Thursday, 6 March 2014

Sahabat Sejati 2

Cuaca di bulan agustus selalu seperti ini. Tidak ada kejelasan. Tadi pagi sewaktu berangkat sekolah langit begitu cerah. Bahkan aku sampai berkeringat deras begitu sampai di kelas. Namun sekarang, begitu pelajaran ketiga berlangsung tiba-tiba langit menjadi gelap. Awan hitam mengambil alih kuasa atas birunya langit.
Sebentar lagi istirahat dan aku sudah mulai bosan dengan pelajaran sejarah yang sedang berlangsung. Sedikit banyak aku telah mengalami adaptasi dengan lingkungan ku saat ini. Jika dulu di kelas 1 atau awal kelas 2 semua pelajaran tampak menarik, namun sekarang tidak lagi. Hanya beberapa pelajaran saja yang membuatku semangat. Dan sejarah bukan salah satunya.
Sarah ternyata mengalami hal yang sama. Dia, seperti biasa, asyik dengan ponselnya. Ia menaruh ponselnya dibalik buku tulis yang terbuka lebar. Sesekali ia melihat kedepan, tapi kebanyakan dia menunduk sambil senyum-senyum sendiri. Beruntunglah Fendy berada di depan kami, jadi perilaku Sarah tersebut bisa tersamarkan.
Hujan turun begitu derasnya ketika bel istirahat berbunyi. Aku berdiri dari kursiku untuk meregangkan badan sejenak. “Kamu tidak mau keluar?” Aku melihat  Sarah yang sama sekali tidak bergeming. Malah semakin asyik dengan ponselnya. Kemudian aku mengabaikannya dan berjalan ke bangku Anda dan Dean. Mereka berdua tampak gembira. Tawa yang terlihat sedikit jaim menyembul dari mulut Dean. Menyisakan beberapa gigi gingsul yang muncul dari bibirnya.
Aku ikut menyimak cerita Dean. “Ya akhirnya aku minta bantuan temanku untuk mengabadikannya lewat video.” Dean masih terlihat enggan bercerita. Namun Anda tetaplah Anda. Dia tidak akan berhenti sampai ia mendengarkan keseluruhan isi cerita. Suka tidak suka Dean haruslah bercerita.
“Lalu sesampainya di rumah Jenny?” Anda terlihat sangat antusias. Sebenarnya aku ingin bertanya tentang topik yang dibicarakan, namun aku takut hal itu malah membuat Dean enggan meneruskannya. Akhirnya aku dengarkan saja pembicaraan mereka berdua.
“Ya sudah, sampai dirumah Jenny dia langsung aku tembak. Masa sudah jauh-jauh mengayuh sepeda dari rumah sampai ke rumahnya aku tidak mengatakan apa-apa.” Dean menyender pada tembok menghadap Anda dan aku. Tempat duduk Dean mepet dengan tembok sehingga ia suka sekali menyandarkan punggungnya ke tembok tersebut.
“Diterima?” Anda semakin penasaran dengan akhir cerita Dean. Dean hanya menaikturunkan alisnya yang tipis. Anda tertawa menggoda Dean. Aku ikut tersenyum mendengar kabar baik tersebut. “Jenny itu sekolah dimana sih?” Anda mulai mencari informasi lain. “SMA atas, dulu SMP nya sama kayak Sam kok.” Dean melihat ke arahku. Aku tercekat. Jenny siapa yang dimaksud. Aku mulai mengingat nama Jenny dalam hidupku.
“Oh Jenny yang kau maksud adalah Jenny yang badannya kurus tinggi itu?” aku menebak sesuai ingatan spontanku. “Iya, Jenny yang itu. Pokoknya kamu benar, soalnya dia juga kenal kamu.” Dean membenarkan tebakanku. Ternyata dunia sesempit ini. Bagaimana bisa kawan ku ini berpacaran dengan kawan lama ku si Jenny. Dan setahuku tinggi badan mereka terlihat agak kontras. Tapi itulah cinta. Semoga tidak sesaat.
