Wednesday, 5 March 2014

Cinta Itu Rumit

Cinta itu rumit. Serumit benang yang tergurai dari tempatnya. Serumit pola jaring laba-laba yang bertengger di bawah meja. Serumit pikiran kita sebagai manusia yang berpikir bahwa cinta itu rumit. Sekali kau menemukan seseorang yang sangat berharga dalam hidupmu, jangan pernah lepaskan. Meski  kakimu lelah mengikuti langkahnya, meski telingamu berdenging mendengar suaranya, meski mulutmu kram menjawab setiap ocehannya. Karena cinta yang abadi hanya akan datang satu kali tanpa sempat kau berpikir mengenai keberadaannya. Kau akan menyadarinya ketika kau telah benar-benar melepaskannya.


















Matahari sore terlihat samar dari balik atap perumahan. Sejauh mata memandang hanya kumpulan atap sejenis dan beberapa tower pemancar. Sore itu begitu dingin akibat angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Sesuatu yang jarang terjadi di kota pesisir seperti Semarang ini.
Hujan siang tadi ternyata membawa hawa dingin yang aneh. Tidak terasa sejuk sama sekali. Bahkan lebih condong ke hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku seperti biasa masih berbaring di atas kasur lipatku. Bukan sok-sok an ingin terlihat seperti aktor jepang, tapi hanya kasur itulah yang aku miliki.
Aku bukan tinggal di gubuk sederhana yang reot dan berdinding anyaman bambu. Aku dipenuhi fasilitas yang lumayan memadai dari keluargaku. Ya orang-orang terpenting dalam hidupku, yang membuatku rela melakukan apa saja walaupun itu sedikit tidak menguntungkan bagiku.
Usia ku hampir menginjak 24 tahun dan aku tidak memiliki karir yang jelas. Atau lebih jelasnya pekerjaan. Aku ini bukan pemuda tanpa masa depan dan tidak memiliki bekal apa-apa. Aku adalah seorang sarjana muda yang masih meraba-raba masa depanku sendiri. Terlalu naif kurasa jika aku ingin menggabungkan semua keinginanku secara bersamaan. Senaif aku yang mengira bahwa hidupku akan baik-baik saja tanpa dia.
Kurapikan kasur ku entah untuk yang keberapa kalinya dalam satu hari ini. Aku lebih suka melihat semuanya rapi. Selimut yang terlipat rapi. Hiasan meja belajar yang terjejer rapi. Dan aku berharap masa depanku pun rapi. Hingga aku sibuk berpikir bagaimana caranya menata masa depanku agar rapi.
Sebelum maghrib aku selalu keluar kamar untuk memeriksa kelengkapan anggota keluargaku. Aku tinggal bersama kedua orang tua ku, kakak perempuanku serta suaminya, dan tidak ketinggalan anak mereka alias keponakan ku. Dialah alasan aku masih bertahan disini. Terdiam mematung penuh harapan dan angan-angan. Tanpa sedetik pun terbesit pikiran untuk mulai beraksi.
“Mau kemana malam ini?” Ibu ku adalah wanita yang cukup bijaksana. Ia bisa membedakan antara mengurus anak bayi, balita, anak kecil, remaja, hingga dewasa. Ia teman cerita yang baik serta teman diskusi yang baik. Tapi tidak sebaik cinta yang diberikan oleh dia.
Aku sudah memegang handuk saat ibu ku menanyakan hal tersebut. “Keluar.” Jawabku tanpa menoleh padanya. Aku sedikit merasa terusik akan kedatangannya. Intervensi nya ke dalam kehidupan pribadiku. Atau apalah. Dan jawabanku itu terdengar sudah cukup baginya. Dia tahu aku agak bebal akhir-akhir ini, mungkin dia tahu sebabnya tapi sebisa mungkin menutupinya. Bahkan aku sendiri tidak tahu mengapa aku berubah seperti ini.
