Kita
merasa sudah belajar melihat sejak kita masih bayi. Melihat semua benda. Tapi
terkadang kita lupa untuk belajar melihat sebuah hal. Melihat cinta misalnya. Kita
merasa kita telah melihat cinta, padahal kita hanya mengetahuinya. Kita tahu
cinta itu seperti apa dan bagaimana. Tapi itu bukan sebuah kepastian mutlak
bahwa kita telah melihat cinta. Karena sesungguhnya kita belum benar-benar bisa
mengetahui cinta sebelum kita melihatnya sendiri. Bukan dengan mata tapi dengan
hati.
Dean
kembali mengutak-atik laptopnya. Ia menunggu ku mulai bercerita. Sedangkan aku,
menghisap batang rokok keduaku sambil menunggu secangkir kopi Americano yang
aku pesan. Aku sedang mencari-cari awalan yang tepat untuk obrolan panjang ini.
Ya mungkin juga bakal jadi pendek apabila Dean menanggapi cerita ku ini dengan
dingin.
Seorang
pelayan datang dengan sebaki penuh pesanan kami. Bukan karena pesanan kami yang
banyak. Tapi karena baki si pelayan yang terlalu kecil. Ia meletakkan secangkir
kopi dihadapanku lengkap dengan 2 bungkus gula pasir dan sendok kecil. Setelah
ia selesai meletakkan susu pesanan Dean dan sepiring sedang kentang goreng ia
pun kembali ke sudutnya berdiri. Dekat tangga masuk. Menanti pesanan dari
pengunjung yang lain.
“Sudah
dapat kabar kalo Anda mau menikah?” Aku menuangkan gula secara pasti kedalam
cangkir kopiku. Dean masih asyik dengan laptopnya ketika aku sudah selesai
menuangkan bungkusan kedua gula pasirku. “Aku baru denger tadi dari Sarah.” Aku
melanjutkan pembicaraan itu. Seolah aku sedang melangsungkan tanya jawab dengan
diriku sendiri.
“Kamu
terlalu banyak berpikir.” Dean mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke
gelas beling tinggi berisi susu bercampur jus melon. “Pada akhirnya tinggal
siapa yang lebih dulu melamar.” Dean melanjutkan perkataanya karena aku terdiam
bingung. Aku sungguhnya tidak bingung. Namun beberapa detik setelah Dean
mengatakan bahwa aku terlalu banyak berpikir aku langsung mengintropeksi
diriku. Ya secepat itu. Dan aku menyetujui perkataannya.
“Anda
adalah orang yang asyik dan membuatku jadi diriku. Mungkin aku hanya belum
dapat pengganti seperti dia.” Aku menyeruput kopi hitam ku. Biji Americano
tanpa ampas. Dengan cangkir kecil karena kopi ini sangat kuat. “Tidak ada orang
yang sama Sam. Kau tidak akan bisa mendapatkan seseorang seperti Anda.” Dean
mematikan rokoknya bersikap lebih serius sekarang.
Aku
mengubah posisi duduk ku lagi. Kali ini dengan kaki kanan yang naik ke kursi
rotan yang kududuki. Aku ikut mematikan putung rokok ku karena hanya tersisa
busanya saja. “Bagaimana pun Anda sahabatku, aku tidak bisa membayangkan jika
aku tidak bisa datang kepernikahannya.” Ya pacar Anda sangat tidak suka padaku.
Padahal kami belum pernah bertemu.
Aku.
Saman Syaiful Fallah. Dan Anda hanya berpacaran selama kurang dari 7 bulan.
Kami satu universitas namun berbeda jurusan. Aku setia pada pendirianku untuk
mempelajari seni sedangkan Anda karena gagal masuk ujian universitas negeri
jadi terdampar di kampusku.
Kami
sudah sangat dekat sewaktu kelas 3 SMA. Aku sekelas dengan nya dari kelas 2
SMA. Tapi pertama kali aku melihatnya yaitu saat kami masih duduk di kelas 1
SMA. Lucu memang. Namun saat itu tersiar kabar bahwa aku sedang PDKT dengan
teman sekelas Anda. Hal itu tersiar begitu saja karena hari sebelumnya aku
sempat terlihat berjalan dengan teman sekelasnya ke sebuah pusat perbelanjaan.
