Hujan
tiba-tiba mengguyur kota Semarang. Aku dan Dean masih setia menghabiskan minuman
pesanan kami masing-masing. “Hujannya deras sekali. Aku jadi ingin memesan
makanan.” Aku mengambil buku menu yang tergeletak di depanku. Tertindih 2
ponselku yang kuletakkan sejajar. “Kau mau pesan makan juga?” aku membolak
balik buku menu ditanganku.
Dean
mengamati layar laptop dengan serius. Tangan kanan nya menggerakkan mouse yang
baru saja ia keluarkan dari dalam tas. Aku mengabaikannya. Kupanggil pelayan
yang masih berdiri di dekat tangga masuk. Dengan segera ia menghampiri meja
kami sembari merogoh sesuatu di kantong clemek nya.
“Aku
pesan nasi goreng ya, tidak pedas. Kau Dean?” aku melayangkan pandanganku pada
Dean. Ia masih terdiam seperti tidak mendengarku. “Itu dulu aja mas. Sama
segelas air putih ya.” Aku menaruh kembali buku menu ke atas meja. “Eh, aku mau
onion ring mas.” Dean berucap tanpa mengalihkan pandangannya.
Setelah
si pelayan pergi aku memajukan badanku ke meja. “Kau sedang apa?” ku intip
layar laptop Dean dari atas. “Oh. Hanya memperbaiki beberapa foto nikahan
kemarin.” Dean masih fokus pada layar di depannya. Nampaknya kali ini bukan aku
saja yang merasa tidak nyaman. Dean pun merasakan hal yang sama. Sehingga dia
lebih memilih berkutat dengan laptopnya daripada mendengarkan keluh kesahku.
Sudah
3 tahun terakhir ini aku dan Dean menjalin hubungan baik. Tidak ada hal yang
tidak kami ketahui satu sama lain. Kecuali hal-hal pribadi seperti seberapa
sering kami melakukan onani. Seberapa besar ukuran kelamin kami. Atau hal-hal
semacam itu.
Jika
masalah dengan wanita. Kami selalu antusias membicarakannya. Seperti dulu. 2
tahun yang lalu. Ketika Dean datang ke rumahku malam-malam dengan alasan ingin
diajari cara mengedit foto. Padahal aku tahu sebenarnya ada yang ingin dia
bicarakan. Tidak lebih dan tidak kurang mengenai seorang wanita.
Saat
itu Dean punya pacar yang lumayan cantik. Ia datang kerumahku dan menunjukkan
foto pacarnya. Seorang wanita berambut panjang dan tinggi kurang lebih Dean. Ia
memintaku mengajarinya untuk mengedit foto tersebut dengan software komputer.
Dengan senang hati aku kabulkan permintaan Dean itu.
Selagi
aku sedang asyik mengedit foto tersebut tiba-tiba Dean bercerita. Ia
menceritakan awal mula bertemu pacarnya. Sesuatu yang sesungguhnya tidak aku
ketahui. Walaupun kami sudah berkawan cukup lama, namun Dean dan aku selalu
memiliki batasan. Dia sudah memiliki terlalu banyak teman untuk diajak sharing.
Dan aku bukan salah seorang diantaranya.
Tapi
malam itu semua batasan yang menjulang diantara kami menghilang. Runtuh begitu
saja. Entah karena ia sudah tidak memiliki teman yang bisa diajak sharing atau
ia baru menyadari bahwa aku juga temannya. Namun itu semua bukanlah alasan
bagiku untuk mengabaikan setiap detail ceritanya.
Tidak
cukup satu malam ia bercerita. Ternyata ia memiliki banyak cerita yang aku
tidak tahu. Begitu pun aku yang memiliki banyak gurauan yang membuatnya
terpingkal. Hingga suatu hari saat aku sedang main kerumahnya. Cara bicaranya
terdengar lain dari biasanya. Akhir-akhir ini Dean memang sering mengeluhkan
atas kisah cintanya. Tentang sang pacar yang mempermasalahkan hubungan jarak
jauh antara mereka.
Aku
sempat menanyakan pada Dean akan kelangsungan hubungan mereka. Namun Dean
tampak tidak semangat membahas masalah itu. Seperti ketika aku sedang bermain
laptop dikamarnya. Ia terus memegangi ponselnya. Mengetik pesan kemudian
terdiam lama menunggu balasan dari pesannya. Begitu terus selama
berulang-ulang. Hingga akhirnya ia beranjak mengambil telepon rumahnya.
Aku
tahu sesuatu yang tidak beres sedang terjadi pada Dean. Pada kawan ku yang
duduk beberapa meter di belakangku. Aku mencoba mengabaikannya dan terus
melihat layar laptop. Namun mata dan telinga tidak mungkin bertemu. Aku
menguping pembicaraan Dean dan pacarnya. Dean mengambil telepon rumah untuk
menghubungi sang pacar. Sesuatu yang gawat sedang terjadi sehingga Dean merasa
perlu untuk berbicara langsung dengan pacarnya.