Malam ini aku memiliki janji bertemu dengan teman baik ku. Kami sama-sama lelaki. Kami berteman lama semenjak SMA. Hingga sekarang kami sudah dewasa dan berjuang dengan hidup kami masing-masing. Atau setidaknya dia telah berjuang demi cita-citanya.
Tempat yang kami janjikan adalah sebuah caffe 24 jam yang terletak di tengah kota Semarang. Disekitar simpang lima dan diantara gedung-gedung bertingkat. Aku datang lebih awal seperti biasanya. Duduk di bangku yang dekat dengan colokan listrik. Temanku sering membutuhkan listrik entah untuk laptop atau pun telepon genggam nya.
Seorang pelayan datang menghampiriku dengan membawakan asbak dan buku menu. “Tinggal dulu ya mas.” Aku memberi komando kepada pelayan tersebut untuk meninggalkan meja ku. Tanpa membuka menu sebenarnya aku tahu apa yang akan aku pesan. Dan juga apa yang akan dipesan temanku. Tapi kuputuskan untuk menunggunya.
Asbak di depanku membuatku secara reflek mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku ku. Aku bukan perokok berat. Aku teringat akan pesan seseorang yang mengatakan, “Ngerokok sih boleh aja, tapi jangan setelah makan, karena resikonya lebih tinggi untuk terkena penyakit di paru-paru.” Seseorang yang dulu aku kenal dengan baik. Sampai sekarang malah. Namun dia aku lepaskan.
Setengah batang sudah rokok yang habis kuhisap hingga akhirnya kawan baik ku datang. Namanya Dean. Tingginya hampir 20cm dibawahku. Poninya selalu kelihatan gondrong sampai ke alis. Kulitnya putih bersih. Berbeda jauh dengan warna kulitku yang terlihat gelap.
“Sorry nunggu lama. Sudah pesan?” ia langsung menyambar buku menu dihadapanku. Dia selalu membuka-buka buku menu padahal apa yang dipesannya selalu sama setiap kami datang kemari. “Heh ditanya kok diem aja. Kamu apa?” dia menanyaiku lagi untuk bahan pertimbangan apa dia mau mengikuti pesananku apa tetap pada pendiriannya.
Aku memanggil pelayan dengan lambaian tangan yang sederhana. Si pelayan yang pertama melihatku langsung menghampiri meja kami sembari merogoh kantong di celemeknya. “Hot Americano satu, french fries satu, kamu apa?” tanyaku pada Dean. “Melon milk.” Binggo! Dia tetap pada pendiriannya. “Sama melon milk satu ya mas. Udah itu dulu.” Aku memeriksa HP ku selagi si pelayan mengulang pesanan kami. Dean mengeluarkan laptopnya dan langsung menyambungkannya pada koneksi internet.
“Kemana aja hari ini?” tanyaku sembari mematikan puntung rokok yang kuhisap. “Nggak ada, dirumah aja. Ngedit foto. Oh iya, ada apa ngajak ketemu disini?” sambil asyik mengutak-atik laptopnya dia mengambil bungkus rokok dari saku celana jeansnya. “Nggak papa, sedikit bosen aja dirumah. Mati gaya. Bingung mau apa.” Aku menyilangkan kaki ku. Aku memeriksa sol sepatu suede ku yang hampir menganga.
“Mati gaya atau karena ada yang ingin kamu ceritakan?” Dean menembak ku. Seperti seorang pejuang suku apache atau apalah itu aku mengelak. “Nggak, Cuma pengen menghirup udara segar.” Dean malah terkekeh mendengar jawabanku itu. Aku tahu dia tidak mau mengatakan sesuatu yang bisa membuatku tersinggung. Karena dulu dia sempat melakukannya.
Dulu sewaktu aku pergi berlibur ke luar kota bersama Dean dan 2 teman wanita kami. Aku ingat waktu itu kami baru saja sampai di rumah singgah yang dimiliki salah satu teman wanita kami, Sarah. Sarah adalah temanku dari SMA, sama halnya dengan Dean. Kami berkumpul untuk sekedar mengobrol dan mengingat-ingat kenangan sewaktu SMA. Aku, Sarah, Dean dan Rahmi.