Padahal itu hal sepele. Namun masa SMA tidak sesepele itu.
Kami
bertemu lagi pada saat kami mendapatkan kelas yang sama di tingkat 2. Mungkin
sebelumnya kami sering bertemu karena kami satu SMA, namun tidak ada yang
spesial dari Anda sehingga aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku hanya ingat
waktu dulu dia sempat menghampiri aku di kelas 1 hanya untuk berkenalan dan
mengkonfirmasi kebenaran gosip yang beredar. Yang tentu saja aku bantah
sepihak.
Seingatku
itu kesan pertama yang kutangkap dari sosok Anda. Aku adalah seseorang yang
mudah bergaul terutama dengan wanita. Dan tidak ada sedikitpun terbesit pikiran
akan jatuh cinta pada salah seorang dari mereka. Sehingga aku tidak begitu banyak
mengingat peristiwa romantis apa yang melibatkan kami berdua. Atau mungkin
tidak ada sama sekali. Karena seingatku kami bukan pasangan yang cocok pada
saat awal bertemu.
Dean
mengambil korek apinya dan mulai merokok lagi. “Entah kenapa sampai sekarang pun
aku berkomunikasi dengan Anda dengan cara sembunyi-sembunyi.” Aku ikut
mengambil sebatang lagi rokok untuk kuhisap.”Komunikasi kalian selancar apa?
Aku tidak pernah tahu.” Dean menghisap dalam-dalam rokoknya.
“Tidak
begitu lancar. Aku bisa menjaga jarak dengan dia. Dan aku tidak mau ia
bertengkar dengan pacarnya gara-gara aku.” Entah mengapa si Gilang pacar Anda
sekaligus calon suaminya begitu cemburu padaku. Padahal dia sudah memiliki Anda
seutuhnya. Jiwa maupun raga. Aku tidak memiliki apa-apa yang patut ditakuti
oleh Gilang. Yang bisa merebut Anda dari pelukannya. Bahkan hubungan cinta kami
tidak berakhir dengan baik.
“Baik
benar kau berpikir seperti itu.” Dean menyedot susu pesanannya. “Apakah itu
seperti sebuah batu besar yang menghalangimu mendapatkan cewek baru?” Dean
tidak membiarkan aku larut dalam kenangan ku dengan Anda. Dia berusaha
menarikku keluar dari kenangan itu. “Bukan. Bukan karena Anda. Aku memang belum
mendapatkan yang pas saja.” Aku tidak berani menatap mata Dean yang begitu
ingin tahu. Seperti menelanjangiku ditengah caffe ini.
“Lalu?”
Dean menyandarkan bahunya yang bidang pada kursi rotan yang didudukinya. Tangan
kanan nya masih memegang sebatang rokok dan tangan kirinya sesekali menekan
tombol down pada laptopnya. “Aku merasa aneh. Aku tidak yakin dengan apa yang
aku rasakan saat ini. Mendengar Anda akan menikah dengan Gilang membuatku
seperti pecundang.” Aku merasa kalah dengan Gilang. Tentu saja kami tidak
sedang bertanding.
Walau
pun Gilang baru saja lulus kuliah tapi dia berani meminang Anda yang sudah
bekerja. Gilang sudah bekerja juga. Maksudku dia masih baru dikantornya
sedangkan Anda sudah hampir setahun bekerja. Aku iri akan keberaniannya. Benar
juga kata Dean, pada akhirnya tinggal siapa dulu yang melamar. Sial.
Sedangkan
aku masih belum jelas penghasilan perbulan. Bahkan terkadang aku masih menerima
sokongan dana dari orang tuaku. Padahal jelas aku lulus terlebih dahulu
dibanding Gilang. Tapi berpikir membuatku kehilangan banyak waktu dalam
hidupku. Benar kata Dean, aku terlalu banyak berpikir. Lagi-lagi sial.