“Kau sendiri bagaimana Sam? Aku dengar kau suka pada Gigi, teman sekelasku dulu.” Anda kemudian berbalik melihat ke arahku. Aku berdiri di sampingnya. Kedua tanganku bertumpu pada meja di depan Anda. Tetap berdiri selama cerita Dean berlangsung. Anda bahkan harus mengangkat dagunya untuk melihat wajahku.
“Oh Gigi, ya gitulah. Aku sempat mengajak untuk nonton film bareng, namun kemudian aku urungkan niatku, setelah dia bertanya dengan siapa saja kami akan menonton.” Aku melihat lurus ke depan. Ke arah korden berwarna hijau yang menutupi jendela kelas kaca kelas kami. “Dia kayaknya mau ulang tahun kan bulan depan. Tembak saja.” Anda memberikan pendapatnya. Yang menurutku tidak masuk akal.
“Iya benar Sam. Bukannya kamu suka sama dia sudah dari kelas 2 SMA?” Dean mendukung usulan Anda. Memang mereka pantas menjadi teman sebangku. “Tidak semudah itu. tapi nantilah aku pikirkan lagi.” Aku sedikit terheran. Heran pada pengetahuan Dean tentang aku. Padahal seingatku kami tidak pernah mengobrol banyak. Karena tidak ada kecocokan topik bila kami mengobrol. Mungkin itulah mengapa aku susah sekali mendapatkan teman pria.
“Sam ke kantin yuk.” Anda memegang pergelangan tanganku. Aku melihat bola matanya sesaat sebelum akhirnya mundur dan memberinya jalan untuk keluar dari bangkunya. Aku dan Anda sering ke kantin bersama. Dia adalah seorang cewek yang sangat ceria, jarang mengeluh, apalagi merengek sehingga aku merasa nyaman menemaninya kemanapun.
Sarah yang daritadi bermain Hp tiba-tiba berdiri dari kursinya. “Mau ke kantin ya? Ikut.” Itulah Sarah. Selain chating hal yang membuatnya antusias adalah kantin. Aku mengerti darimana ia mendapatkan badan yang lebih dari ukuran proporsional itu.
Kami jalan menuju kantin yang letaknya di belakang kelas kami. Hujan masih turun dengan derasnya. Kami pun sempat berlari dari penghujung lorong kelas menuju deretan kantin dengan aroma menggoda. “Anda, punya ide nggak aku harus ngado apa?” Aku berdiri disebelah Anda yang terlihat sangat teliti memilih gorengan. “Hah, Gigi ya, setahuku dia menyukai lebah.” Anda mencomot satu demi satu gorengan dan dimasukkan ke dalam plastik ditangan kirinya.
“Lebah? Aku harus menghadiahi nya lebah?” aku mengatakannya begitu saja. Tanpa ada sedikitpun nada bergurau. “Sam, lebah kan bisa berbentuk apa saja. Boneka misalnya.” Anda mengambil beberapa lembar uang dari sakunya. “Aku pernah lihat dirumahnya ada seekor kura-kura. Katanya sih dikasih sama pacarnya yang dulu.” Aku mengingat-ingat kejadian beberapa minggu lalu. Ketika aku singgah kerumahnya. Ia pernah bercerita bahwa dulu kura-kura itu ada dua, tapi yang satu mati. Aku sempat bersimpati juga pada kesendirian sang kura-kura.
“Ya sudah, beri dia hadiah kura-kura. Siapa tahu kau bisa menggantikan posisi mantan pacarnya.” Anda menoleh kesana kemari mencari seseorang. “Antarkan aku beli kura-kura dan boneka lebah ya.” Aku menunjukkan senyum paling lebar yang aku miliki. Anda hanya mengangguk perlahan. “Sarah dimana ya? Apa dia sudah kembali ke kelas?” daritadi ternyata Anda sedang kebingungan mencari sahabatnya.

Aku ikut menoleh kesana kemari mencari keberadaan Sarah. Kecil kemungkinan Sarah sudah kembali ke kelas mengingat jam istirahat masih belum berakhir. Lagipula seorang Sarah pantang meninggalkan kantin dengan terburu-buru. Bisa jadi ia sedang menikmati mie instan kuah di salah satu sudut deretan kantin ini.

No comments:

Post a Comment