“Aku inget banget dulu waktu pelajaran bahasa inggris si Sarah berdiri sendiri sambil goyang-goyang pinggul.” Dean mempraktekan secara berlebihan. Aku kontan tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan aksi Dean itu. “Padahal yang lain juga disuruh berdiri sama si guru magang, eh si Sarah kelihatan yang paling semangat daripada yang lain.” Rahmi yang juga kawan SMA kami ikut mengejek sahabatnya itu.
Aku ingat betul kejadian itu. Pasalnya dulu Sarah adalah teman sebangku ku. Jadi aku adalah saksi mata terdekat peristiwa memalukan itu. “Hahh, Sarah emang selalu bikin onar. Dulu kami sering ditegur oleh guru karena asyik bercerita sendiri.” Aku menambahkan dengan kenangan yang lain.
“Oh bener, dulu pernah tu aku sama Anda yang berisik tapi kalian yang kena semprot.” Dean terlihat bahagia sekali melihat penderitaan kami. Dean dan Anda juga teman sebangku. Mereka duduk 2 deret di belakang kami. Dan hanya kami berdua pasangan duduk yang berbeda gender di kelas waktu itu. Anda juga salah satu sahabat kami sampai sekarang. Dan satu-satunya mantanku.
“Gimana kamu sama Anda?” tanya Dean tiba-tiba setelah tawa kami mereda. “Baik-baik saja kurasa.” Aku sadar pasti warna mukaku berubah saat itu. Rahmi dan Sarah kompak bersikap terlalu tenang. Itu adalah masa dimana aku kembali lagi berhubungan dengan teman-teman masa SMA ku setelah putus dengan Anda. Dan saat itu adalah saat pertamaku ditodong untuk bercerita.
“Kenapa sampe putus?” Dean melanjutkan pertanyaannya. Saat itu mungkin dia kira aku dalam kondisi yang baik untuk bercerita. “Mmm banyak sih alasannya.” Tanpa aku sadari aku bersifat defensif. “Salah satunya?” oke kali ini Dean sudah keterlaluan. Anda adalah sahabat kami berempat. Aku tidak mungkin meletakkan Anda dalam posisi sebagai-yang-bersalah. Walau aku ragu itu benar.
“Aku tidak suka sikap ibunya yang suka membandingkanku dengan pacarnya yang dulu.” Aku berusaha mencari jawaban aman. Aku tidak menyalahkan Anda. Tidak juga menyalahkan diriku sendiri. “Kalau ketemu Anda sikapmu gimana?” Dean ternyata belum puas dengan jawabanku. Kali ini pasti ekspresiku sudah tidak enak dilihat. Tapi Dean tidak menyadari itu. Tidak sadar atau tidak peduli mungkin.
“Aku biasa aja. Beberapa kali kalo bertemu dia aku biasa aja. Seperti dulu kami sahabatan.” Nada bicaraku meninggi. Dan itu adalah kode yang tepat bagi Dean untuk berhenti bertanya. “Terus kenapa kalo ada Anda kamu seolah ingin menghindar?” Dean sudah kelewatan. Emosiku pun sudah kelewatan. Aku merasa tertuduh menjadi si jahat dalam drama ini.
Aku bisa merasakan kupingku memanas. Segala amarah berkumpul dalam kepalaku.”Gimana kalo ganti topik?!” Aku menggunakan kalimat tanya dengan nada menyuruh. “Kan aku Cuma tanya?” Saat mendengar jawaban Dean itulah tanpa sadar aku melangkahkan kaki ku keluar ruangan. Masuk ke dalam kamar tidur dan menutup pintunya. Aku pikir aku perlu waktu untuk menenangkan diri. Setelah kejadian itu, liburan kami pun terasa seperti neraka.
Seingatku itu saat terakhir Dean menanyakan soal hubunganku dan Anda. Dan malam ini, saat kami bertemu. Aku dan Dean maksudnya. Dean tampak tidak mau memulai pembicaraan terlebih dahulu. Karena ia tahu pasti. Hal yang ingin aku bicarakan adalah soal Anda. Andalusi Permatawardani. Sahabat kami dari SMA. Teman sebangku Dean di kelas 3 SMA. Dan mantan pacarku satu-satunya.

No comments:

Post a Comment