“Apa
yang sedang kau lamunkan sekarang?” Dean memperhatikan arah mataku yang fokus
pada cangkir kopi di hadapanku. Pertanyaan itu sering terlontar apabila salah
seorang diantara kami sedang melamun. “Tidak ada. Aku hanya memperhatikan
cangkir putih ini dan kopi hitam didalamnya. Apalah arti cangkir ini tanpa kopi
didalamnya dan sebaliknya. Kopi ini tidak bisa kuapa-apakan tanpa adanya
cangkir yang mewadahinya.” Pandanganku masih lurus kearah cangkir.
Sewaktu
SMA aku adalah salah satu manusia culun disana. Mungkin aku berusaha
memungkirinya. Seperti sifat alami ku. Defensif. Selalu tidak ingin disalahkan.
Tapi aku tidak menyadari sepenuhnya akan sosok diriku, hingga akhirnya aku
masuk ke kelas 2.
Aku
adalah manusia semi anti-sosial. Tapi aku malah masuk di kelas ilmu sosial. Aku
memang menginginkannya karena aku sangat benci fisika. Tidak seperti
teman-temanku yang masuk ilmu alam karena gengsi. Akan tetapi aku bersyukur
bisa masuk ke kelas ini. Setidaknya aku tidak akan mendapatkan teman-teman
seperti Dean, Sarah, Rahmi, Anda, dan yang lain jika aku terbuai gengsi dan
masuk kelas ilmu alam.
Hobiku
membaca membuatku menjadi seseorang yang individual. Aku lebih senang
menghabiskan waktu dirumah untuk melahap habis novel yang kupinjam daripada
harus hangout bersama kawan-kawan. Entah aku punya atau tidak. Sifat tersebut
terbawa hingga aku SMA. Dan dikelas sosial sifat seperti ini sangatlah
menganggu.
Awal
masuk kelas, aku sudah bingung menentukan teman sebangku. Apalagi alasannya
selain aku tidak punya banyak teman. Aku lebih senang menghabiskan waktuku
untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah kukenal. Daripada menyediakan
waktu lebih untuk mengenal orang-orang baru. Tapi begitulah aku. Salah satu
makhluk culun yang merasa dirinya keren.
Setelah
mendapat bantuan dari orang-orang yang belum kukenal akhirnya aku berhasil
menentukan teman sebangkuku. Manusia yang aku anggap culun. Makhluk culun
lainnya di sekolah. Siswa keriting, berkecamata, dan mengucap huruf S dengan
lidah yang digigit di sela-sela gigi. Tapi satu harapanku. Semoga dia adalah
siswa yang pintar dan tidak banyak berbicara, karena aku cinta ketenangan saat
kelas dimulai. Satu lagi. Aku tidak suka diganggu saat mengerjakan tugas maupun
ujian.
Memang
minggu pertama berjalan lancar. Aku bisa menikmati kelas baru dan suasana baru.
Tentu masih berpegang teguh pada sifat individualis ku. Frankie. Teman sebangku
ku yang juga makhluk culun. Terkadang dia menggangguku dengan pertanyaan ringan
nya. Mengenai pelajaran, jam istirahat, atau hal-hal sepele semacam meminjam
alat tulis. Pertanyaan yang selalu mendapat tanggapan dingin dariku. Lantaran
dilontarkan pada saat kelas berlangsung. Sepertinya Frankie membenciku banyak.
Jika
berbicara masalah kebencian aku masih punya stock orang-orang yang membenciku.
Tapi itu dulu karena sekarang justru merekalah kawan-kawan terbaikku. Sarah,
Anda, Rahmi, dan 2 siswi lainnya dulu merupakan komplotan. Komplotan penggosip
yang setia pada keberisikannya.
Aku
selalu menyempatkan diri untuk menoleh ke arah mereka pada saat jam pelajaran
berlangsung. Baik untuk menyuarakan bisikan ‘Sshhhh’ ketika mereka mulai
berisik. Atau terkadang hanya memberikan lirikan mematikan. Lirikan tajam yang
menempatkan bola mataku di sudut mata dan menurut kawan-kawan ku itu menakutkan
sekaligus menyebalkan.
