Wednesday, 5 March 2014

Belajar Melihat

Kita merasa sudah belajar melihat sejak kita masih bayi. Melihat semua benda. Tapi terkadang kita lupa untuk belajar melihat sebuah hal. Melihat cinta misalnya. Kita merasa kita telah melihat cinta, padahal kita hanya mengetahuinya. Kita tahu cinta itu seperti apa dan bagaimana. Tapi itu bukan sebuah kepastian mutlak bahwa kita telah melihat cinta. Karena sesungguhnya kita belum benar-benar bisa mengetahui cinta sebelum kita melihatnya sendiri. Bukan dengan mata tapi dengan hati.


















Dean kembali mengutak-atik laptopnya. Ia menunggu ku mulai bercerita. Sedangkan aku, menghisap batang rokok keduaku sambil menunggu secangkir kopi Americano yang aku pesan. Aku sedang mencari-cari awalan yang tepat untuk obrolan panjang ini. Ya mungkin juga bakal jadi pendek apabila Dean menanggapi cerita ku ini dengan dingin.
Seorang pelayan datang dengan sebaki penuh pesanan kami. Bukan karena pesanan kami yang banyak. Tapi karena baki si pelayan yang terlalu kecil. Ia meletakkan secangkir kopi dihadapanku lengkap dengan 2 bungkus gula pasir dan sendok kecil. Setelah ia selesai meletakkan susu pesanan Dean dan sepiring sedang kentang goreng ia pun kembali ke sudutnya berdiri. Dekat tangga masuk. Menanti pesanan dari pengunjung yang lain.
“Sudah dapat kabar kalo Anda mau menikah?” Aku menuangkan gula secara pasti kedalam cangkir kopiku. Dean masih asyik dengan laptopnya ketika aku sudah selesai menuangkan bungkusan kedua gula pasirku. “Aku baru denger tadi dari Sarah.” Aku melanjutkan pembicaraan itu. Seolah aku sedang melangsungkan tanya jawab dengan diriku sendiri.
“Kamu terlalu banyak berpikir.” Dean mengalihkan pandangannya dari layar laptop ke gelas beling tinggi berisi susu bercampur jus melon. “Pada akhirnya tinggal siapa yang lebih dulu melamar.” Dean melanjutkan perkataanya karena aku terdiam bingung. Aku sungguhnya tidak bingung. Namun beberapa detik setelah Dean mengatakan bahwa aku terlalu banyak berpikir aku langsung mengintropeksi diriku. Ya secepat itu. Dan aku menyetujui perkataannya.
“Anda adalah orang yang asyik dan membuatku jadi diriku. Mungkin aku hanya belum dapat pengganti seperti dia.” Aku menyeruput kopi hitam ku. Biji Americano tanpa ampas. Dengan cangkir kecil karena kopi ini sangat kuat. “Tidak ada orang yang sama Sam. Kau tidak akan bisa mendapatkan seseorang seperti Anda.” Dean mematikan rokoknya bersikap lebih serius sekarang.
Aku mengubah posisi duduk ku lagi. Kali ini dengan kaki kanan yang naik ke kursi rotan yang kududuki. Aku ikut mematikan putung rokok ku karena hanya tersisa busanya saja. “Bagaimana pun Anda sahabatku, aku tidak bisa membayangkan jika aku tidak bisa datang kepernikahannya.” Ya pacar Anda sangat tidak suka padaku. Padahal kami belum pernah bertemu.
Aku. Saman Syaiful Fallah. Dan Anda hanya berpacaran selama kurang dari 7 bulan. Kami satu universitas namun berbeda jurusan. Aku setia pada pendirianku untuk mempelajari seni sedangkan Anda karena gagal masuk ujian universitas negeri jadi terdampar di kampusku.
Kami sudah sangat dekat sewaktu kelas 3 SMA. Aku sekelas dengan nya dari kelas 2 SMA. Tapi pertama kali aku melihatnya yaitu saat kami masih duduk di kelas 1 SMA. Lucu memang. Namun saat itu tersiar kabar bahwa aku sedang PDKT dengan teman sekelas Anda. Hal itu tersiar begitu saja karena hari sebelumnya aku sempat terlihat berjalan dengan teman sekelasnya ke sebuah pusat perbelanjaan. Padahal itu hal sepele. Namun masa SMA tidak sesepele itu.
