Cinta
itu rumit. Serumit benang yang tergurai dari tempatnya. Serumit pola jaring
laba-laba yang bertengger di bawah meja. Serumit pikiran kita sebagai manusia
yang berpikir bahwa cinta itu rumit. Sekali kau menemukan seseorang yang sangat
berharga dalam hidupmu, jangan pernah lepaskan. Meski kakimu lelah mengikuti langkahnya, meski
telingamu berdenging mendengar suaranya, meski mulutmu kram menjawab setiap
ocehannya. Karena cinta yang abadi hanya akan datang satu kali tanpa sempat kau
berpikir mengenai keberadaannya. Kau akan menyadarinya ketika kau telah
benar-benar melepaskannya.
Matahari
sore terlihat samar dari balik atap perumahan. Sejauh mata memandang hanya
kumpulan atap sejenis dan beberapa tower pemancar. Sore itu begitu dingin akibat
angin berhembus lebih kencang dari biasanya. Sesuatu yang jarang terjadi di
kota pesisir seperti Semarang ini.
Hujan
siang tadi ternyata membawa hawa dingin yang aneh. Tidak terasa sejuk sama
sekali. Bahkan lebih condong ke hawa dingin yang menusuk hingga ke tulang. Aku
seperti biasa masih berbaring di atas kasur lipatku. Bukan sok-sok an ingin
terlihat seperti aktor jepang, tapi hanya kasur itulah yang aku miliki.
Aku
bukan tinggal di gubuk sederhana yang reot dan berdinding anyaman bambu. Aku
dipenuhi fasilitas yang lumayan memadai dari keluargaku. Ya orang-orang
terpenting dalam hidupku, yang membuatku rela melakukan apa saja walaupun itu
sedikit tidak menguntungkan bagiku.
Usia
ku hampir menginjak 24 tahun dan aku tidak memiliki karir yang jelas. Atau
lebih jelasnya pekerjaan. Aku ini bukan pemuda tanpa masa depan dan tidak
memiliki bekal apa-apa. Aku adalah seorang sarjana muda yang masih meraba-raba
masa depanku sendiri. Terlalu naif kurasa jika aku ingin menggabungkan semua
keinginanku secara bersamaan. Senaif aku yang mengira bahwa hidupku akan
baik-baik saja tanpa dia.
Kurapikan
kasur ku entah untuk yang keberapa kalinya dalam satu hari ini. Aku lebih suka
melihat semuanya rapi. Selimut yang terlipat rapi. Hiasan meja belajar yang
terjejer rapi. Dan aku berharap masa depanku pun rapi. Hingga aku sibuk
berpikir bagaimana caranya menata masa depanku agar rapi.
Sebelum
maghrib aku selalu keluar kamar untuk memeriksa kelengkapan anggota keluargaku.
Aku tinggal bersama kedua orang tua ku, kakak perempuanku serta suaminya, dan
tidak ketinggalan anak mereka alias keponakan ku. Dialah alasan aku masih
bertahan disini. Terdiam mematung penuh harapan dan angan-angan. Tanpa sedetik
pun terbesit pikiran untuk mulai beraksi.
“Mau
kemana malam ini?” Ibu ku adalah wanita yang cukup bijaksana. Ia bisa
membedakan antara mengurus anak bayi, balita, anak kecil, remaja, hingga
dewasa. Ia teman cerita yang baik serta teman diskusi yang baik. Tapi tidak
sebaik cinta yang diberikan oleh dia.
Aku
sudah memegang handuk saat ibu ku menanyakan hal tersebut. “Keluar.” Jawabku
tanpa menoleh padanya. Aku sedikit merasa terusik akan kedatangannya.
Intervensi nya ke dalam kehidupan pribadiku. Atau apalah. Dan jawabanku itu
terdengar sudah cukup baginya. Dia tahu aku agak bebal akhir-akhir ini, mungkin
dia tahu sebabnya tapi sebisa mungkin menutupinya. Bahkan aku sendiri tidak
tahu mengapa aku berubah seperti ini.
Malam
ini aku memiliki janji bertemu dengan teman baik ku. Kami sama-sama lelaki.
Kami berteman lama semenjak SMA. Hingga sekarang kami sudah dewasa dan berjuang
dengan hidup kami masing-masing. Atau setidaknya dia telah berjuang demi
cita-citanya.