Na’as
nya lagi Frankie lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka. Jadilah aku
semacam tembok pemisah antara Frankie dan para biang gosip itu. Mungkin Frankie
menganggapku sebagai teman yang payah karena terlalu serius. Entah mengapa aku
bisa seserius itu. Mungkin karena title siswa dengan nilai terbaik di SMP
membuatku jadi setinggi itu. Tinggi hati sehingga memandang orang lain lebih
rendah.
“Kau
sendiri bagaimana Dean?” aku kembali fokus pada orang dihadapanku. Dean masih
asyik menghisap rokoknya. Sesekali ia mengambil smartphone nya untuk mengecek
notifikasi. “Apanya?” tukasnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP nya.
“Gebetan? Siapa gebetanmu sekarang?” aku seolah mencari waktu untuk beristirahat
sejenak dari kegundahan hati ku.
“Belum
ada.” Dean kembali menatapku dengan matanya yang cokelat. Entah berapa banyak
orang yang mengira kami adalah pasangan. Yang tentu saja itu semua hanya dugaan
mereka. “Ayolah, kamu selalu aktif di jejaring sosial. Menjaring satu cewek aja
nggak bisa?” aku menyeruput kopi dari cangkir putih yang kuangkat setinggi
leher.
“Sebenarnya
ada beberapa, tapi terlalu dini untuk menyebutnya gebetan. Kalau sudah ada
pasti akan aku ceritakan.” Dean meletakkan HP nya dan kembali bersandar pada
kursi rotan. Ia meniupkan asap rokok dari mulutnya ke udara. Aku hanya
tersenyum. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang di pikirkan Dean saat ini.
Dean
adalah orang yang baik. Dia mudah bergaul. Secara fisik dia oke kecuali tinggi
badan yang ada dibawahku. Jika kalian melihat aku dan Dean bersamaan, kalian
akan tertarik mengenal Dean lebih jauh dibandingkan aku. Bahkan sekarang ia
berprofesi sebagai fotografer. Profesi yang membuat wanita makin tertarik. Coba
bawakan aku satu wanita yang tidak suka difoto. Ada kah?
Waktu
kelas 2 SMA aku masuk kelas yang sama dengan Dean. Sebenarnya walau pun kami
satu kelas dulunya tapi aku tidak begitu mengenal Dean. Aku hanya tahu sosoknya
seperti apa dan perubahan pada wajahnya yang dulu berjerawat parah. Selebihnya
aku hanya tahu bahwa dia duduk bersama ketua kelas kami.
Ketika
kami berada dikelas yang sama di kelas 2 Dean duduk satu deret denganku. Sejak
itu secara tidak langsung aku tahu beberapa hal mengenai Dean. Seperti bahwa
dia dulu adalah seorang B-boy alias Break-Dancer. Kemudian hal lain adalah dia
punya kegemaran membuat grafiti. Keahlian yang aku sendiri sebagai orang seni
tidak bisa melakukannya.
Dean
menatapku penuh keraguan. “Apa kamu masih suka sama Anda?” inilah pertanyaan
yang nampaknya sudah ditahan-tahan oleh Dean sejak dulu. Ya, sejak dulu aku
putus dengan Anda dan memilih menyibukkan diri dengan Dean. Menyibukkan diri
dengan proses belajar Dean menjadi fotografer. Bekerja disela-sela jam kuliah
untuk menciptakan usaha bersama.
“Jika
pun iya aku sekarang bisa apa Dean?” Aku yakin Dean mengetahui perasaanku
sebenarnya. Ia menanyakannya hanya untuk meyakinkan pendapatnya tentang
perasaanku. Saking seringnya kami bersama kami jadi sensitif dengan kesukaan
dan ketidaksukaan masing-masing dari kami. Pantas saja banyak orang yang
mengira kami adalah pasangan.
Dulu
waktu pertama kali Dean tahu aku berpacaran dengan Anda , Dean tidak kaget
sedikit pun. Ia bilang sebenarnya dia sudah tahu bahwa aku sudah lama suka pada
Anda. Entah dia hanya mengarang cerita atau di benar-benar tahu. Tapi
begitulah, aku mulai merasakan sesuatu yang lebih pada Anda semenjak SMA. Dan kami mulai berpacaran ketika kami
berkuliah di tahun kedua.
No comments:
Post a Comment