Kami bertemu lagi pada saat kami mendapatkan kelas yang sama di tingkat 2. Mungkin sebelumnya kami sering bertemu karena kami satu SMA, namun tidak ada yang spesial dari Anda sehingga aku tidak terlalu memperhatikannya. Aku hanya ingat waktu dulu dia sempat menghampiri aku di kelas 1 hanya untuk berkenalan dan mengkonfirmasi kebenaran gosip yang beredar. Yang tentu saja aku bantah sepihak.
Seingatku itu kesan pertama yang kutangkap dari sosok Anda. Aku adalah seseorang yang mudah bergaul terutama dengan wanita. Dan tidak ada sedikitpun terbesit pikiran akan jatuh cinta pada salah seorang dari mereka. Sehingga aku tidak begitu banyak mengingat peristiwa romantis apa yang melibatkan kami berdua. Atau mungkin tidak ada sama sekali. Karena seingatku kami bukan pasangan yang cocok pada saat awal bertemu.
Dean mengambil korek apinya dan mulai merokok lagi. “Entah kenapa sampai sekarang pun aku berkomunikasi dengan Anda dengan cara sembunyi-sembunyi.” Aku ikut mengambil sebatang lagi rokok untuk kuhisap.”Komunikasi kalian selancar apa? Aku tidak pernah tahu.” Dean menghisap dalam-dalam rokoknya.
“Tidak begitu lancar. Aku bisa menjaga jarak dengan dia. Dan aku tidak mau ia bertengkar dengan pacarnya gara-gara aku.” Entah mengapa si Gilang pacar Anda sekaligus calon suaminya begitu cemburu padaku. Padahal dia sudah memiliki Anda seutuhnya. Jiwa maupun raga. Aku tidak memiliki apa-apa yang patut ditakuti oleh Gilang. Yang bisa merebut Anda dari pelukannya. Bahkan hubungan cinta kami tidak berakhir dengan baik.
“Baik benar kau berpikir seperti itu.” Dean menyedot susu pesanannya. “Apakah itu seperti sebuah batu besar yang menghalangimu mendapatkan cewek baru?” Dean tidak membiarkan aku larut dalam kenangan ku dengan Anda. Dia berusaha menarikku keluar dari kenangan itu. “Bukan. Bukan karena Anda. Aku memang belum mendapatkan yang pas saja.” Aku tidak berani menatap mata Dean yang begitu ingin tahu. Seperti menelanjangiku ditengah caffe ini.
“Lalu?” Dean menyandarkan bahunya yang bidang pada kursi rotan yang didudukinya. Tangan kanan nya masih memegang sebatang rokok dan tangan kirinya sesekali menekan tombol down pada laptopnya. “Aku merasa aneh. Aku tidak yakin dengan apa yang aku rasakan saat ini. Mendengar Anda akan menikah dengan Gilang membuatku seperti pecundang.” Aku merasa kalah dengan Gilang. Tentu saja kami tidak sedang bertanding.
Walau pun Gilang baru saja lulus kuliah tapi dia berani meminang Anda yang sudah bekerja. Gilang sudah bekerja juga. Maksudku dia masih baru dikantornya sedangkan Anda sudah hampir setahun bekerja. Aku iri akan keberaniannya. Benar juga kata Dean, pada akhirnya tinggal siapa dulu yang melamar. Sial.
Sedangkan aku masih belum jelas penghasilan perbulan. Bahkan terkadang aku masih menerima sokongan dana dari orang tuaku. Padahal jelas aku lulus terlebih dahulu dibanding Gilang. Tapi berpikir membuatku kehilangan banyak waktu dalam hidupku. Benar kata Dean, aku terlalu banyak berpikir. Lagi-lagi sial.