Tempat
yang kami janjikan adalah sebuah caffe 24 jam yang terletak di tengah kota
Semarang. Disekitar simpang lima dan diantara gedung-gedung bertingkat. Aku
datang lebih awal seperti biasanya. Duduk di bangku yang dekat dengan colokan
listrik. Temanku sering membutuhkan listrik entah untuk laptop atau pun telepon
genggam nya.
Seorang
pelayan datang menghampiriku dengan membawakan asbak dan buku menu. “Tinggal
dulu ya mas.” Aku memberi komando kepada pelayan tersebut untuk meninggalkan
meja ku. Tanpa membuka menu sebenarnya aku tahu apa yang akan aku pesan. Dan
juga apa yang akan dipesan temanku. Tapi kuputuskan untuk menunggunya.
Asbak
di depanku membuatku secara reflek mengeluarkan sebungkus rokok dari dalam saku
ku. Aku bukan perokok berat. Aku teringat akan pesan seseorang yang mengatakan,
“Ngerokok sih boleh aja, tapi jangan setelah makan, karena resikonya lebih
tinggi untuk terkena penyakit di paru-paru.” Seseorang yang dulu aku kenal
dengan baik. Sampai sekarang malah. Namun dia aku lepaskan.
Setengah
batang sudah rokok yang habis kuhisap hingga akhirnya kawan baik ku datang.
Namanya Dean. Tingginya hampir 20cm dibawahku. Poninya selalu kelihatan
gondrong sampai ke alis. Kulitnya putih bersih. Berbeda jauh dengan warna
kulitku yang terlihat gelap.
“Sorry
nunggu lama. Sudah pesan?” ia langsung menyambar buku menu dihadapanku. Dia
selalu membuka-buka buku menu padahal apa yang dipesannya selalu sama setiap
kami datang kemari. “Heh ditanya kok diem aja. Kamu apa?” dia menanyaiku lagi
untuk bahan pertimbangan apa dia mau mengikuti pesananku apa tetap pada
pendiriannya.
Aku
memanggil pelayan dengan lambaian tangan yang sederhana. Si pelayan yang
pertama melihatku langsung menghampiri meja kami sembari merogoh kantong di
celemeknya. “Hot Americano satu, french fries satu, kamu apa?” tanyaku pada
Dean. “Melon milk.” Binggo! Dia tetap pada pendiriannya. “Sama melon milk satu
ya mas. Udah itu dulu.” Aku memeriksa HP ku selagi si pelayan mengulang pesanan
kami. Dean mengeluarkan laptopnya dan langsung menyambungkannya pada koneksi
internet.
“Kemana
aja hari ini?” tanyaku sembari mematikan puntung rokok yang kuhisap. “Nggak
ada, dirumah aja. Ngedit foto. Oh iya, ada apa ngajak ketemu disini?” sambil
asyik mengutak-atik laptopnya dia mengambil bungkus rokok dari saku celana
jeansnya. “Nggak papa, sedikit bosen aja dirumah. Mati gaya. Bingung mau apa.”
Aku menyilangkan kaki ku. Aku memeriksa sol sepatu suede ku yang hampir
menganga.
“Mati
gaya atau karena ada yang ingin kamu ceritakan?” Dean menembak ku. Seperti
seorang pejuang suku apache atau apalah itu aku mengelak. “Nggak, Cuma pengen
menghirup udara segar.” Dean malah terkekeh mendengar jawabanku itu. Aku tahu
dia tidak mau mengatakan sesuatu yang bisa membuatku tersinggung. Karena dulu
dia sempat melakukannya.
Dulu
sewaktu aku pergi berlibur ke luar kota bersama Dean dan 2 teman wanita kami.
Aku ingat waktu itu kami baru saja sampai di rumah singgah yang dimiliki salah
satu teman wanita kami, Sarah. Sarah adalah temanku dari SMA, sama halnya
dengan Dean. Kami berkumpul untuk sekedar mengobrol dan mengingat-ingat
kenangan sewaktu SMA. Aku, Sarah, Dean dan Rahmi.
