, Jenny yang itu. Pokoknya kamu benar, soalnya
dia juga kenal kamu.” Dean membenarkan tebakanku. Ternyata dunia sesempit ini.
Bagaimana bisa kawan ku ini berpacaran dengan kawan lama ku si Jenny. Dan
setahuku tinggi badan mereka terlihat agak kontras. Tapi itulah cinta. Semoga
tidak sesaat.
“Kau
sendiri bagaimana Sam? Aku dengar kau suka pada Gigi, teman sekelasku dulu.”
Anda kemudian berbalik melihat ke arahku. Aku berdiri di sampingnya. Kedua
tanganku bertumpu pada meja di depan Anda. Tetap berdiri selama cerita Dean
berlangsung. Anda bahkan harus mengangkat dagunya untuk melihat wajahku.
“Oh
Gigi, ya gitulah. Aku sempat mengajak untuk nonton film bareng, namun kemudian
aku urungkan niatku, setelah dia bertanya dengan siapa saja kami akan
menonton.” Aku melihat lurus ke depan. Ke arah korden berwarna hijau yang
menutupi jendela kelas kaca kelas kami. “Dia kayaknya mau ulang tahun kan bulan
depan. Tembak saja.” Anda memberikan pendapatnya. Yang menurutku tidak masuk
akal.
“Iya
benar Sam. Bukannya kamu suka sama dia sudah dari kelas 2 SMA?” Dean mendukung
usulan Anda. Memang mereka pantas menjadi teman sebangku. “Tidak semudah itu.
tapi nantilah aku pikirkan lagi.” Aku sedikit terheran. Heran pada pengetahuan
Dean tentang aku. Padahal seingatku kami tidak pernah mengobrol banyak. Karena
tidak ada kecocokan topik bila kami mengobrol. Mungkin itulah mengapa aku susah
sekali mendapatkan teman pria.
“Sam
ke kantin yuk.” Anda memegang pergelangan tanganku. Aku melihat bola matanya
sesaat sebelum akhirnya mundur dan memberinya jalan untuk keluar dari
bangkunya. Aku dan Anda sering ke kantin bersama. Dia adalah seorang cewek yang
sangat ceria, jarang mengeluh, apalagi merengek sehingga aku merasa nyaman
menemaninya kemanapun.
Sarah
yang daritadi bermain Hp tiba-tiba berdiri dari kursinya. “Mau ke kantin ya?
Ikut.” Itulah Sarah. Selain chating hal yang membuatnya antusias adalah kantin.
Aku mengerti darimana ia mendapatkan badan yang lebih dari ukuran proporsional
itu.
Kami
jalan menuju kantin yang letaknya di belakang kelas kami. Hujan masih turun
dengan derasnya. Kami pun sempat berlari dari penghujung lorong kelas menuju
deretan kantin dengan aroma menggoda. “Anda, punya ide nggak aku harus ngado
apa?” Aku berdiri disebelah Anda yang terlihat sangat teliti memilih gorengan.
“Hah, Gigi ya, setahuku dia menyukai lebah.” Anda mencomot satu demi satu
gorengan dan dimasukkan ke dalam plastik ditangan kirinya.
“Lebah?
Aku harus menghadiahi nya lebah?” aku mengatakannya begitu saja. Tanpa ada
sedikitpun nada bergurau. “Sam, lebah kan bisa berbentuk apa saja. Boneka
misalnya.” Anda mengambil beberapa lembar uang dari sakunya. “Aku pernah lihat
dirumahnya ada seekor kura-kura. Katanya sih dikasih sama pacarnya yang dulu.”
Aku mengingat-ingat kejadian beberapa minggu lalu. Ketika aku singgah
kerumahnya. Ia pernah bercerita bahwa dulu kura-kura itu ada dua, tapi yang
satu mati. Aku sempat bersimpati juga pada kesendirian sang kura-kura.
“Ya
sudah, beri dia hadiah kura-kura. Siapa tahu kau bisa menggantikan posisi
mantan pacarnya.” Anda menoleh kesana kemari mencari seseorang. “Antarkan aku
beli kura-kura dan boneka lebah ya.” Aku menunjukkan senyum paling lebar yang
aku miliki. Anda hanya mengangguk perlahan. “Sarah dimana ya? Apa dia sudah
kembali ke kelas?” daritadi ternyata Anda sedang kebingungan mencari
sahabatnya.
Aku
ikut menoleh kesana kemari mencari keberadaan Sarah. Kecil kemungkinan Sarah
sudah kembali ke kelas mengingat jam istirahat masih belum berakhir. Lagipula
seorang Sarah pantang meninggalkan kantin dengan terburu-buru. Bisa jadi ia
sedang menikmati mie instan kuah di salah satu sudut deretan kantin ini.
No comments:
Post a Comment