“Kemarin kau cerita
tentang aplikasi yang kau masukan di beberapa perusahaan?” Dean tiba-tiba
membuyarkan ingatanku. Mataku rasanya tidak ingin lepas dari layar ponsel yang
terus menunjukkan foto-foto lawas ku. Namun aku tidak begitu egois untuk
mengabaikan pertanyaan Dean.
Aku mengangkat daguku.
Ternyata Dean sudah memasukkan laptopnya kembali kedalam tasnya. “Iya, beberapa
lamaran.” Aku meletakkan ponsel pintarku ke atas meja di depanku. “Sudah ada
yang direspon?” Dean mengambil satu lagi batang rokok berwarna putih dengan
filter berwarna cokelat muda. “Belum, lagipula cuaca seperti saat ini tidak
terlalu baik untuk berpergian jauh.” Aku mengangkat cangkir kopiku dan
meneguknya. “Memang dimana saja?” Dean memperhatikan suasana caffe yang semakin
ramai. “Jakarta, Bandung, Bali. Sebaiknya kau segera saja mencari pacar.”
Dean hanya terkekeh.
Kali ini pandangannya terarah ke meja disamping kami yang ditempati 4 orang
wanita berpakaian minim. “Aku serius. Atau kamu mau menikmati malam minggu
hanya sendirian? Jangan bertingkah seperti seseorang yang patut dikasihani
begitu.” Aku menyandarkan mengambil tasku dan memasukkan ponsel ku kedalamnya.
Hujan sudah mereda. Biasanya setelah menghabiskan rokok yang sedang dihisapnya
Dean akan mengajak pulang.
“Paling kan hanya
setahun. Setahun itu 365 hari,dibagi 7 berarti...” Dean membuka aplikasi
kalkulator di ponselnya. “Hanya sekitar 52 malam minggu. Aku bisa
mengatasinya.” Lanjut Dean bangga akan penghitungan ponselnya. Aku mengerutkan
dahiku. Bagaimana Dean bisa sangat percaya diri mengenai lamanya kepergianku
dari Semarang.
Cuaca malam yang sangat
dingin menemani perjalananku menuju rumah. Aku tidak ingat ada berapa malam
minggu yang aku habiskan bersama Dean. Pilihan hanya dua, menghabiskan waktu
sendiri dirumah atau pergi keluar bersama Dean untuk sekedar mengobrol atau
mencari keramaian disudut kota. Sesuatu yang unik tapi akan sangat kurindukan
jika aku benar-benar akan meninggalkan kota Semarang. Namun itulah hidup, ada
pertemuan dan ada perpisahan. Fase berulang dalam kehidupanku yang
mengajarkanku bahwa tidak ada yang kekal abadi di dunia ini.
Jika aku bisa
meninggalkan Semarang setidaknya aku bisa mencari kehidupan yang baru di luar
Semarang. Mencari pengharapan baru. Impian yang baru. Hingga bisa lari dari
kenyataan. Kenyataan yang sedikit membuatku terkekeh jika menyadarinya. Aku
hanya berlari dari bayang-bayang Anda. Aku belum bisa menghadapinya. Anda dan
kekasihnya dan rencana pernikahannya. Hal-hal yang sedikit menggangguku.
Jangan menyalahartikan
hal ini sebagai ketidaksukaanku pada kebahagiaan Anda. Bukan itu. Lagipula aku
tidak memiliki wewenang untuk berpendapat mengenai hubungan mereka. Namun
berada jauh dari jangkauan Anda mungkin dapat membuatku lebih tenang.
Setidaknya itulah sebuah kemungkinan yang bisa aku ambil.
Hi, Mr. Laughter Machine
ReplyDeleteAs you asked, I just done read the whole story on this site. And you succeed to bring tears on my face in this kinda breezy night. Hahaha thankyou, by the way.
I hope I could be one of your another amazing love story in the next days.
Xoxo,
Your current love.
Ps: I love you❤