“Apa yang sedang kau lamunkan sekarang?” Dean memperhatikan arah mataku yang fokus pada cangkir kopi di hadapanku. Pertanyaan itu sering terlontar apabila salah seorang diantara kami sedang melamun. “Tidak ada. Aku hanya memperhatikan cangkir putih ini dan kopi hitam didalamnya. Apalah arti cangkir ini tanpa kopi didalamnya dan sebaliknya. Kopi ini tidak bisa kuapa-apakan tanpa adanya cangkir yang mewadahinya.” Pandanganku masih lurus kearah cangkir.
Sewaktu SMA aku adalah salah satu manusia culun disana. Mungkin aku berusaha memungkirinya. Seperti sifat alami ku. Defensif. Selalu tidak ingin disalahkan. Tapi aku tidak menyadari sepenuhnya akan sosok diriku, hingga akhirnya aku masuk ke kelas 2.
Aku adalah manusia semi anti-sosial. Tapi aku malah masuk di kelas ilmu sosial. Aku memang menginginkannya karena aku sangat benci fisika. Tidak seperti teman-temanku yang masuk ilmu alam karena gengsi. Akan tetapi aku bersyukur bisa masuk ke kelas ini. Setidaknya aku tidak akan mendapatkan teman-teman seperti Dean, Sarah, Rahmi, Anda, dan yang lain jika aku terbuai gengsi dan masuk kelas ilmu alam.
Hobiku membaca membuatku menjadi seseorang yang individual. Aku lebih senang menghabiskan waktu dirumah untuk melahap habis novel yang kupinjam daripada harus hangout bersama kawan-kawan. Entah aku punya atau tidak. Sifat tersebut terbawa hingga aku SMA. Dan dikelas sosial sifat seperti ini sangatlah menganggu.
Awal masuk kelas, aku sudah bingung menentukan teman sebangku. Apalagi alasannya selain aku tidak punya banyak teman. Aku lebih senang menghabiskan waktuku untuk berkomunikasi dengan orang-orang yang sudah kukenal. Daripada menyediakan waktu lebih untuk mengenal orang-orang baru. Tapi begitulah aku. Salah satu makhluk culun yang merasa dirinya keren.
Setelah mendapat bantuan dari orang-orang yang belum kukenal akhirnya aku berhasil menentukan teman sebangkuku. Manusia yang aku anggap culun. Makhluk culun lainnya di sekolah. Siswa keriting, berkecamata, dan mengucap huruf S dengan lidah yang digigit di sela-sela gigi. Tapi satu harapanku. Semoga dia adalah siswa yang pintar dan tidak banyak berbicara, karena aku cinta ketenangan saat kelas dimulai. Satu lagi. Aku tidak suka diganggu saat mengerjakan tugas maupun ujian.
Memang minggu pertama berjalan lancar. Aku bisa menikmati kelas baru dan suasana baru. Tentu masih berpegang teguh pada sifat individualis ku. Frankie. Teman sebangku ku yang juga makhluk culun. Terkadang dia menggangguku dengan pertanyaan ringan nya. Mengenai pelajaran, jam istirahat, atau hal-hal sepele semacam meminjam alat tulis. Pertanyaan yang selalu mendapat tanggapan dingin dariku. Lantaran dilontarkan pada saat kelas berlangsung. Sepertinya Frankie membenciku banyak.
Jika berbicara masalah kebencian aku masih punya stock orang-orang yang membenciku. Tapi itu dulu karena sekarang justru merekalah kawan-kawan terbaikku. Sarah, Anda, Rahmi, dan 2 siswi lainnya dulu merupakan komplotan. Komplotan penggosip yang setia pada keberisikannya.
Aku selalu menyempatkan diri untuk menoleh ke arah mereka pada saat jam pelajaran berlangsung. Baik untuk menyuarakan bisikan ‘Sshhhh’ ketika mereka mulai berisik. Atau terkadang hanya memberikan lirikan mematikan. Lirikan tajam yang menempatkan bola mataku di sudut mata dan menurut kawan-kawan ku itu menakutkan sekaligus menyebalkan.