Aku
tidak menyangka sebelumnya kalau ternyata Dean adalah orang yang lembut. Dia
bisa kasar pada aku atau teman-teman kami yang lain, tapi ternyata tidak dengan
pacarnya. Walaupun dalam keadaan darurat sekali pun. Ia berbicara dengan lembut
dan suara yang terdengar berbeda. Baru sekali itu aku mendengar sisi lain Dean.
Beberapa
kata seperti kenapa, kemudian, oke, maaf, pikirkan sekali lagi terdengar
beberapa kali dari pembicaraan mereka. Aku yakin itu adalah akhir dari cerita
cinta Dean dengan pacarnya. Aku berhenti menggerakkan scroll pada mouse. Aku
beranjak dari tempat duduk ku dan mendekat pada Dean. Jika kami berdua adalah
wanita sudah pasti kami akan berpelukan.aku sudah pasti akan menenangkan nya
yang menangis tersedu-sedu.
Namun
kami laki-laki. Dean punya cara sendiri untuk menunjukkan kekecewaannya dan aku
punya cara sendiri untuk menghiburnya. Aku tahu bagaimana perasaan Dean saat
itu. Mengingat aku juga baru saja mengakhiri hubungan cintaku dengan Anda
beberapa bulan yang lalu. Disitulah kami, dua pemuda patah hati yang sedang
menjalani kehidupan cinta yang kurang menguntungkan.
“Apa
sedikit pun kau tidak tertarik untuk mendekati Bella? Kalian terlihat sangat
cocok.” Aku membuka pembicaraan baru berusaha mengembalikan mood Dean untuk
mengobrol. “Aku tidak memiliki rasa apa-apa Sam.” Dean selalu merasa terganggu
jika aku menjodohkannya dengan Bella. Tidak hanya aku, kawan-kawan yang lain
pun setuju jika mereka bersama. Dean dan Bella maksudku.
“Tapi
kalau kalian sedang bersama kau terlihat menikmatinya.” Aku menyeruput kopi
dari dalam cangkirku. Kopi itu sudah dingin. Namun itulah kopi, tidak
mengurangi sedikitpun kenikmatan ketika meneguknya. “Seperti nya aku biasa
saja. Kau saja yang melebih-lebihkan.” Nada suara Dean terdengar kesal.
Tampaknya ini bukan waktu yang tepat untuk membicarakan Bella. Salah seorang
teman kami dari SMA yang selalu jadi korban penyiksaan Dean, Fendy, dan aku
tentu saja.
“Fitri?
Bagaimana dengan Fitri. Dulu kalian sudah sangat dekat.” Aku mencari sosok
wanita yang lain yang kuanggap bisa mengembalikan mood Dean. “Tidak, Fitri
memilih bersama pacarnya yang sekarang. Ia menolak ku Sam, kamu tidak ingat?”
Dean mengambil lagi sebatang rokoknya. Akhirnya ia bisa meninggalkan
keseriusannya dengan laptopnya.
“Kamu
juga aneh Dean. Di usia seperti sekarang masih saja menyatakan cinta lewat
telepon.” Aku ingat cerita Dean tentang usahanya menjadikan Fitri pacarnya.
Fitri itu teman kami di SMA juga, tapi aku tidak begitu mengenalnya. Berbeda
dengan Dean yang memiliki teman banyak di SMA.
Dean
hanya terkekeh mengingat kekonyolan aksinya waktu itu. aku juga tidak begitu
tahu mengenai kebenaran cerita Dean. Apakah ia telah benar-benar menembak Fitri
atau itu hanya cara Dean menutup mulutku. Karena memang dulu aku sering sekali
menggoda Dean dengan menyuruhnya menembak Fitri. Lagipula Fitri terlihat
sebagai wanita yang baik. Dari cerita Dean juga mereka tampaknya saling
menyukai. Tapi ternyata niat baik Dean tidak di indahkan oleh Fitri.
Mungkin
Fitri merasa Dean memiliki hati dari baja. Berulang kali Fitri memberi sinyal
positif kepada Dean namun Dean mengabaikannya. Hingga sampai akhirnya Dean baru
menyadari bahwa ada sesuatu diantara mereka. Namun segala sesuatu yang indah
pasti terlambat kita sadari. Fitri tampaknya sudah memilih lelaki lain. Lelaki
yang menjadi pacarnya beberapa minggu setelah Dean menyatakan cintanya.
Ironis
memang. Namun begitulah Dean. Dengan segala kemampuan dan daya tariknya memikat
wanita. Ia masih betah tinggal di liang kesepian hanya berkawankan karier,
keluarga, dan teman baiknya. Aku. Mungkin hidupnya tidak sepi secara harfiah.
Namun sepi dalam segi cinta. Bukan kita yang memilih cinta itu ada atau tidak.
Melainkan cinta itu sendiri yang akan memilih siapa orang yang beruntung
mendapatkannya. Jika kau yang beruntung, jangan pernah lepaskan. Karena cinta
tidak hanya untuk dirimu. Dia bisa dengan mudah terbang, pergi, dan hinggap
pada orang lain.
No comments:
Post a Comment