Wednesday, 19 March 2014

Bertemu dan Berpisah

            “Kemarin kau cerita tentang aplikasi yang kau masukan di beberapa perusahaan?” Dean tiba-tiba membuyarkan ingatanku. Mataku rasanya tidak ingin lepas dari layar ponsel yang terus menunjukkan foto-foto lawas ku. Namun aku tidak begitu egois untuk mengabaikan pertanyaan Dean.
              Aku mengangkat daguku. Ternyata Dean sudah memasukkan laptopnya kembali kedalam tasnya. “Iya, beberapa lamaran.” Aku meletakkan ponsel pintarku ke atas meja di depanku. “Sudah ada yang direspon?” Dean mengambil satu lagi batang rokok berwarna putih dengan filter berwarna cokelat muda. “Belum, lagipula cuaca seperti saat ini tidak terlalu baik untuk berpergian jauh.” Aku mengangkat cangkir kopiku dan meneguknya. “Memang dimana saja?” Dean memperhatikan suasana caffe yang semakin ramai. “Jakarta, Bandung, Bali. Sebaiknya kau segera saja mencari pacar.”
                Dean hanya terkekeh. Kali ini pandangannya terarah ke meja disamping kami yang ditempati 4 orang wanita berpakaian minim. “Aku serius. Atau kamu mau menikmati malam minggu hanya sendirian? Jangan bertingkah seperti seseorang yang patut dikasihani begitu.” Aku menyandarkan mengambil tasku dan memasukkan ponsel ku kedalamnya. Hujan sudah mereda. Biasanya setelah menghabiskan rokok yang sedang dihisapnya Dean akan mengajak pulang.
                “Paling kan hanya setahun. Setahun itu 365 hari,dibagi 7 berarti...” Dean membuka aplikasi kalkulator di ponselnya. “Hanya sekitar 52 malam minggu. Aku bisa mengatasinya.” Lanjut Dean bangga akan penghitungan ponselnya. Aku mengerutkan dahiku. Bagaimana Dean bisa sangat percaya diri mengenai lamanya kepergianku dari Semarang.
                  Cuaca malam yang sangat dingin menemani perjalananku menuju rumah. Aku tidak ingat ada berapa malam minggu yang aku habiskan bersama Dean. Pilihan hanya dua, menghabiskan waktu sendiri dirumah atau pergi keluar bersama Dean untuk sekedar mengobrol atau mencari keramaian disudut kota. Sesuatu yang unik tapi akan sangat kurindukan jika aku benar-benar akan meninggalkan kota Semarang. Namun itulah hidup, ada pertemuan dan ada perpisahan. Fase berulang dalam kehidupanku yang mengajarkanku bahwa tidak ada yang kekal abadi di dunia ini.
                    Jika aku bisa meninggalkan Semarang setidaknya aku bisa mencari kehidupan yang baru di luar Semarang. Mencari pengharapan baru. Impian yang baru. Hingga bisa lari dari kenyataan. Kenyataan yang sedikit membuatku terkekeh jika menyadarinya. Aku hanya berlari dari bayang-bayang Anda. Aku belum bisa menghadapinya. Anda dan kekasihnya dan rencana pernikahannya. Hal-hal yang sedikit menggangguku.
Jangan menyalahartikan hal ini sebagai ketidaksukaanku pada kebahagiaan Anda. Bukan itu. Lagipula aku tidak memiliki wewenang untuk berpendapat mengenai hubungan mereka. Namun berada jauh dari jangkauan Anda mungkin dapat membuatku lebih tenang. Setidaknya itulah sebuah kemungkinan yang bisa aku ambil.


Pada akhirnya semua keputusan yang tidak dipikirkan secara matang akan membuahkan penyesalan. dan penyesalan bukanlah jalan satu-satunya yang bisa kita ambil. Karena diluar lubang penyesalan ada banyak sekali hal-hal baik yang menunggu untuk kita nikmati. Menunggu untuk menemani setiap langkah dalam hidup kita. Keluarlah dari lubang itu dan rasakan kehidupan yang benar-benar hidup. Kemudian jangan melakukan kesalahan yang sama lagi untuk memutuskan sesuatu. Karena hidup terlalu pendek bagi kita untuk mengulangi kesalahan yang sama.

1 comment:

  1. Hi, Mr. Laughter Machine

    As you asked, I just done read the whole story on this site. And you succeed to bring tears on my face in this kinda breezy night. Hahaha thankyou, by the way.

    I hope I could be one of your another amazing love story in the next days.

    Xoxo,
    Your current love.



    Ps: I love you❤

    ReplyDelete