Na’as nya lagi Frankie lebih sering menghabiskan waktu dengan mereka. Jadilah aku semacam tembok pemisah antara Frankie dan para biang gosip itu. Mungkin Frankie menganggapku sebagai teman yang payah karena terlalu serius. Entah mengapa aku bisa seserius itu. Mungkin karena title siswa dengan nilai terbaik di SMP membuatku jadi setinggi itu. Tinggi hati sehingga memandang orang lain lebih rendah.
“Kau sendiri bagaimana Dean?” aku kembali fokus pada orang dihadapanku. Dean masih asyik menghisap rokoknya. Sesekali ia mengambil smartphone nya untuk mengecek notifikasi. “Apanya?” tukasnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar HP nya. “Gebetan? Siapa gebetanmu sekarang?” aku seolah mencari waktu untuk beristirahat sejenak dari kegundahan hati ku.
“Belum ada.” Dean kembali menatapku dengan matanya yang cokelat. Entah berapa banyak orang yang mengira kami adalah pasangan. Yang tentu saja itu semua hanya dugaan mereka. “Ayolah, kamu selalu aktif di jejaring sosial. Menjaring satu cewek aja nggak bisa?” aku menyeruput kopi dari cangkir putih yang kuangkat setinggi leher.
“Sebenarnya ada beberapa, tapi terlalu dini untuk menyebutnya gebetan. Kalau sudah ada pasti akan aku ceritakan.” Dean meletakkan HP nya dan kembali bersandar pada kursi rotan. Ia meniupkan asap rokok dari mulutnya ke udara. Aku hanya tersenyum. Aku tidak tahu apa sebenarnya yang di pikirkan Dean saat ini.
Dean adalah orang yang baik. Dia mudah bergaul. Secara fisik dia oke kecuali tinggi badan yang ada dibawahku. Jika kalian melihat aku dan Dean bersamaan, kalian akan tertarik mengenal Dean lebih jauh dibandingkan aku. Bahkan sekarang ia berprofesi sebagai fotografer. Profesi yang membuat wanita makin tertarik. Coba bawakan aku satu wanita yang tidak suka difoto. Ada kah?
Waktu kelas 2 SMA aku masuk kelas yang sama dengan Dean. Sebenarnya walau pun kami satu kelas dulunya tapi aku tidak begitu mengenal Dean. Aku hanya tahu sosoknya seperti apa dan perubahan pada wajahnya yang dulu berjerawat parah. Selebihnya aku hanya tahu bahwa dia duduk bersama ketua kelas kami.
Ketika kami berada dikelas yang sama di kelas 2 Dean duduk satu deret denganku. Sejak itu secara tidak langsung aku tahu beberapa hal mengenai Dean. Seperti bahwa dia dulu adalah seorang B-boy alias Break-Dancer. Kemudian hal lain adalah dia punya kegemaran membuat grafiti. Keahlian yang aku sendiri sebagai orang seni tidak bisa melakukannya.
Dean menatapku penuh keraguan. “Apa kamu masih suka sama Anda?” inilah pertanyaan yang nampaknya sudah ditahan-tahan oleh Dean sejak dulu. Ya, sejak dulu aku putus dengan Anda dan memilih menyibukkan diri dengan Dean. Menyibukkan diri dengan proses belajar Dean menjadi fotografer. Bekerja disela-sela jam kuliah untuk menciptakan usaha bersama.
“Jika pun iya aku sekarang bisa apa Dean?” Aku yakin Dean mengetahui perasaanku sebenarnya. Ia menanyakannya hanya untuk meyakinkan pendapatnya tentang perasaanku. Saking seringnya kami bersama kami jadi sensitif dengan kesukaan dan ketidaksukaan masing-masing dari kami. Pantas saja banyak orang yang mengira kami adalah pasangan.

Dulu waktu pertama kali Dean tahu aku berpacaran dengan Anda , Dean tidak kaget sedikit pun. Ia bilang sebenarnya dia sudah tahu bahwa aku sudah lama suka pada Anda. Entah dia hanya mengarang cerita atau di benar-benar tahu. Tapi begitulah, aku mulai merasakan sesuatu yang lebih pada Anda semenjak SMA.  Dan kami mulai berpacaran ketika kami berkuliah di tahun kedua.

No comments:

Post a Comment