“Aku
inget banget dulu waktu pelajaran bahasa inggris si Sarah berdiri sendiri
sambil goyang-goyang pinggul.” Dean mempraktekan secara berlebihan. Aku kontan
tertawa terpingkal-pingkal menyaksikan aksi Dean itu. “Padahal yang lain juga
disuruh berdiri sama si guru magang, eh si Sarah kelihatan yang paling semangat
daripada yang lain.” Rahmi yang juga kawan SMA kami ikut mengejek sahabatnya
itu.
Aku
ingat betul kejadian itu. Pasalnya dulu Sarah adalah teman sebangku ku. Jadi
aku adalah saksi mata terdekat peristiwa memalukan itu. “Hahh, Sarah emang
selalu bikin onar. Dulu kami sering ditegur oleh guru karena asyik bercerita
sendiri.” Aku menambahkan dengan kenangan yang lain.
“Oh
bener, dulu pernah tu aku sama Anda yang berisik tapi kalian yang kena
semprot.” Dean terlihat bahagia sekali melihat penderitaan kami. Dean dan Anda
juga teman sebangku. Mereka duduk 2 deret di belakang kami. Dan hanya kami
berdua pasangan duduk yang berbeda gender di kelas waktu itu. Anda juga salah
satu sahabat kami sampai sekarang. Dan satu-satunya mantanku.
“Gimana
kamu sama Anda?” tanya Dean tiba-tiba setelah tawa kami mereda. “Baik-baik saja
kurasa.” Aku sadar pasti warna mukaku berubah saat itu. Rahmi dan Sarah kompak
bersikap terlalu tenang. Itu adalah masa dimana aku kembali lagi berhubungan
dengan teman-teman masa SMA ku setelah putus dengan Anda. Dan saat itu adalah
saat pertamaku ditodong untuk bercerita.
“Kenapa
sampe putus?” Dean melanjutkan pertanyaannya. Saat itu mungkin dia kira aku
dalam kondisi yang baik untuk bercerita. “Mmm banyak sih alasannya.” Tanpa aku
sadari aku bersifat defensif. “Salah satunya?” oke kali ini Dean sudah
keterlaluan. Anda adalah sahabat kami berempat. Aku tidak mungkin meletakkan
Anda dalam posisi sebagai-yang-bersalah. Walau aku ragu itu benar.
“Aku
tidak suka sikap ibunya yang suka membandingkanku dengan pacarnya yang dulu.”
Aku berusaha mencari jawaban aman. Aku tidak menyalahkan Anda. Tidak juga
menyalahkan diriku sendiri. “Kalau ketemu Anda sikapmu gimana?” Dean ternyata
belum puas dengan jawabanku. Kali ini pasti ekspresiku sudah tidak enak
dilihat. Tapi Dean tidak menyadari itu. Tidak sadar atau tidak peduli mungkin.
“Aku
biasa aja. Beberapa kali kalo bertemu dia aku biasa aja. Seperti dulu kami
sahabatan.” Nada bicaraku meninggi. Dan itu adalah kode yang tepat bagi Dean
untuk berhenti bertanya. “Terus kenapa kalo ada Anda kamu seolah ingin
menghindar?” Dean sudah kelewatan. Emosiku pun sudah kelewatan. Aku merasa
tertuduh menjadi si jahat dalam drama ini.
Aku
bisa merasakan kupingku memanas. Segala amarah berkumpul dalam kepalaku.”Gimana
kalo ganti topik?!” Aku menggunakan kalimat tanya dengan nada menyuruh. “Kan
aku Cuma tanya?” Saat mendengar jawaban Dean itulah tanpa sadar aku
melangkahkan kaki ku keluar ruangan. Masuk ke dalam kamar tidur dan menutup
pintunya. Aku pikir aku perlu waktu untuk menenangkan diri. Setelah kejadian
itu, liburan kami pun terasa seperti neraka.
Seingatku itu saat
terakhir Dean menanyakan soal hubunganku dan Anda. Dan malam ini, saat kami
bertemu. Aku dan Dean maksudnya. Dean tampak tidak mau memulai pembicaraan
terlebih dahulu. Karena ia tahu pasti. Hal yang ingin aku bicarakan adalah soal
Anda. Andalusi Permatawardani. Sahabat kami dari SMA. Teman sebangku Dean di
kelas 3 SMA. Dan mantan pacarku satu-satunya.
No comments:
Post a Comment